Hidayah adalah anugerah Allah yang memiliki karakter berkembang. Ia bisa bertambah, bisa pula berkurang. Maka, sebagaimana seseorang bisa stres jika saldo rekening berkurang, seharusnya ia jauh lebih gelisah jika hidayahnya berkurang. Karena hidayah adalah cahaya yang membimbing hidup, sedangkan uang hanya alat bantu dalam hidup.
Lihatlah argo taksi, walau kendaraan itu macet, argonya tetap berjalan. Demikian pula amal kebaikan yang dilakukan karena iman. Duduk diam di majelis ilmu—meski ngantuk dan belum paham—argonya pahala tetap berjalan. Bahkan setelah pulang pun, pengaruh hidayah dari majelis itu masih terus mengalir.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.”
(QS. Muhammad: 17)
Hidayah itu seperti kapasitas mesin mobil. Semakin besar CC-nya, semakin kuat lajunya. Orang yang memiliki sedikit hidayah, ia tahu bahwa ia harus sholat. Ketika hidayahnya bertambah, ia bukan hanya sholat, tapi juga ke masjid meskipun datang setelah iqamah. Bila hidayahnya terus bertambah, ia datang sejak adzan untuk mengejar sholat sunnah rawatib.
Sebaliknya, ketika hidayah melemah, seseorang bisa terjebak dalam cara berpikir yang terlalu sempit: “Sholat sunnah kan gak wajib, gak dikerjakan juga gak dosa.” Padahal keimanan yang berkembang mendorong seseorang untuk mencintai amal, bukan sekadar menghindari dosa. Maka, dalam menilai amal, jangan hanya pakai kacamata fikih, tapi tinjaulah juga dengan kaca mata iman.
Contohnya, ada orang yang tinggal satu menit dari masjid, tapi tak kunjung datang ke sana. Sementara yang lain menempuh lima belas menit jalan kaki namun tetap hadir. Perbedaan itu bukan hanya soal jarak, tapi soal energi hidayah.
Manusia butuh hidayah yang terus bertambah. Ramadhan adalah buktinya. Di awal, puasa mungkin terasa berat. Tapi setelah sepuluh hari, justru terasa ringan. Bahkan ketika kesiangan sahur, kita tetap lanjutkan puasa dengan ringan hati. Itu semua adalah karunia hidayah dari Allah, “Zādahum hudā”, hidayah yang bertambah.
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya..”
(QS. Maryam: 76)
Ramadhan membawa amal-amal yang membahagiakan. Tarawih, tilawah, qiyamullail, saat-saat itulah seseorang yang mendapatkan hidayah merasakan puncak kebahagiaan: merasa bahagia saat beramal shalih. Senang karena bisa mendekat kepada Allah.
Kebahagiaan ini jangan selesai saat Ramadhan usai. Lanjutkan dengan amal-amal setelahnya. Ikuti kegiatan seperti mabit—yang di dalamnya ada kajian dan qiyamullail—sebagai upaya menjaga kualitas amal Ramadhan. Mungkin setelah Ramadhan kita pernah kehilangan satu malam tanpa qiyamullail yang berkualitas. Maka, siapa tahu lewat mabit kita bisa menebusnya.
Motivasi utama untuk menjaga dan menumbuhkan hidayah adalah kesadaran akan hari kiamat. Dalam surat Yasin, Allah mengisahkan hari kiamat dengan sangat jelas.
Dalam attakwir Ada 12 ayat tentangnya: 6 ayat tentang kehancuran alam semesta dan 6 ayat tentang kejadian setelah kiamat.
Tanda-tanda kiamat pun sudah banyak terjadi: waktu yang terasa cepat (yataqārobu az-zamān)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman terasa semakin dekat, tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, dan sehari seperti satu jam, dan satu jam seperti kobaran api.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Tanda kiamat lainya adalah gempa di mana-mana, dan banyaknya pembunuhan.
Dalam beberapa hadits disebutkan pula akan muncul dua pengantin di negeri Syam. Para ulama memahami ini bisa merujuk pada Gaza dan Asqalan. Menariknya, Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza, tetapi menyebut dirinya dari Asqolan, kedua tempat itu sekarang kita melihat sebagai tempat-tempat keberkahan.
Kini kita menyaksikan warga Gaza difitnah dengan berbagai label: Syiah, Khawarij, Mu’tazilah. Padahal bisa jadi merekalah para pejuang yang Allah maksudkan dalam hadits-hadits itu. Justru yang memfitnah itulah mu’awwiqīn—penghalang-penghalang perjuangan Islam. Memboikot produk-produk yang mendukung Zionis adalah upaya yang bisa kita lakukan untuk melindungi warga Gaza.
Ilmu Wasilah Hidayah
Ilmu adalah wasilah untuk bertambahnya hidayah. Ilmu yang membuat kita mengenal kemahakuasaan Allah. Seperti firman-Nya:
“Tidak lain Al-Qur’an itu adalah peringatan bagi seluruh alam.”
(QS. Shad: 87)
Contoh ayat yang menunjukkan kebesaran Allah adalah:
“Dan demi subuh apabila ia bernafas.”
(QS. At-Takwir: 18)
Kenapa waktu disebut bernafas? Karena waktu subuh adalah waktu paling berkah. Oksigen terbaik dihasilkan di waktu ini. Maka jika digunakan untuk interaksi dengan Al-Qur’an, ia akan menjadi momen terbaik dalam hidup kita.
Itulah sedikit contoh bagaimana kita memahami waktu subuh dengan ilmu.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Kuliah Perdana LTQ, 19 April 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #markazalquranindonesia
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
