Inspirasi kajian Gurunda
1. Landasan Cinta dalam Menghafal Al-Qur’an
Dasar menghafal Al-Qur’an di Markaz Al-Qur’an adalah rasa cinta terhadap kalāmullāh. Tanpa cinta, segala aktivitas Al-Qur’an terasa berat, penuh alasan, dan mudah ditinggalkan.
Cinta memiliki dua makna:
- Menjadi hamba yang benar-benar mencintai Allah ﷻ.
- Berharap agar Allah ﷻ mencintai kita.
Allah ﷻ berfirman:
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Āli ‘Imrān: 31)
Artinya, cinta kepada Allah ﷻ tidak boleh bertepuk sebelah tangan. Kita ridha kepada Allah ﷻ, dan Allah ﷻ pun ridha kepada kita.
2. Cinta Mengalahkan Segala Kendala
Kalau dasarnya cinta, maka segala kendala yang sering diungkapkan manusia seperti usia, kesibukan, kesulitan, atau rasa malas—akan mudah teratasi.
Siapa yang mencintai Allah ﷻ, akan rela berkorban:
- Berkorban waktu
- Berkorban tenaga
- Berkorban harta
Allah ﷻ berfirman:
“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…”
(QS. al-Māidah: 54)
Mereka yang cinta akan sabar hadir dalam setiap momen Al-Qur’an. Betapa mudahnya mengikuti kajian online hari ini, tetapi jika tidak ada cinta, pasti hati tidak minat, tidak sabar, dan mudah mencari alasan.
3. Bukti Cinta: Sabar dan Berusaha
Orang yang mencintai Allah ﷻ akan tetap berusaha hadir dalam interaksi Al-Qur’an—baik dengan capaian minimal, sedang, ataupun maksimal.
Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ menunjukkan betapa pentingnya memohon cinta Allah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkan aku kepada cinta-Mu.”
(HR. Tirmidzi)
4. Kisah Umar Mukhtar: Guru Ngaji yang Jadi Panglima
Sejarah membuktikan, cinta kepada Al-Qur’an melahirkan kekuatan besar. Umar Mukhtar, yang dikenal masyarakatnya sebagai guru ngaji anak-anak, tetap mendidik generasi Qur’ani di tengah kesibukan jihad melawan penjajah Italia.
Beliau berkata kepada murid-muridnya:
“Kalian tahu mengapa orang Italia datang ke negeri ini? Mereka ingin menghapus Al-Qur’an. Kalau aku berhenti mengajar, berarti aku membantu mereka. Mengajar ini adalah bentuk perlawanan.”
Subḥānallāh, cinta yang tulus membuatnya tetap istiqamah mengajar Al-Qur’an meskipun sibuk memimpin jihad.
5. Cinta vs. Rasa Ragu
Seringkali manusia mengukur pertolongan Allah ﷻ dengan logika duniawi:
- “Katanya Al-Qur’an mudah, kok susah menghafalnya?”
- “Katanya kalau bertakwa diberi rezeki, kok masih miskin?”
- “Katanya Palestina akan ditolong, kok belum menang?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering muncul, padahal hakikatnya lebih mencerminkan keraguan terhadap janji Allah ﷻ.
Allah ﷻ telah mengingatkan:
“Sungguh, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari apa yang kamu hitung.”
(QS. al-Ḥajj: 47)
Kalau baru sebulan atau dua bulan menghafal, itu belum ada apa-apanya, ibarat baru beberapa detik di sisi Allah ﷻ. Kalau sudah 40 atau 50 tahun istiqamah dalam takwa, ketahuilah itu baru beberapa jam di sisi Allah ﷻ. Bahkan perjuangan Palestina yang sudah puluhan tahun pun, hakikatnya baru menit-menit singkat dalam perhitungan Allah ﷻ.
Maka jangan sekali-kali menggugat janji Allah ﷻ. Keraguan itu tanda lemahnya iman. Sebab Allah ﷻ tidak pernah menyalahi janji-Nya:
“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”
(QS. an-Nisā’: 122)
Tugas kita adalah sabar dalam proses, istiqamah dalam amal, dan yakin kepada janji Allah ﷻ. Menghafal Al-Qur’an bukanlah tentang seberapa cepat selesai, tetapi tentang seberapa dalam kita mendekat kepada Allah ﷻ melalui interaksi dengan kalām-Nya. Begitu pula rezeki dan pertolongan, semuanya pasti datang tepat pada waktunya sesuai hikmah Allah ﷻ.
6. Cinta Melahirkan Konsistensi
Orang kafir berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan kebencian. Contohnya, lirik mars bangsa Italia saat menjajah Libya yang terang-terangan berbunyi “hapuskan Al-Qur’an.” Hasilnya, hidup mereka sengsara.
Sebaliknya, orang beriman yang menumbuhkan cinta akan bahagia bersama Al-Qur’an.
Cinta sejati (ḥubb ṣādiq):
- Tidak mengenal bosan
- Melahirkan pengorbanan
- Menumbuhkan kebahagiaan
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)
7. 8T Bukti Cinta Menyeluruh pada Al-Qur’an
Cinta yang jujur melahirkan interaksi menyeluruh dengan Al-Qur’an, yang terangkum dalam 8T:
- Tilāwah
- Tahfidz
- Tadabbur
- Tafsīr
- Ta’alum
- Ta‘līm
- Tathbīq
- Tadawi
Allah ﷻ tidak akan bertanya apakah kita selesai 30 juz atau tidak, tetapi sejauh mana usaha dan interaksi kita dengan Al-Qur’an.
Betapa mulianya orang yang bercita-cita menghafal 30 juz, karena berarti lisannya terus dipenuhi dengan bacaan Al-Qur’an.
8. Penutup: Dasari dengan Cinta
Maka, dasari setiap kajian, hafalan, dan agenda Al-Qur’an dengan rasa cinta. Tidak perlu ada hukuman bagi yang tidak hadir. Biarlah yang hadir datang dengan cinta, bukan karena terpaksa.
Cinta kepada Allah ﷻ itulah yang akan menjaga kita istiqamah bersama Al-Qur’an, sebagaimana doa Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ يُحِبُّكَ وَيُحِبُّ مَنْ يُحِبُّكَ وَيُحِبُّ عَمَلًا يُقَرِّبُهُ إِلَيْكَ
Hisyam Khoirul Azzam
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
