Iman, Qurban & Istiqomah

Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Hajj ayat 5-6 mengajak manusia untuk merenungkan hakikat penciptaan manusia, sebagai bukti nyata akan kebangkitan di hari kiamat. Allah berfirman:

“Wahai manusia! Jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang terbentuk sempurna dan tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu…”
(QS Al-Hajj: 5)

Penciptaan manusia, dari tanah lalu setetes air yang hina, menjadi makhluk hidup dengan bentuk yang sempurna, adalah dalil kuat bahwa kebangkitan setelah kematian itu adalah hal yang mudah bagi Allah. Bahkan tanah yang mati pun kembali hidup hanya dengan turunnya air hujan. Apalagi manusia yang lebih mulia di sisi Allah. Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya:

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah (Tuhan) Yang Haq, Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS Al-Hajj: 6)

Keyakinan kepada Allah sebagai Rabb sejatinya melahirkan ikrar tulus: Laa ilaaha illallah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Allah tidak memiliki sekutu sedikit pun dalam penciptaan, pengaturan, maupun kekuasaan. Orang yang mengikrarkan tauhid ini, jika sempurna keimanannya, niscaya ia akan mengimani pula hari kiamat dengan penuh keyakinan, tanpa sedikit pun keraguan.

Allah menegaskan bahwa hari kiamat pasti datang, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan Surah Al-Hajj:

“Dan sungguh, kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh Allah akan membangkitkan siapa saja yang ada di dalam kubur.”
(QS Al-Hajj: 7)

Bahkan pepatah orang Arab menyebutkan, “Segala sesuatu yang pasti terjadi, maka terasa dekat.” Begitulah kiamat. Ia pasti datang, dan karena kepastiannya, kita mesti merasa seolah-olah kedatangannya sudah sangat dekat.

Ketika ada sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kapan kiamat itu datang, beliau tidak menjawab waktunya, tetapi malah bertanya balik:
“Apa yang telah kamu siapkan untuknya?”
(HR. Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa yang lebih penting dari menanti kepastian waktu adalah menyiapkan bekal. Sebab hari itu datang tiba-tiba, sebagaimana kematian yang tidak bisa kita prediksi.

Allah Maha Mampu membangkitkan semua makhluk. Tidak hanya yang dikuburkan, bahkan orang-orang yang tubuhnya hancur diterkam binatang, tenggelam di lautan, atau terbakar habis, semuanya akan dibangkitkan. Ketika sangkakala ditiup, mereka bangkit dari kematian dalam keadaan ketakutan, khusyuk, bersegera seperti belalang yang bertebaran, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Qamar.

Bagi Allah, membangkitkan kembali manusia itu sangat mudah. Bukankah menciptakan manusia dari ketiadaan itu lebih sulit dibandingkan hanya membangkitkannya kembali? Maka orang beriman, hendaknya memikirkan bagaimana caranya agar kelak di hari itu tidak termasuk orang-orang yang takut dan bersedih.

Di antara bekal penting untuk menyambut kebangkitan adalah berqurban. Karena kelak di padang mahsyar, hewan qurban kita akan menjadi saksi amal shalih kita. Rasulullah mengajarkan bahwa berqurban adalah tanda keimanan yang kokoh. Maka siapa yang mampu, jangan sampai melewati bulan Dzulhijjah tanpa berqurban. Bahkan, bagi yang belum mampu sekalipun, hendaknya tumbuhkan keinginan kuat. Karena keinginan yang sungguh-sungguh akan melahirkan doa, dan doa yang terus dipanjatkan akan mendatangkan pertolongan rezeki dari Allah.

Betapa banyak kisah inspiratif, seperti seorang pemulung yang setiap tahun mampu berqurban, padahal penghasilannya kecil. Ia menyisihkan sedikit demi sedikit sejak jauh hari, bahkan sejak hari pertama setelah qurban tahun sebelumnya.
Kalau untuk mudik saat Idul Fitri saja orang bisa menyiapkan tabungan bulan-bulan sebelumnya, alangkah baiknya kalau untuk qurban juga demikian — bahkan seharusnya lebih serius, karena qurban adalah tanda penghambaan diri kepada Allah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (Al-Kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah.”
(QS Al-Kautsar: 1-2)

Namun di sisi lain, Allah juga memperingatkan tentang bahaya orang-orang yang mendebat kebenaran tanpa ilmu. Dalam Surah Al-Hajj ayat 8, Allah menyebutkan adanya manusia yang membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, tanpa kitab yang bercahaya.

Fenomena ini masih ada hingga hari ini. Ada orang yang mencela istighfar, seolah-olah banyaknya istighfar menurunkan banyaknya hujan, kemudian menyebabkan banjir. Ada yang meragukan janji Alquran, bahkan menganggap doa dan taqwa tidak membawa rezeki. Padahal seharusnya, jika realita tampak tidak sesuai harapan, kita katakan, “Alquran benar, diri kita yang bohong.”

Sebagaimana kisah sahabat yang mengeluh sakit perut setelah meminum madu, lalu Rasulullah berkata:
“Allah benar, perutmu yang bohong.”

Begitulah cara orang beriman menghadapi ujian iman: membenarkan Allah, bukan membantah-Nya.

Maka, carilah ilmu. Jangan hanya melihat gunung, sungai, lautan, dan keindahan alam lalu tetap kufur. Alam semesta adalah ayat-ayat Allah yang mengajak manusia untuk beriman. Tetapi, mereka yang berpaling tanpa ilmu, bahkan menyesatkan orang lain, sungguh dalam kesesatan yang nyata. Mereka mengenal Allah bukan melalui Kitabun Munir (Alquran), melainkan hanya dengan akal semata, debat, dan kesombongan.

Sebaliknya, orang yang menikmati Alquran, ia akan merasakan kenikmatan iman, dan dari hatinya akan tumbuh keinginan mengajak orang lain untuk menikmati petunjuk ini.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa membenarkan-Nya tanpa ragu, menyiapkan bekal untuk hari kiamat, istiqamah dalam amal shalih, dan wafat dalam keadaan ridha dan diridhai.
Aamiin.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar