Ringan sih…

Tapi berat…

Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar…

Kalimat-kalimat ini sederhana.
Namun di hadapan Allah, nilainya luar biasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalimat: Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar adalah kalimat yang paling dicintai Allah. Kalimat itu ringan di lisan namun berat di timbangan amal.”
(HR. Muslim no. 2694)

Mari kita bandingkan…

  • Infaq, butuh harta. Tak bisa semua orang melakukannya setiap waktu.
  • Haji dan umrah, perlu biaya besar, fisik yang kuat, dan antrean panjang. Tak semua orang mampu.
  • Shalat berjamaah, harus hadir ke masjid, menyisihkan waktu, bersabar menunggu iqamah.
  • Tilawah Alqur’an, perlu bisa membaca dengan benar. Banyak yang belum bisa.
  • Menghafal Alqur’an, lebih berat lagi. Perlu muraja’ah dan guru yang membimbing.
  • Puasa, menahan lapar, haus, dan syahwat. Ada kondisi fisik tertentu yang jadi uzur.
  • Menuntut ilmu, butuh waktu khusus, kesabaran, kadang meninggalkan pekerjaan.

Tapi dzikir ini?

Tak butuh uang.
Tak harus hadir di tempat tertentu.
Tak perlu syarat panjang.
Bisa diucapkan siapa saja, kapan saja, di mana saja.
Ringan diucapkan, tapi berat dalam timbangan amal.

Lalu, apa alasan kita membiarkan lisan ini menganggur tanpa makna?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah lisanmu berhenti dari berdzikir kepada Allah.”
(HR. Ahmad, hasan lighairihi)

Dan sabdanya pula:

“Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallah wa bihamdih, 100 kali dalam sehari, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Yuk, mulai sekarang…

Sempatkan.
Luangkan.
Kuatkan.
Jangan biarkan lisan ini kosong dari dzikir. Penuhi ia dengan kalimat yang mendekatkan kita kepada Allah dan menambah berat amal kita di akhirat.


Hisyam Khoirul Azzam

inspirasi kultum KH. Abdul Aziz Abdur Ra’uf, Lc, Al-Hafidz


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar