Kekhawatiran Rasulullah ﷺ

Inspirasi Kajian Gurunda


Kekhawatiran Rasulullah ﷺ terhadap Umatnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syahwat-syahwat yang menyesatkan.”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan al-Hakim – sanadnya hasan).

Syahwat yang dimaksud adalah keinginan-keinginan yang membawa manusia keluar dari ketaatan kepada Allah ﷻ, khususnya syahwat di sekitar perut dan kemaluan. Inilah dua sumber kelemahan besar manusia.

Allah ﷻ berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23).

Potensi Besar Manusia Dikepung Tiga Hal

Manusia memiliki potensi besar untuk taat dan beramal shalih. Namun potensi ini dikepung oleh tiga musuh besar:

  1. Hawa nafsu → yang condong pada keburukan.
    • Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
      (QS. Yusuf: 53).
  2. Syetan → yang terus menggoda siang dan malam.
    • Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.”
      (QS. Fathir: 6).
  3. Lingkungan atau kegiatan menyesatkan → pergaulan, tontonan, dan aktivitas yang melalaikan dari mengingat Allah.

Bahaya Syahwat Perut dan Sekitar

  • Makanan dan minuman haram: Nabi ﷺ bersabda: “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas baginya.”
    (HR. At-Tirmidzi, hasan).
  • Syahwat seksual: kelemahan manusia sejak dahulu. Banyak yang terjerumus karena tidak mampu menahan diri. Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada fitnah wanita.”
    (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua syahwat ini seringkali membuat manusia kehilangan waktu produktif untuk beramal shalih, karena sibuk menuruti hawa nafsu.

Kondisi Gawat: “Akhsya ‘alaikum”

Ungkapan Rasulullah ﷺ “Akhsya ‘alaikum” menunjukkan peringatan keras. Bila manusia sudah terjerumus dalam syahwat, ia bisa buta mata dan hati.

Allah ﷻ berfirman:

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46).

Solusi Menghindari Syahwat yang Menyesatkan

  1. Menambah ilmu dengan ikhlas
    • Bukan sekadar gelar (S1, S2), tetapi ilmu yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah.
    • Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
      (QS. Fathir: 28).
  2. Meyakini hari akhir
    • Ilmu yang benar membuat seorang mukmin yakin dengan hari pembalasan sehingga ia menjaga dirinya dari syahwat.
  3. Membentengi diri dengan dzikir dan bacaan Al-Qur’an
    • Rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an akan ditinggalkan malaikat dan dihadiri syetan.
    • Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syetan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.”
      (HR. Muslim).
    • Bentengi diri dengan ayat kursi sebelum tidur. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa membacanya (ayat kursi) ketika hendak tidur, maka Allah akan selalu menjaganya dan syetan tidak akan mendekatinya sampai pagi.”
      (HR. Bukhari).
  4. Menjaga keluarga dengan ikatan hati dan komunitas yang baik
    • Doa Nabi Ibrahîm عليه السلام: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
      (QS. Al-Furqan: 74).
    • Lingkungan keluarga, guru, dan komunitas shalih akan menjaga hati dari kebosanan dan kehancuran rumah tangga akibat syahwat dunia.

Penutup

Syahwat memang fitrah manusia, tetapi bila tidak dijaga akan menjerumuskan ke dalam kesesatan. Maka, ilmu yang benar, dzikir yang terjaga, serta komunitas yang saling menasihati adalah benteng yang kokoh.



Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar