Syetan udah lockdown, kenapa kita masih down?


Ramadhan: Setan Diborgol, Kok Masih Maksiat?
Ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila telah datang malam pertama bulan Ramadhan, diikatlah setan-setan dan jin-jin pembangkang, ditutuplah pintu-pintu neraka, tidak ada satu pun yang dibuka, dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak ada satu pun yang ditutup. Dan ada seorang penyeru yang berseru: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan, maju! Wahai orang yang menginginkan keburukan, berhentilah!’ Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka, dan itu terjadi setiap malam.” (HR. Tirmidzi no. 682, Ibnu Majah no. 1642, dan Ahmad no. 7857)

Wah, mantap nih! Setan-setan udah diikat, neraka ditutup, surga dibuka lebar-lebar. Tapi kok masih ada orang yang malas ibadah dan tetap bermaksiat? Nah, ini bisa jadi tanda bahwa kita perlu lebih banyak memperbaiki diri dari dalam! Tanpa pengaruh setan pun, kebiasaan kita tetap buruk, berarti ada yang salah dalam diri kita sendiri.

Maka dari itu, Ramadhan ini adalah kesempatan emas buat klarifikasi diri: “Selama ini saya maksiat karena setan atau karena diri sendiri?”


Titik-titik Setan dalam Hidup Kita

1. Setan di Kasur (Si Tukang Nyuruh Lanjut Tidur)
Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Setan mengikat tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan. Setiap ikatan setan membisikkan, ‘Malam masih panjang, tidurlah!’ Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, lepaslah satu ikatan lagi. Jika ia shalat, lepaslah seluruh ikatan itu, sehingga ia menjadi segar dan bersemangat. Jika tidak, ia menjadi malas dan lemah.” (HR. Bukhari no. 1142, Muslim no. 776)

Skenario setan di kasur itu klasik banget:

  • Bangun jam 2: “Ah, masih panjang, tidur dulu.”
  • Bangun jam 3: “Subuh masih lama, rebahan bentar.”
  • Bangun jam 5: “Lho, udah terang?! Ya udah, qadha aja…”

Kalau udah gini, jangan heran kalau hati jadi berat buat dengerin ceramah, ngaji, atau bahkan sekadar shalat berjamaah. Bukan karena ceramahnya membosankan, tapi karena kupingnya udah dikencingin setan! (HR. Bukhari no. 3270, Muslim no. 774). jangan kasih kendor yuk ah!


2. Setan di Rumah Tangga (Si Tukang Kompor)
Misi utama setan adalah merusak rumah tangga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah satu dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku berhasil memisahkan antara suami dan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya kepadanya dan berkata, ‘Sungguh hebat engkau!’” (HR. Muslim no. 2813)

Jadi kalau ada pasangan suami istri yang ngambekan, baperan, atau gampang drama, mungkin setan lagi tepuk tangan sambil bilang, “Lanjutkan, Nak!”

Solusinya? Ingat bahwa iblis nggak akan menang kalau kita pegang sunnah Rasulullah! Maka, betapapun ngeselinnya pasangan kita, jangan lupa tetap romantis! Sebesar apa pun cobaan dalam rumah tangga, tetaplah saling menyayangi! Jangan biarkan mereka berhasil memecah belah, buat setan gagal total yuk!


Setan dan Rasa Takut Miskin

Setan juga jago banget main di wilayah keuangan. Kata Allah:
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (bakhil). Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Makanya, kalau buat beli pulsa Rp100 ribu biasa aja, tapi buat infaq Rp50 ribu kok bisa berasa berat ya? Itu bukan akal sehat, tapi bisikan setan! Gimana cara ngalahinnya? Lawan! Enak aja..


Target Akhir: Jadi Mukhlasin!

Kata Iblis sendiri dalam Al-Qur’an:
“Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 39-40)

Mau jadi orang yang kebal digoda setan? Jadilah mukhlasin! Mereka adalah hamba yang benar-benar mengikhlaskan ibadahnya hanya untuk Allah, sehingga setan tidak memiliki celah untuk menggoda mereka. Mereka menjaga hati dari hawa nafsu, riya’, dan tujuan duniawi, sehingga amal mereka murni untuk Allah. Allah sendiri yang menjaga mereka dari godaan setan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hijr: 40). Keikhlasan ini bukan hanya sekadar niat, tetapi hasil dari perjuangan terus-menerus dalam menjaga hati dan ibadah. Itu artinya kita harus istiqomah dalam amal, nggak malas, dan nggak gampang futur. Semoga Ramadhan kali ini bisa menjadi ajang amal terbaik untuk menjadi mukhlasin.

Maka, jangan cuma kejar keutamaan Ramadhan di dalam Ramadhan, tapi juga latih diri di luar Ramadhan! Biar pas Ramadhan datang, kita udah siap tempur lawan hawa nafsu.

Jadi, jangan kasih kesempatan buat setan, baik di kasur, di rumah tangga, maupun di dompet. Bismillah, ayo jadi mukhlasin!


=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 25 Februari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 pemikiran pada “Syetan udah lockdown, kenapa kita masih down?

Tinggalkan komentar