Ladang Cinta dan Ilmu Menuju Surga

Rumah tangga bukanlah medan tempur tempat dua insan saling menaklukkan. Bukan soal siapa yang menang, siapa yang kalah. Karena sejatinya, rumah tangga adalah kerja besar menegakkan Islam dalam bentuk paling kecil namun paling nyata: miniatur negara, yang di dalamnya setiap jiwa ditempa untuk bersabar, taat, dan terus belajar.

Di dalam Al-Qur’an, pembahasan tentang rumah tangga sering berdampingan dengan ayat-ayat jihad. Karena benar adanya, membina keluarga adalah bagian dari perjuangan suci. Jihad dalam menundukkan ego, jihad dalam menyemai cinta dalam bingkai syariat, jihad dalam sabar, dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Maka, siapa pun yang ingin rumah tangganya kokoh, ia harus berilmu. Ini bukan pilihan, tapi wasiat ilahi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Ilmu bukan hanya menjelaskan halal dan haram, tapi juga menunjukkan cara mencintai yang benar. Bukankah Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk, yang bengkok sifatnya? Jika dibiarkan, tetap bengkok. Jika diluruskan dengan kasar, ia patah. Maka diperlukan ilmu untuk meluruskan dengan lembut dan penuh hikmah.

Sebagian orang tua bertanya, “Mengapa istri harus selalu disalahkan? Bagaimana jika justru suaminya yang menyimpang?” Maka mari kita koreksi diri: apakah sang suami terus menuntut ilmu? Apakah ia masih duduk dalam majelis-majelis shalih? Bila tidak, wajar jika sikapnya menyimpang. Karena siapa pun, laki-laki atau perempuan, bila tidak mau istiqamah dalam menuntut ilmu, maka ia berpotensi bengkok.

Tentang sabda Nabi:

“Aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itu bukan vonis, tapi peringatan. Jika seorang wanita taat kepada Allah dan suaminya, tekun mencari ilmu, maka ia telah menyelamatkan dirinya dari kecenderungan itu.

Rumah tangga butuh kesabaran. Karena sabar itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Sabar agar setan tak bersorak, sabar agar cinta tak pudar. Sabar dalam ibadah, sabar dalam luka, sabar dalam memberi maaf.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para suami:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci satu perangainya, maka ia akan ridha dengan perangai yang lain.” (HR. Muslim)

Jangan biarkan satu kekurangan menutupi banyak kelebihan. Belajarlah melihat dengan mata iman, bukan sekadar dengan emosi sesaat.

Amal sholeh bukan hanya tabungan pahala. Ia adalah penguat rumah tangga. Dzikir bersama, qiyamul lail bersama, puasa sunnah bersama—semua itu adalah ikatan ruhani yang tak terlihat, tapi sangat kuat. Bila masalah kecil terasa berat, itu mungkin tanda ruhiyah yang lemah. Maka, kembalilah memperkuat jiwa dengan ibadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul budak, lalu menjimainya di malam hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasul menggunakan kata imā’ Allāh, bukan sekadar zaujah. Karena wanita itu hamba Allah, terlepas dari amalnya besar atau kecil, ia mulia di sisi-Nya. Maka, memukulnya adalah perbuatan yang mencederai kehormatan hamba Allah. Terlebih jika ia wanita shalihah, maka memukulnya adalah tanda kelemahan iman dan kebodohan dalam ilmu rumah tangga.

Adapun dalam keadaan istri membangkang, Rasulullah memberikan rukhshah kepada suami:

“Dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak menyakitkan).” (QS. An-Nisa: 34)

Umar bin Khattab pernah bertanya, dan Rasul menjawab, “Silakan, tapi jangan di wajah.” Bahkan itu pun bukan anjuran, hanya rukhshah bagi kondisi darurat. Karena sejatinya, cinta tak tumbuh dari tangan yang melukai, melainkan dari hati yang terus belajar dan bertaqwa.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar