Allah Ta’ala berfirman dalam QS Ar-Ra’d: 30–31,
> “Demikianlah, Kami telah mengutusmu kepada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, agar kamu membacakan kepada mereka apa yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah: Dialah Tuhanku, tidak ada tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.”
(Ar-Ra’d: 30)
> “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat diguncangkan, atau bumi dapat dibelah, atau orang-orang yang telah mati dapat diajak bicara, (itulah Al-Qur’an). Sebenarnya segala urusan itu adalah milik Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa sekiranya Allah menghendaki, tentu Allah akan memberi petunjuk kepada semua manusia? Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka, atau bencana itu terjadi dekat dari tempat kediaman mereka, sampai datang janji Allah. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.”
(Ar-Ra’d: 31)
—
Ayat-ayat ini menggambarkan beratnya jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus membawa Al-Qur’an kepada umat yang telah terbiasa menolak kebenaran. Mereka bahkan meragukan keesaan dan kasih sayang Allah, Ar-Rahman.
Di tengah masyarakat kita hari ini pun, kondisi yang serupa masih sering terjadi. Banyak orang yang awalnya menyambut ajakan kebaikan, namun mundur ketika ajakan itu menuntut konsistensi dan totalitas: menghafal Al-Qur’an, mendalami tafsir, mengamalkan isinya dalam kehidupan. Padahal, sifat Ar-Rahman meliputi semua makhluk, tapi Ar-Rahim hanya untuk hamba yang memilih untuk dekat dengan-Nya.
Lalu muncullah keraguan:
“Kalau saya sibuk dengan Al-Qur’an, bisa kaya nggak?”
“Kalau saya banyak ngaji, kenapa rumah tangga saya masih bermasalah?”
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dari standar duniawi. Padahal standar Allah bukan dunia. Abu Jahal dan tokoh-tokoh Quraisy pernah meminta Rasulullah membuktikan kebenaran Al-Qur’an dengan syarat duniawi: geserkan gunung, buat tanah subur, hidupkan orang mati. Tapi bukan itu SOP (standar operasional) Al-Qur’an. SOP-nya adalah iman terlebih dahulu, baru melihat dampak dan keberkahan.
Kalaupun Allah mau, tentu mudah bagi-Nya menjadikan semua manusia beriman, bahkan menjadikan gunung tunduk pada Al-Qur’an. Tapi Allah ingin membangun kesungguhan dari manusia, karena interaksi dengan Al-Qur’an membutuhkan iman.
Bahkan kalau seseorang dibayar untuk menghafal Al-Qur’an, tapi tidak punya iman dan keinginan untuk dekat dengan Allah, niscaya ia tak akan kuat. Karena Al-Qur’an bukan proyek duniawi. Bukan jaminan akan terkenal, banyak suara dipemilu, atau hidup mewah. Al-Qur’an adalah jalan hidup orang-orang yang percaya akan akhirat.
Dan memang, sebagaimana yang disampaikan dalam QS Ar-Ra’d: 31, seandainya yang mengajak itu malaikat, bahkan orang mati yang kembali ke dunia, tidak akan memberi pengaruh apa-apa jika tidak ada iman. Jadi jangan heran bila dakwah ditolak—bahkan Rasulullah pun ditolak.
Namun bukan berarti kita menyerah. Allah tutup ayat ini dengan isyarat bahwa janji-Nya pasti datang, bencana akan menimpa orang yang menolak kebenaran, dan kaum beriman akan dimenangkan—cepat atau lambat.
Dan pada akhirnya, kita harus mengembalikan semuanya pada Allah. Karena sebagaimana firman-Nya:
> “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mau menerima petunjuk.”
(QS Al-Qashash: 56)
—
Kesimpulan:
Beriman itu tidak menuntut dunia. Berinteraksi dengan Al-Qur’an tidak butuh syarat duniawi, tapi kesungguhan iman. Dan tugas kita adalah menyeru, bukan menjamin hasil. Karena hidayah itu hak mutlak Allah. Maka teruslah berdakwah dengan ilmu dan keyakinan, karena jalan ini adalah jalan orang-orang pilihan.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, 22 April 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
