Wasiat Rosul untuk Rumah Tangga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan banyak bimbingan tentang kehidupan rumah tangga. Salah satu pesan penting beliau adalah larangan bagi seorang suami membenci istrinya hanya karena satu sisi kekurangannya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, maka bisa jadi ia menyukai akhlak yang lainnya.”
(HR. Muslim)

Hadits ini mengandung pelajaran besar: bahwa pasangan, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Tak seorang pun sempurna. Suami maupun istri harus belajar mengakui kenyataan ini dan tidak membiarkan satu sisi negatif menghapus semua kebaikan lainnya.

Mengapa Rasulullah Menekankan Larangan Membenci Istri?

Sebab secara fitrah, wanita yang beriman dan menjaga kesuciannya adalah anugerah besar dalam hidup seorang laki-laki. Allah jadikan para istri sebagai penjaga kesucian diri dan akhlak suaminya. Maka ketika seorang suami justru berbalik membenci istrinya karena satu kekurangan, padahal istrinya taat kepada Allah dan menjaga dirinya, itu menunjukkan hati yang tidak bersih.

Kebencian yang berlebihan seringkali tidak adil. Ia melupakan seluruh kebaikan pasangan dan hanya fokus pada kekurangannya. Padahal, mungkin kekurangan itu hanyalah 10% dari keseluruhan dirinya, sementara 90% lainnya adalah kelebihan dan kebaikan.

Game Sederhana untuk Mengukur Hati

Ada sebuah latihan sederhana yang bisa dilakukan: ambil selembar kertas, lalu tulislah semua kelebihan pasanganmu dalam waktu satu menit. Hasilnya akan menunjukkan kondisi hatimu. Jika dalam satu menit kamu bisa menuliskan 15–20 kebaikan pasanganmu, berarti kamu terbiasa memandang positif. Tapi jika kamu hanya bisa menulis dua atau tiga, bahkan bingung ingin menulis apa, maka itu bisa menjadi pertanda adanya penyakit hati.

Orang yang berhati bersih (qalbun salim) akan mudah melihat kebaikan orang lain, apalagi terhadap pasangan yang telah Allah amanahkan kepadanya, yang menjadi ibu dari anak-anaknya, dan yang setia bersamanya dalam suka dan duka.

Kesabaran Seorang Suami Bisa Membekas Fisiknya

Kadang, kesabaran seorang suami terhadap kekurangan istrinya begitu besar hingga berdampak pada fisiknya. Rasulullah bahkan berdoa:

“Ya Allah, lindungilah aku dari istri yang membuat uban tumbuh sebelum waktunya.”

Tentu bukan berarti setiap uban berasal dari tekanan rumah tangga. Namun bisa jadi, salah satu penyebab seorang suami cepat beruban adalah karena kondisi emosional yang terus-menerus tertekan di rumah. Ia mungkin tetap sabar, tidak berselingkuh, tidak menceraikan, tidak melakukan kekerasan, tapi kesabaran itu menguras energinya.

Di sisi lain, ia pun terus berdoa agar Allah memperbaiki karakter istrinya, khususnya jika itu menyangkut ujian dari Allah seperti penyakit atau gangguan kejiwaan. Di sinilah keimanan benar-benar diuji.

Rasulullah: Wasiat Berbuat Baik kepada Para Istri

Wasiat Rasulullah kepada para suami untuk memperlakukan istri dengan baik disampaikan dalam momen paling penting: saat haji Wada’, khutbah perpisahan beliau kepada umat. Di sana beliau bersabda:

“Berwasiatlah baik-baik terhadap para istri, karena sesungguhnya mereka itu adalah seperti tawanan di sisi kalian.”
(HR. Tirmidzi)

Kata ‘awan yang digunakan Rasulullah berarti “tahanan”, tapi bukan tawanan karena kalah perang (asir), melainkan wanita yang menyerahkan dirinya secara sukarela kepada suami dalam ikatan pernikahan. Ia tunduk bukan karena terpaksa, tapi karena iman dan loyalitas. Maka, Rasulullah tidak membenarkan suami memperlakukan istri secara kasar, merendahkan, apalagi menyakitinya.

Jika Terjadi Pelanggaran Berat

Namun, Islam juga tidak menutup mata terhadap pelanggaran berat seperti perselingkuhan. Jika istri berselingkuh, maka suami boleh melakukan tahapan-tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. An-Nisa: 34): menasihati, memisahkan tempat tidur, hingga pukulan yang tidak menyakitkan sebagai bentuk teguran.

Namun perlu dicatat, memukul wajah dilarang. Dan jika istri sudah berubah menjadi baik, jangan lagi diungkit-ungkit kesalahannya.

Hak dan Kewajiban Suami-Istri

Rasulullah mengingatkan bahwa setiap suami wajib memberikan hak-hak istrinya: makanan, pakaian, tempat tinggal (sandang, pangan, papan). Meskipun kata papan tidak disebutkan secara eksplisit, hal itu sudah termasuk dalam perintah umum berbuat baik. Bahkan bisa jadi tidak disebutkan karena Rasulullah memahami bahwa urusan tempat tinggal kadang membutuhkan dukungan sistemik dari negara.

Ibn Abbas Radhiyallahu ‘Anhu pun pernah berkata, “Aku berhias untuk istriku sebagaimana aku ingin dia berhias untukku.” Menunjukkan bahwa akhlak baik dalam rumah tangga berlaku dua arah: suami-istri sama-sama menjaga penampilan, ucapan, dan pelayanan satu sama lain.


Penutup: Rumah Tangga adalah Ladang Iman dan Akhlak

Rumah tangga adalah tempat pengamalan iman dan akhlak. Di sinilah hadits “Jangan membenci pasangan karena satu kekurangannya” diuji setiap hari. Suami harus bersabar. Istri harus tawadhu. Keduanya saling menutupi, bukan saling membuka aib. Saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

Karena itu, carilah ilmu tentang rumah tangga, dan jadikan wasiat Rasulullah sebagai pegangan. Sebab ketika rumah tangga dijalani dengan salamatul qalb, kebersihan hati, maka kekurangan pasangan bukan alasan untuk membenci, melainkan pintu untuk belajar mencintai dengan lebih tulus.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar