Belum puasa syawal? Santai bro…


Salah satu ciri umat Islam yang diridhai Allah adalah menjadi ummatan wasathan (umat pertengahan), sebagaimana firman Allah:

> “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 143)

Termasuk dalam penerapan prinsip ini adalah dalam menyikapi amal-amal sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, Qiyamullail, shalat sunnah rawatib, dan juga puasa enam hari di bulan Syawal.

Namun dalam kenyataan, umat sering terjebak pada dua kutub ekstrim:

Ekstrim kiri, yang meremehkan sunnah dengan alasan “yang penting tidak dosa”, bahkan menyindir mereka yang mengerjakan sunnah.

Ekstrim kanan, yang menjadikan sunnah seolah-olah wajib, dan mencela mereka yang tidak mengamalkannya, seolah mereka sudah pasti penghuni neraka.

1. Puasa Syawal: Sunnah Mulia, Bukan Kewajiban
Nabi Muhammad bersabda:

> “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”
(HR. Muslim, no. 1164)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Syawal adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), namun bukan wajib. Tidak ada cela bagi orang yang tidak mampu atau tidak mengerjakannya.

Sayangnya, sebagian menyikapi seolah-olah puasa Syawal adalah kewajiban tambahan. Bahkan ada yang menjadikan tidak melakukannya sebagai “aib keimanan”. Ini bukan sikap yang diajarkan Nabi.

2. Waspada dari Dua Ekstrim

Ekstrim kiri: “Yang penting gak dosa, ngapain puasa Syawal?”
Ini adalah bentuk pelemahan semangat amal sholeh. Padahal Rasulullah bersabda:

> “Sesungguhnya Allah mencintai amalan sunnah yang terus menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Ekstrim kanan: Menyalahkan, menghina, bahkan menyangka orang lain kurang iman atau menyelisihi sunnah hanya karena tidak melakukan puasa Senin-Kamis, tidak qiyamullail, atau karena mencukur jenggot.

Sikap seperti ini bisa menyeret pada ‘ujub (kagum pada diri) dan ghurur (tertipu oleh amal), bahkan tak jarang mendekati takfir (mengkafirkan), padahal Rasul sangat tegas melarang sikap ini.

3. Meneladani Nabi: Seimbang dan Penuh Hikmah
Rasulullah tidak pernah mewajibkan sunnah atas umatnya, bahkan beliau kadang meninggalkan sunnah agar umat tidak mengira itu wajib.

> Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Rasulullah pernah meninggalkan suatu amal padahal beliau menyukainya, hanya karena khawatir diwajibkan atas umatnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Contoh lain:

Rasul pernah tidak keluar untuk shalat Tarawih berjamaah di malam-malam terakhir Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasul sesekali tidak bersiwak walau sangat dianjurkan, agar umat memahami bahwa itu sunnah.

4. Ukurannya: Apakah Kita di Tengah?
Untuk mengetahui apakah kita sudah bersikap wasathiyah, lihat bagaimana kita:

Mengerjakan sunnah dengan semangat, tanpa merasa paling benar.

Tidak meremehkan orang lain yang belum mengamalkan sunnah.

Tidak mengangkat sunnah menjadi seolah-olah wajib.

Tidak mencela, mengomentari negatif, atau membully mereka yang belum mampu mengamalkan semua sunnah.

Seorang yang tidak qiyamullail, bukan berarti ia jauh dari Allah. Bisa jadi ia memiliki amalan unggulan lain. Rasulullah bersabda:

> “Jangan kamu rendahkan satu kebaikan pun walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah ceria.”
(HR. Muslim)

5. Menargetkan Amal Sholeh yang Beragam
Alih-alih mengukur orang dari satu jenis amal, lebih baik kita tanamkan sikap: “Jangan sampai tidak punya satu pun amal sholeh yang belum dikerjakan.”

6. Penutup: Doa dan Introspeksi Diri
Kita semua sedang berusaha. Jangan tertipu dengan amal sendiri, dan jangan pula mencela amal orang lain. Rasulullah bersabda:

> “Barangsiapa yang merasa aman dari siksa Allah, ia telah binasa.”
(HR. Ahmad)

Sebaliknya, bersyukurlah bila bisa mengamalkan sunnah, dan doakan saudara kita yang belum mampu. Jangan kita yang rajin qiyamullail, tapi lalai berjamaah subuh. Jangan kita terlalu sibuk dengan sunnah, sampai lupa bahwa menjaga hati lebih utama.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, 23April 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar