Cemburu yang membuat Aisyah tertidur Ngos-ngosan…

Malam itu, keheningan menyelimuti rumah Rasulullah dan Aisyah. Angin malam berhembus perlahan, membawa ketenangan yang biasanya meninabobokan penghuni rumah kecil itu.

Jika disebut rumah, ia hanyalah sebuah kamar. Jika disebut kamar, namun memang seluas itulah rumah mereka. Tidak luas, tidak mewah, tetapi di dalamnya tersimpan cinta yang lebih lapang dari dunia. Dinding-dindingnya sederhana, namun dipenuhi keberkahan. Atapnya rendah, namun menaungi kehangatan wahyu. Di sinilah tempat seorang Nabi beristirahat, bercengkerama, mencintai, dan menuntun istrinya menuju cahaya robbani. Dalam ruang sempit ini, hati mereka bertaut dalam kasih yang tidak diukur dengan kemewahan, tetapi dengan ketaqwaan.

Malam itu, keheningan menyelimuti rumah kecil ini. Hanya ada desiran angin yang menyusup di antara celah-celah, seolah menjadi saksi dari sebuah rahasia yang akan terungkap. Aisyah terbaring dalam kehangatan malam, namun hatinya sebentar lagi akan diguncang oleh gelombang rasa yang tak terduga. Sebuah perjalanan jiwa akan dimulai—bukan di tempat yang jauh, tetapi dalam ruang batinnya sendiri.

Diam-diam, Rasulullah bangkit dengan perlahan. Aisyah sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Rasulullah mengambil pakaiannya dengan hati-hati, berusaha agar tidak membangunkan istrinya. Dengan langkah tenang, beliau menuju pintu dan keluar ke dalam gelapnya malam.

Namanya juga sudah sejiwa, Aisyah tiba-tiba sadar, membuka matanya, mendapati sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong blong. Hatinya berdegup lebih cepat. Kemana Rasulullah pergi di tengah malam seperti ini?

Di dalam dirinya, muncul kegelisahan. Ia segera bangkit, mengenakan pakaian dan menyusul keluar dengan langkah hati-hati jurus ninja mode on. Bayangan Rasulullah tampak di kejauhan, berjalan menuju arah pemakaman Baqi’. Aisyah mengikuti dari belakang, menjaga jarak agar tidak terlihat.

“Mengapa beliau pergi tanpa membangunkanku? Kemana tujuannya? Gawat, jangan-jangan mendatangi istri yang lain” pikirnya dalam hati.

Langkah-langkah Rasulullah begitu tenang, seakan beliau berbicara dengan seseorang. Namun, mata Aisyah tak melihat siapapun selain suaminya. Ia semakin penasaran, namun tetap diam dan terus mengintai.

Setibanya di Baqi’, Rasulullah berhenti dan mulai berdoa dengan penuh khusyuk. Suasana begitu hening, hanya terdengar angin yang berbisik di antara batu nisan. Aisyah menatap dari kejauhan, jantungnya masih berdegup kencang.

Setelah beberapa saat, Rasulullah berbalik dan mulai berjalan pulang. Aisyah tersentak. Ia harus segera kembali sebelum ketahuan. Dengan cepat, ia berlari kecil tergopoh-gopoh pulang ke rumah, berusaha masuk dan berbaring seakan tidak terjadi apa-apa.

Namun, tubuhnya masih terengah-engah. Nafasnya tak beraturan. Saat Rasulullah masuk, beliau memperhatikannya dan tersenyum lembut.

“Ya Aisy, mengapa tidurmu ngos-ngosan?

apakah engkau khawatir Allah dan Rasul-Nya akan berbuat zalim kepadamu?

Aisyah terdiam. Ia tidak mungkin mengelak, tapi hatinya dipenuhi rasa malu. Aisyah bangun

“Lagian.. Pergi gak bilang-bilang.. Kirain pergi ke istri yang lain, hehe“

Rasulullah tersenyum dengan penuh kelembutan. Lalu beliau menjelaskan, tadi Jibril memanggilku, mau masuk malu ada kamu sedang istirahat “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkanku untuk mendatangi penghuni Baqi’ dan memohonkan ampun untuk mereka..”

Hikmah

Dinamika rumah tangga adalah bagian dari kehidupan yang wajar, bahkan dalam keluarga Rasulullah ﷺ. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dalam kehidupan suami istri, Allah memberikan banyak rukhsoh (keringanan) dan tidak akan menghisab secara ketat emosi-emosi manusiawi seperti kecemburuan, sebagaimana yang pernah dialami oleh Hafshah dan Aisyah. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, perasaan tersebut dapat menimbulkan riak-riak yang tidak sehat dalam hubungan.

Allah Maha Toleran terhadap orang-orang beriman dalam urusan hati, selama tidak mengarah pada penyelewengan akhlak. Oleh karena itu, keluarga harus menjadikan QS. At-Tahrim ayat 6 sebagai agenda utama, yaitu menjaga diri dan keluarga dari api neraka dengan menanamkan nilai-nilai ketakwaan. Di sisi lain, QS. At-Taubah ayat 73 mengingatkan bahwa sikap tegas hanya diperuntukkan bagi orang-orang kafir dan munafik, bukan dalam hubungan rumah tangga. Hal ini mengajarkan pentingnya mengatur sikap, termasuk cara berbicara, agar tidak menimbulkan ketegangan yang dapat mengganggu keharmonisan pasangan.

Dengan memahami prinsip-prinsip ini, rumah tangga bisa menjadi ladang kebaikan dan menghasilkan generasi yang lebih kuat dalam keimanan.

Disclaimer:

Tulisan ini terinspirasi dari hadits-hadits sahih serta dinamika rumah tangga Rasulullah ﷺ. Beberapa elemen naratif, seperti dialog batin dan deskripsi suasana, ditambahkan sebagai bagian dari gaya tulisan untuk menghidupkan cerita tanpa mengubah makna pokok hadits.

Kisah ini bukan tafsir hadits dan tidak dimaksudkan sebagai rujukan hukum syar’i, melainkan sebagai sarana untuk lebih memahami hikmah di balik peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Rasulullah ﷺ dan Ummul Mukminin.

Tulisan ini juga terinspirasi dari kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Alhafidz, yang senantiasa mengajarkan kelembutan dalam memahami sirah dan hadits dengan penuh hikmah. Semoga kisah ini dapat menambah kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ dan membawa manfaat dalam kehidupan berumah tangga yang berlandaskan iman.

Hisyam Khoirul Azzam


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 pemikiran pada “Cemburu yang membuat Aisyah tertidur Ngos-ngosan…

Tinggalkan komentar