
Pohon jambu air itu berdiri teduh, menjulang damai di halaman Masjid Markaz. Daunnya rimbun, buahnya sesekali jatuh dan dipungut anak-anak. Tapi bukan buahnya yang akan menjadi kisah inspiratif. Bukan pula pohon rambutan. Ada sesuatu yang lebih dalam, yang hanya bisa dibaca oleh hati yang bertarbiyah—daun-daunnya yang gugur.
Setiap menit, daun-daun jambu dan rambutan melayang jatuh ke tanah. Kadang sehelai, kadang se RT. Mereka menyelimuti halaman masjid seperti pesan diam dari langit. Seperti masyarakat yang tak pernah sepi dari problematika. Seperti ummat yang tak luput dari kekacauan kecil dan besar.

“Pernah nggak antum berpikir,” kata Ustadz Achmar dalam sebuah majelis, “daun-daun itu adalah tarbiyah, daun-daun itu adalah amanah dari Allah. Setiap yang jatuh, menunggu siapa yang peduli. Itulah latihan dasar seorang dai—peduli.”
Santri-santri mendengarkan. Beberapa mencatat. Beberapa menguap.
“Ketahuilah, keistimewaan bukan cuma kecerdasan, Tapi siapa yang mampu memikul beban ummat, sekecil apapun, itulah yang Allah pilih untuk dakwah.”
“Hari ini antum menyapu daun. Besok, antum menyapu kedzoliman dari tengah masyarakat. Karena da’i sejati lahir dari yang paling peduli.”

Dalam hidup ini, banyak “daun gugur” yang mungkin kita anggap remeh. Tapi bagi hati yang bertarbiyah, tak ada hal kecil dalam dakwah. Karena dari hal kecil yang terus dirawat, Allah mencetak hamba-Nya menjadi besar. Dan siapa tahu, dari tangan yang memungut daun hari ini, lahirlah gerakan besar membersihkan dunia dari kemaksiatan.
Hisyam Khoir Azzam
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
