Antara “Yurīdu” dan “Yasyā’u”
Dalam memahami kehendak Allah (masyi’ah) dalam Al-Qur’an, para ulama tafsir menemukan dua bentuk kata yang digunakan: “yurīdu” (يُرِيدُ) dan “yasyā’u” (يَشَاءُ). Keduanya sama-sama diterjemahkan sebagai “Allah menghendaki”, namun maknanya memiliki perbedaan yang penting. Perbedaan ini membawa konsekuensi besar terhadap bagaimana manusia memahami takdir, kebebasan memilih, serta tanggung jawab di hadapan syariat.
Para ulama, di antaranya Imam Al-Raghib al-Ashfahani dan Imam Ibnul Qayyim, mencermati bahwa:
- Ketika Allah menggunakan kata “yurīdu”, sering kali diiringi dengan perintah syariat, di mana manusia diberi kemampuan memilih.
- Sementara saat Allah menggunakan kata “yasyā’u”, maka hal itu menyangkut kehendak Allah yang pasti terjadi, tanpa campur tangan atau pilihan manusia.
Mari kita bahas lebih rinci, dengan ayat dan penjelasannya.
1. “Yurīdu”: Kehendak yang Berkaitan dengan Perintah dan Pilihan
Kata “yurīdu” berasal dari kata irādah (إِرَادَة), yang menunjuk pada kehendak Allah dalam wilayah syariat. Dalam konteks ini, Allah menjelaskan apa yang dikehendaki-Nya secara hukum, namun Allah memberi manusia pilihan untuk menaati atau mengingkarinya.
Contoh Ayat:
يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًا
“Allah menghendaki (yurīdu) untuk meringankan beban kalian, dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa: 28)
Dalam ayat ini, kehendak Allah adalah meringankan beban manusia dengan memberikan syariat yang mudah. Namun, manusia tetap memiliki kemampuan untuk mematuhi atau menolak syariat itu. Maka ini masuk dalam kehendak Allah secara syar’i, bukan kauni takdiri.
Contoh lain:
يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ
“Allah menghendaki (yurīdu) menjelaskan kepada kalian, membimbing kalian kepada jalan orang-orang sebelum kalian, dan menerima tobat kalian…”
(QS. An-Nisa: 26)
Allah berkehendak memberi hidayah, namun masih ada unsur pilihan manusia di dalamnya. Maka, kehendak ini tidak bersifat pasti, tapi tergantung respons manusia.
2. “Yasyā’u”: Kehendak yang Bersifat Mutlak dan Pasti Terjadi
Berbeda dengan “yurīdu”, kata “yasyā’u” (يَشَاءُ) berasal dari masyi’ah (مشيئة), yang menunjuk pada kehendak mutlak Allah dalam urusan penciptaan, takdir, dan kejadian-kejadian besar, yang tidak bisa diubah oleh manusia. Manusia tidak diberi pilihan dalam urusan ini.
Contoh Ayat:
إِنَّ ٱللَّهَ يُدْخِلُ مَن يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَٱلظَّـٰلِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Sesungguhnya Allah memasukkan siapa yang Dia kehendaki (yasyā’u) ke dalam rahmat-Nya, dan bagi orang-orang zalim, disediakan azab yang pedih.”
(QS. Al-Insan: 31)
Di sini, masuknya seseorang dalam rahmat Allah tidak tergantung pilihan manusia semata, tetapi pada masyi’ah Allah yang mutlak. Maka ini termasuk dalam kehendak Allah yang pasti terjadi.
Contoh lain:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki (yasyā’u).”
(QS. Al-Qasas: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah taufik adalah murni dari kehendak Allah yang tak bisa dicampuri oleh siapa pun, termasuk Nabi Muhammad sendiri.
3. Perbandingan Yurīdu dan Yasyā’u dalam Makna dan Dampaknya
Secara makna, “yurīdu” dan “yasyā’u” sama-sama berarti “Allah menghendaki”. Namun, keduanya merujuk pada dua jenis kehendak yang berbeda dan berdampak sangat besar pada peran manusia dalam peristiwa tersebut.
“Yurīdu” digunakan untuk menunjukkan kehendak Allah dalam urusan syariat, seperti perintah untuk taat, larangan maksiat, dan ajakan untuk bertaubat. Dalam konteks ini, manusia diberi pilihan untuk menaati atau mengingkarinya. Allah menjelaskan keinginan-Nya agar manusia mengikuti jalan yang benar, namun tidak memaksakan. Maka kehendak ini bisa terjadi atau tidak, tergantung pada respon manusia. Misalnya, Allah menghendaki tobat hamba-Nya, namun banyak orang yang tidak bertobat.
Sementara itu, “yasyā’u” merujuk pada kehendak Allah yang bersifat takdir dan penciptaan (kauniyah). Ini mencakup perkara-perkara yang pasti terjadi sesuai kehendak Allah, seperti ajal, rezeki, tempat lahir, jenis kelamin, hingga siapa yang mendapat hidayah taufik. Dalam hal ini, manusia tidak memiliki pilihan sedikit pun. Tidak ada siapa pun yang bisa menolak atau mengubah apa yang Allah kehendaki dengan “yasyā’u”. Jika Allah berkehendak memberi hidayah atau mencabutnya, itu pasti terjadi, dan tidak bisa dicegah oleh siapa pun.
Maka secara sederhana dapat disimpulkan:
- “Yurīdu”: berkaitan dengan syariat, bisa dipilih, bisa ditolak.
- “Yasyā’u”: berkaitan dengan takdir, pasti terjadi, tanpa pilihan manusia.
Perbedaan ini bukan hanya bahasa, tapi menjadi fondasi penting dalam memahami keseimbangan antara ikhtiar manusia dan kuasa Allah.
4. Penjelasan Ulama
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan:
“Kehendak Allah terbagi dua: masyi’ah kauniyah dan masyi’ah syar’iyah. Yang pertama (kauniyah) pasti terjadi walau Allah tidak ridha, seperti kekufuran dan maksiat. Yang kedua (syar’iyah) belum tentu terjadi walau Allah menyukainya, seperti keimanan dan ketaatan.”
Dengan kata lain, yasyā’u mewakili kehendak kauniyah, dan yurīdu mewakili kehendak syar’iyah.
5. Refleksi dan Hikmah
- Saat Allah “yurīdu” kebaikan untuk kita, seperti taubat dan petunjuk, kita diminta merespons dengan usaha dan pilihan.
- Namun saat Allah “yasyā’u”, kita harus tunduk dan pasrah, karena kehendak-Nya pasti terjadi. Ini menumbuhkan tawakal dan kerendahan hati.
- Perbedaan ini mengajarkan kita aktif dalam syariat, dan pasrah dalam takdir. Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Penutup
Memahami perbedaan antara yurīdu dan yasyā’u memberikan cahaya dalam menyikapi hidup: bahwa dalam urusan syariat, kita harus berjuang dan memilih yang benar, namun dalam urusan takdir, kita harus ridha dan menerima. Inilah rahasia harmoni antara usaha manusia dan kehendak Ilahi.
Hisyam Khoirul Azzam
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
