Perayaan atau Pelupaan?

Setiap 17 Agustus rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan. Kibaran bendera, lomba-lomba, karnaval, hingga hiburan jalanan seakan menjadi pemandangan wajib. Namun, pernahkah kita bertanya: kemerdekaan seperti apa yang kita rayakan?

Sejarah mencatat, negeri ini berdiri bukan dengan hura-hura, bukan dengan joget-joget, melainkan dengan darah, nyawa, dan takbir para pejuang Muslim. Palestina adalah negeri pertama yang mengakui kemerdekaan kita, karena ukhuwah Islamiyah yang begitu kuat.

Kyai Su’ud AlHafidz pernah berkisah, kakeknya bersama ratusan santri naik truk dari pesantren daerah Pati menuju Surabaya. Mereka berangkat dengan tekad siap mati syahid. Di jalan, mereka hanya berbekal doa, takbir, dan keyakinan bahwa mati di jalan Allah lebih mulia daripada hidup dijajah.

Maka tidak heran, semboyan yang paling menggema kala itu adalah “Allahu Akbar!”—bukan yel-yel kosong, bukan sorakan dangdut, apalagi goyangan tanpa adab.

Namun, betapa menyedihkan hari ini.
Bangsa yang dulu rela menukar nyawanya demi kita, kini tidak sedikit disaksikan keturunannya merayakan kemerdekaan dengan joget, pesta, dan kelalaian.

Apakah ini wajah kemerdekaan? Ataukah ini wajah perbudakan baru—bukan oleh Belanda, bukan oleh Jepang, melainkan oleh nafsu, setan, dan hedonisme modern?

Allah ﷻ mengingatkan:

> “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah jadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. Al-Hashr: 19)

Bukankah hari ini banyak yang lupa? Lupa kepada Allah, lupa ibadah, lupa syukur, lupa akhlak. Akhirnya, mereka lupa jati dirinya sebagai Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sungguh, dunia itu manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap fitnah wanita.”
(HR. Muslim no. 2742)

Apakah pantas kita merdeka dari penjajahan Belanda, tetapi justru terjajah oleh dunia? Apakah pantas kita mengaku merdeka, tetapi hidup tanpa kendali aturan dari Alloh?

Merdeka itu bukan hanya bebas dari penjajah kan? Tentu kita sepakat bahwa Merdeka sejati adalah bebas dari belenggu maksiat dan tunduk hanya kepada Alloh.

Maka marilah kita merenung:
Jika para syuhada pejuang negeri ini dibangkitkan hari ini, lalu menyaksikan anak cucu mereka joget-joget setengah telanjang di jalanan atas nama “kemerdekaan”—apakah mereka akan bahagia, ataukah mereka menangis kecewa?

Minimal, mari kita hadiahkan doa untuk mereka.
Al-Fatihah untuk seluruh pejuang Muslim yang telah mendahului kita.

Dan lebih dari itu, mari kita jaga amanah kemerdekaan ini dengan iman, amal shalih, dan syukur kepada Allah ﷻ.

Karena hakikatnya, jika bangsa ini jauh dari Allah, maka itu bukanlah kemerdekaan. Itu hanyalah penjajahan dalam wajah baru.

—————

Pojok Kalisari, 16 Agustus 2025

Hisyam Khoirul Azzam

HUTRI80 #BersatuBerdaulat #RakyatSejahtera #IndonesiaMaju #MerdekaUntukAllah #Refleksi80Tahun


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar