“Ketika ‘Adzin’ Meledakkan Kesadaran“
Dalam QS Al-Hajj ayat 27, Allah berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan dengan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj: 27)
Satu kata pertama yang menggetarkan jiwa dari ayat ini adalah: وَأَذِّنْ (wa adzdzin) — serukanlah! Umumkan! Kumandangkan!
Bayangkan, hanya dengan satu kata “adzan”, langit spiritual terbuka. Ia menjadi gelombang awal yang meledak — big bang — dalam semesta jiwa manusia. Suara adzan bukan hanya getaran pita suara, ia adalah frekuensi langit yang memanggil manusia kembali ke fitrahnya.
Dan betapa menyedihkannya jika panggilan ini tak diindahkan.
Mengapa Kita Tak Mendengar?
Sebagian dari kita mungkin pernah merasa, “Kenapa hidayah tak kunjung datang? Ilmu terasa jauh, hati tetap keras?”
Mungkin karena kita mematikan mode penerima.
Kalau hati kita seperti radio, maka sinyal dari langit sudah siaran 24 jam. Tapi gimana bisa dapet siaran kalau radionya off, atau frekuensinya nyangkut di “Channel Duniawi 88,xx FM — hanya musik, gosip, dan kepentingan pribadi”?
Seringkali bukan karena panggilan Allah tak terdengar, tapi karena kita yang tak mau mendengar.
Padahal Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim `alayhis salam untuk menyerukan haji — di tengah padang tandus, kepada manusia yang belum tentu lahir saat itu! Nabi Ibrahim pun sempat “protes”:
“Ya Allah, bagaimana mungkin suara ini akan sampai ke seluruh manusia?”
Allah menjawab, “Tugasmu menyerukan, biar Aku yang menyampaikan.”
Inilah prinsip penting dakwah: tugas kita menyeru, bukan menjamin hasil.
Tak perlu minder kalau suara kita sumbang, atau hanya bisa azan seperti orang ngobrol. Bahkan itu pun sudah cukup jika niatnya lillahi ta’ala.
Mimpi Adzan: Sebuah Isyarat
Diriwayatkan dari sebagian ulama tafsir mimpi, bahwa seseorang datang dan menceritakan mimpinya: ia bermimpi sedang mengumandangkan adzan. Maka sang ulama berkata, “Bersiaplah, engkau akan segera berhaji.”
MasyaAllah… mimpi adzan bisa menjadi isyarat panggilan menuju Baitullah.
Tapi mari kita refleksi:
Bagaimana bisa bermimpi adzan…
kalau rasa ingin adzan saja tidak pernah muncul?
Bahkan ketika dipersilakan pun, alasan kita berbaris seperti peserta lomba lari:
“Tenggorokan lagi serak, ustadz…”
“Suara ana kurang merdu, takut cempreng…”
“Nanti kalau salah baca gimana?”
Ya salam… seolah-olah untuk adzan itu harus jadi alumni qori internasional.
Padahal, ada di antara pendahulu kita yang semangatnya luar biasa. Tidak peduli suara pas-pasan, lagunya seperti kasir minimarket: flat, lurus, to the point. Tapi jika tak ada muadzin, ia langsung berdiri, adzan dengan mantap.
Itulah orang-orang yang paham makna panggilan. Bukan sekadar suara ke masjid, tapi ajakan cinta dari langit.
Respon Kita: “Labbaik!”
Sikap terbaik saat mendengar panggilan Allah adalah berkata seperti jamaah haji:
“Labbaik Allahumma labbaik!”
Aku datang ya Allah, aku datang…
Bahkan dalam keseharian, kita bisa respon dengan lebih romantis:
“Siap, dengan senang hati, ya Rabb…”
Respon ini bukan cuma jawaban, tapi bukti cinta dan tunduk.
Orang-orang yang bahagia bukan yang banyak hartanya, tapi yang ringan langkahnya menuju masjid.
Yang tersenyum ketika mendengar adzan, bukan mengeluh:
“Haduuh, udah adzan aja…”
“Belum wudhu lagi…”
“Baru mulai nonton!”
Astaghfirullah. Panggilan sayang dari Pencipta, kok disambut dengan keluhan?
Penutup: Saatnya Menyambut Panggilan
Bro n sis…, mari kita resapi, hayati, dan responi.
Jadikan ia big bang di hati kita. Dentuman awal perubahan.
Sebelum menjawab panggilan ke tanah suci untuk berkata “labbaik”.
Mulailah dari musholla depan rumah.
Kalau belum bisa adzan, minimal datanglah ketika adzan berkumandang.
Kalau belum bisa sempurna, minimal mulai. Karena yang bernilai sesungguhnya adalah langkah pertama kita… bukan kecepatan mencapai finish.
Semoga kita semua tergolong hamba-hamba yang mampu menjawab panggilan Allah, bukan yang mendiamkan.
Bukan yang lebih memilih suara notifikasi chat daripada panggilan ilahi.
Labbaik ya Rabb… kami datang, dengan hati yang ingin semakin baik.
“Siapa yang mendengar adzan lalu tidak menjawabnya, sungguh dia telah berpaling dari kebaikan yang besar.” (HR. Abu Dawud)
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
