Dari Mana Memulai Dakwah?

Bagi siapa pun yang telah merasakan manisnya iman dan indahnya dekat dengan Allah, tentu akan muncul dorongan kuat untuk mengajak orang lain merasakan hal yang sama. Ibarat seseorang yang telah menemukan mata air di tengah padang tandus, ia tentu tidak ingin hanya menikmatinya sendiri—ia ingin membagikan kesegaran itu kepada orang lain.

Namun, muncul pertanyaan: Dari mana kita memulai?

Untuk menjawabnya, mari kita kembali membuka lembaran sirah Nabawiyah, menelusuri bagaimana Rasulullah SAW memulai dakwahnya. Ini bukan sekadar napak tilas sejarah, tetapi jalan terang bagi siapa pun yang ingin mengikuti jejak kenabian dalam menyampaikan kebenaran.


1. Keprihatinan Terhadap Lingkungan: Titik Awal Seorang Da’i

Sebelum menerima wahyu, Rasulullah SAW telah menunjukkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi masyarakat Makkah yang penuh dengan kemaksiatan, kezaliman, dan penyembahan berhala. Beliau sering menyendiri di Gua Hira, merenung, mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kemaksiatan.

Ini menunjukkan bahwa dakwah bermula dari keprihatinan hati yang tajam terhadap realita umat.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 128)

Jika hari ini kita merasa sedih melihat umat jauh dari Alquran, rusaknya akhlak generasi muda, atau maraknya kemunafikan dalam masyarakat, maka berarti kita berada di titik start yang sama dengan Rasulullah SAW: keprihatinan yang mendalam.


2. Perintah Membaca: Membangun Ilmu Sebelum Berdakwah

Langkah pertama dakwah dimulai dengan turunnya wahyu pertama:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)

Ayat ini menjadi petunjuk awal bahwa seorang da’i harus memiliki ilmu. Meskipun Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca secara konvensional, perintah “Iqra’” menunjukkan bahwa dakwah harus diawali dengan pembelajaran, keterbukaan terhadap ilmu, dan kedekatan dengan wahyu Allah.

Menariknya, Jibril mendekap Rasulullah dan “memaksa” beliau membaca sebanyak tiga kali. Ini pelajaran besar bagi kita: membaca (belajar) kadang memang berat dan harus dipaksa, namun menjadi fondasi utama untuk berdakwah dengan benar.


3. Bangkitlah! Berdakwahlah!

Setelah proses pembelajaran (Al-‘Alaq), turunlah wahyu berikutnya:

“Wahai orang yang berselimut, bangkitlah lalu berilah peringatan!”
(QS. Al-Muddatsir: 1-2)

Ini adalah seruan untuk bergerak. Tidak cukup hanya memendam keprihatinan dan memperkaya diri dengan ilmu, seorang da’i harus bangkit, tampil, dan menyuarakan kebenaran. Namun, Allah juga memberikan tuntunan agar dakwah tidak sekadar menyampaikan, melainkan juga menjaga penampilan dan akhlak:

“Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.”
(QS. Al-Muddatsir: 4-5)

Dai yang baik adalah yang berpenampilan rapi dan berakhlak mulia. Bukan berarti tampil mewah, tetapi menunjukkan wibawa, kebersihan, dan kesantunan yang menjadi cermin ajaran Islam.


4. Qiyamullail: Fondasi Spiritual Seorang Da’i

Setelah bangkit berdakwah, maka turunnya surat Al-Muzzammil menunjukkan bahwa dakwah butuh bekal spiritual. Bukan kekuatan retorika atau logika semata, melainkan kekuatan ruhani yang lahir dari kedekatan dengan Allah.

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya).”
(QS. Al-Muzzammil: 1-2)

Qiyamullail bukan hanya ibadah, tetapi juga tarbiyah langsung dari Allah kepada Rasulullah dan para sahabat. Bahkan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa qiyamullail diwajibkan selama setahun penuh sebelum akhirnya diringankan.

Ini menjadi pelajaran: kalau kita ingin berdakwah mengikuti Nabi dan para sahabat, cobalah diawali dengan qiyam satu tahun penuh, syukur-syukur panjang-panjang, setelah itu rasakan nikmatnya dakwah, baik dalam keadaan lapang maupun terhimpit, maka kenikmatan batinlah yang akan kita rasakan. Coba dah…


Penutup: Dakwah Butuh Ilmu, Akhlak, dan Ibadah

Mari kita ambil tiga tahapan awal dakwah Rasulullah SAW sebagai “roadmap” dakwah kita hari ini:

  1. Rasa prihatin terhadap kondisi umat (seperti Rasulullah di Gua Hira).
  2. Membangun ilmu dan kedekatan dengan wahyu (Iqra’).
  3. Berani tampil berdakwah dengan akhlak dan penampilan terbaik (Al-Muddatsir).
  4. Menjaga spiritualitas dengan qiyamullail (Al-Muzzammil).

Semoga kita mampu meniti jalan dakwah ini dengan istiqamah, tidak mudah baper, dan selalu berada dalam kemuliaan yang Allah berikan kepada para pewaris Nabi.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’”
(QS. Fussilat: 33)


Hisyam Khoirul Azzam


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar