Allah berfirman:
“Walau bahwa ada suatu Al-Qur’an yang dengannya gunung-gunung diguncangkan atau bumi dibelah atau orang-orang mati diajak bicara, (mereka tetap tidak akan beriman).”
(QS. Ar-Ra’d: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa sehebat apapun mukjizat yang menyertai Al-Qur’an, orang-orang yang tidak mau beriman tetap tidak akan beriman. Karena hidayah adalah milik mutlak Allah.
Iman Tanpa Syarat
Siapa yang benar-benar ingin beriman kepada Al-Qur’an, ia harus melakukannya tanpa syarat. Tidak bisa dengan pola pikir, “Nanti aku dapat apa? Apa manfaatnya?” Iman bukanlah kontrak untung-rugi, tetapi penghambaan total kepada Allah.
Jika seseorang beriman karena syarat tertentu, sungguh Allah Mahakuasa untuk mengabulkan syarat itu. Tetapi Allah tidak serta-merta mewujudkannya, karena Allah menguji siapa yang benar-benar tulus dan bersungguh-sungguh menginginkan hidayah-Nya. Hidayah itu mudah bagi Allah, namun ada prosedur ilahi: yaitu usaha, doa, ketulusan, dan kesungguhan.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)
Bahkan jika seseorang telah berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh namun wafat dalam keadaan belum mendapatkan hidayah secara kasat mata, maka Allah tetap mencatatnya sebagai orang yang telah memperjuangkan hidayah, dan insyaAllah akan dibalas seperti orang yang mendapatkannya.
Mengapa Azab Diturunkan?
Ayat berikutnya dalam surah Ar-Ra’d menjelaskan bahwa azab diturunkan kepada suatu kaum karena melecehkan dan mempermainkan para utusan Allah (istihza’). Mereka bukan sekadar tidak percaya, tetapi menghina dakwah dan membangkang dengan sombong.
Hari ini, bentuk takhdzīl (merendahkan dan melemahkan perjuangan umat Islam) masih terjadi, bahkan oleh para pemimpin negeri-negeri Arab sendiri. Ketika Palestina dijajah, mereka justru membantu zionis, bukannya menolong saudara Muslim mereka.
Nabi SAW bersabda:
“Barang siapa merendahkan seorang mukmin (takhdzīl), maka Allah akan merendahkannya dan tidak akan menolongnya di hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud, hasan)
Sebaliknya, beruntunglah orang-orang yang berbuat ihsan (muhsinin) — mereka terus membantu perjuangan umat Islam walaupun jauh dan dengan kemampuan ala kadarnya. Amal kecil yang ikhlas lebih berarti daripada kemewahan yang tidak peduli.
Tuhzi’a vs Sukhriyah (Istihza’ vs Sahira)
Terdapat perbedaan antara dua bentuk pelecehan dalam Al-Qur’an:
- Istihza’ (تُهْزَأُ): Melecehkan misi dan ajaran agama, contohnya kaum Nabi Nuh yang mencemooh dakwah beliau.
- Sukhriyah (سُخِرَ): Melecehkan secara personal atau fisik.
“Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka…”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Perbedaan fikrah atau pemikiran dalam Islam tidak boleh membawa kita kepada sikap mengejek sesama Muslim, baik dengan istihza’ maupun sukhriyah.
Fa Amlaitu — Penangguhan yang Menipu
Dalam ayat lain disebutkan:
“Fa amlaitu lahum…” — “Lalu Aku tangguhkan mereka.”
(QS. Al-A’raf: 183)
Allah menangguhkan azab, bukan karena ridha, tetapi sebagai istidraj (jebakan kenikmatan sementara). Hati-hati bagi siapa yang merasa aman saat bermaksiat, ia sedang dalam proses ditangguhkan menuju kehancuran.
Kisah tentang Hasan al-Bashri:
Seseorang bertanya, “Aku sering bermaksiat, tapi kenapa hidupku tenang-tenang saja?” Hasan al-Bashri balik bertanya, “Apakah semalam kamu diberi taufik untuk qiyamul lail?” Ia menjawab, “Tidak.” Maka Hasan berkata, “Itulah musibahmu — kamu telah dijauhkan dari ketaatan.”
Ketika seseorang dibiarkan jauh dari amal shalih, hakikatnya ia sedang dihukum. Dosa yang menumpuk akan mengakibatkan kebinasaan. Maka jangan dikira zionis yang 70 tahun menindas itu aman-aman saja. Mereka sedang berada dalam istidraj, menanti azab kehinaan. Sementara orang Palestina yang tertindas, akan dimuliakan dan dijadikan penguasa kelak oleh Allah.
QS. Ar-Ra’d:33 — Allah Maha Mengawasi
“Afaman huwa qa’imun ‘ala kulli nafsin bimaa kasabat…”
“Maka apakah (Allah) yang mengawasi tiap-tiap jiwa terhadap apa yang dikerjakannya (sama dengan yang tidak demikian)?”
(QS. Ar-Ra’d: 33)
Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai “Qa’imun” — senantiasa hadir, mengawasi, memperhatikan, menanggapi, dan membalas semua perbuatan hamba-Nya.
Setiap amal kita tidak pernah luput dari perhatian Allah. Maka seyogianya manusia hidup dalam kebaikan terus-menerus. Satu kebaikan akan menuntun pada kebaikan berikutnya. Setelah kajian, lanjutkan dengan dzikir, tabarok sebelum tidur, niatkan agar Alloh tolong bisa qiyamullail, dengan bacaan Al-Qur’an yg kita miliki, karena Puncak perhatian Allah adalah saat kita bersama Al-Qur’an.
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperduanya, atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu… Qs Al Muzammil : 20
Saat melakukan hal-hal mubah pun, niatkan untuk ibadah: makan agar kuat ibadah, tidur agar segar qiyam, istirahat agar optimal dakwah. Jangan sampai Allah memperhatikan kita dalam kondisi maksiat — betapa malunya!
Jangan Berpaling dari Allah
Sebagian orang bertanya: “Mana bukti bahwa Allah Maha Mengawasi? Sudah bertahun-tahun saya sakit, tidak kunjung sembuh. Perang di Palestina belum selesai juga. Dimana pertolongan Allah?”
Naasnya, mereka beralih kepada ‘tuhan-tuhan’ lain, seakan yang lain lebih canggih. Padahal Tuhan yang lain bukan hanya tidak bisa menyembuhkan, menyampaikan satu kalimat pun tidak mampu.
Beruntunglah para pejuang Palestina yang tetap memegang wirid Al-Fatihah. Rasulullah bersabda:
“Tidaklah Al-Fatihah dibaca oleh seorang hamba kecuali Allah langsung menjawab setiap ayatnya.”
(HR. Muslim)
Penutup — Hidayah adalah Anugerah
Sebagian orang kafir bahkan merasa bahwa maksiat adalah kebaikan. Mereka telah terkena penyakit zuyyina lahum su’u a’malihim — “Dijadikan indah oleh Allah perbuatan buruk mereka.”
(QS. At-Taubah: 37)
Namun siapa yang dimudahkan dalam kebaikan ucapan dan perbuatan, jangan pernah sombong. Semua itu adalah karunia dari Allah. Sebaliknya, orang yang disesatkan Allah adalah karena ia sendiri ingin sesat.
“Maka apakah orang yang telah dijadikan syaitan menganggap baik pekerjaannya, lalu dia menganggapnya baik (sama dengan orang yang mendapat petunjuk)?”
(QS. Fatir: 8)
Sebagaimana seorang murid yang tidak pernah masuk kelas, sudah selayaknya tidak lulus dari gurunya. Maka jika Allah telah sesatkan seseorang, siapa lagi yang bisa memberi petunjuk?
“Barang siapa Allah sesatkan, maka tidak ada satu pun yang bisa memberi petunjuk.”
(QS. Al-A’raf: 186)
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
