Berdoa dan Takdir


Takdir sering kali menjadi bahasan yang membingungkan banyak orang. Ada yang merasa tidak perlu berusaha karena segalanya sudah ditentukan, dan ada pula yang berpikir bahwa manusia sepenuhnya menentukan nasibnya sendiri. Padahal, dalam Islam, pemahaman terhadap takdir harus didasari keimanan yang utuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Takdir Bisa Berubah dengan Doa?

Sebagian orang bertanya: Apakah takdir bisa berubah? Jawabannya, bisa, dengan izin Allah. Dalam hadis disebutkan bahwa salah satu yang mampu mengubah takdir adalah doa. Bahkan jika seseorang ditulis sebagai penghuni neraka (ahlin nar), dengan izin Allah melalui doa dan usaha yang sungguh-sungguh, catatan itu bisa berubah.

Namun, perlu dipahami bahwa perubahan ini bukan berarti membatalkan ketetapan Allah secara mutlak, melainkan bagian dari kehendak-Nya yang telah memperhitungkan doa sebagai sebab. Allah sendiri berfirman bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan berbuat sesuai kehendak-Nya: “Inna rabbaka fa‘alu limaa yuriid”.

Jalan Tengah Ahlus Sunnah dalam Memahami Takdir

Dalam sejarah umat Islam, muncul dua kutub ekstrem dalam memahami takdir:

  1. Ekstrem Kanan: Menganggap manusia sepenuhnya bebas, dan takdir tidak relevan. Segalanya ditentukan oleh kehendak pribadi semata.
  2. Ekstrem Kiri: Menganggap manusia tidak memiliki kehendak sama sekali; ia hanya seperti kapas yang tertiup angin.

Kedua pandangan ini ditolak oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Islam menempuh jalan tengah: manusia memiliki kehendak, tapi kehendak itu tetap berada dalam kehendak Allah. Kita diperintahkan untuk berusaha, berdoa, dan bertawakal. Jika hasilnya sesuai harapan, itulah takdir. Jika berbeda, maka itu pun takdir, dan kita dituntut untuk ridha dan husnuzhan kepada Allah.

Jangan Putus Asa Karena Takdir

Takdir adalah perkara ghaib, tidak diketahui oleh siapa pun. Karena itu, manusia dilarang menyerah sebelum berusaha. Pernyataan seperti, “Saya memang ditakdirkan tidak bisa menghafal Al-Qur’an,” adalah bentuk su’uzhan kepada Allah dan pemahaman takdir yang salah.

Allah tidak menakdirkan seseorang menjadi ahli neraka tanpa keadilan. Lihatlah bagaimana Rasulullah tetap berdakwah kepada Abu Lahab, meski Allah telah menurunkan ayat tentang nasib akhir Abu Lahab. Rasulullah tidak pernah menyerah, selama masih ada peluang usaha.

Husnuzhan kepada Takdir Allah

Salah satu kunci memahami takdir adalah husnuzhan—berbaik sangka kepada Allah. Yakinlah bahwa segala ketentuan-Nya adalah yang terbaik. Bahkan jika kita telah berdoa dan berusaha untuk sehat, namun tetap ditimpa sakit, tetaplah husnuzhan. Mungkin Allah sedang mengangkat derajat kita melalui sakit itu. Jika kita sudah berjuang menciptakan rumah tangga sakinah, tapi akhirnya penuh ujian, yakinlah bahwa itu bagian dari skenario terbaik dari-Nya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 11, memperingatkan orang-orang yang menyembah Allah “di tepi jurang” (ala harf), yaitu orang-orang yang imannya tergantung keadaan. Saat mendapat nikmat, mereka beriman. Tapi saat mendapat ujian, mereka berpaling. Ini bukanlah iman yang sejati.

Kesimpulan: Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah

Beriman kepada takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya, iman kepada takdir menuntut kita untuk berikhtiar sebaik-baiknya, sambil berserah diri kepada keputusan Allah. Rasulullah bersabda bahwa tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Maka, berdoalah dengan yakin, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan husnuzhanlah terhadap apa pun hasilnya. Sebab, takdir Allah selalu penuh hikmah.

Allah berfirman:

“Maa yaf’aluLlaahu bi ‘adzaabikum in syakartum wa aamantum. Wa kaanaLlaahu syaakiran ‘aliiman.”
(“Mengapa Allah akan mengazab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman?”) [QS. An-Nisa: 147]

Wallahu a’lam.

======================
Hisyam Khoirul Azzam
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar