Inspirasi Kajian Gurunda pada penutupan MQAN Riayah Tarqiyah 4, nasehat setelah peserta ditayangkan dokumentasi kegiatan selama 4 hari
Ketika manusia hendak difoto atau direkam, ia otomatis merapikan diri, memperbaiki ucapan, bahkan kadang terlihat lebih shalih dari aslinya. Semua itu terjadi hanya karena ada kamera manusia yang menyorotnya. Kita begitu hati-hati agar tidak ada aib yang tertangkap lensa, karena malu bila gambar buruk itu tersebar. Namun mengapa rasa itu tidak muncul ketika kita berada di bawah pengawasan Rabbul ‘Alamin? Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada” (QS. Al-Hadid: 4). Nabi ﷺ juga bersabda dalam hadits sahih tentang ihsan, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari & Muslim). Ini artinya, kita selalu berada dalam “kamera” Allah dan malaikat yang mencatat setiap detail kehidupan. Allah berfirman, “Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat pengawas yang mulia dan mencatat; mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10–12). Tidak ada yang luput, baik saat sendirian maupun terang-terangan.
Bayangkan bila ada manusia yang memegang rekaman aib kita—amalan buruk, kata-kata tak pantas, kebiasaan tersembunyi—dan mengancam akan menyebarkannya. Kita pasti ketakutan dan sangat malu. Maka bagaimana mungkin kita tidak takut dan tidak malu kepada Allah, yang melihat dan merekam seluruh amal kita, lalu akan menayangkannya di hari kiamat? Allah berfirman, “Pada hari itu manusia diberitakan tentang setiap amal yang telah dikerjakannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8). Setiap detik hidup kita adalah dokumentasi yang kelak akan dipersaksikan. Karena itu, sangat aneh bila seseorang ingin tampil terbaik hanya di depan kamera manusia, namun tidak peduli bagaimana ia tampil di hadapan Allah.
Namun, di balik itu ada kabar gembira yang agung: Allah Maha Pengampun dan Maha Menutupi aib. Nabi ﷺ bersabda, “Allah seluruhnya adalah Maha Menutupi (Sittīr), dan Dia mencintai orang yang menutupi aib.” (HR. Abu Dawud, sahih). Dan Allah menjanjikan bahwa siapa yang bertaubat dengan jujur, maka dosa-dosanya dihapus seakan tidak pernah terjadi. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222). Maka siapa saja yang sadar bahwa hidupnya selalu dalam pengawasan Allah, dan ia pun kembali kepada-Nya dengan taubat yang sungguh-sungguh, maka Allah berhak menghapus seluruh “rekaman” buruknya.
Inilah hakikat muraqabah: perasaan yang hidup bahwa Allah selalu melihat kita. Jika kamera manusia saja membuat kita berubah menjadi lebih hati-hati, maka seharusnya pengawasan Allah lebih layak untuk menundukkan hati kita, memperbaiki amal-amal kita, dan menjaga kita dari pura-pura shalih di hadapan manusia. Semoga Allah menumbuhkan muraqabah dalam hati kita sehingga kita selalu menjaga diri, baik ketika berada di depan manusia maupun ketika seorang diri.
. : Hisyam Khoirul Azzam :.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
