
Sebagian ulama mengatakan bahwa kebahagiaan sejati hanya layak disebut sa’adah jika terjadi di akhirat. Adapun kesenangan dunia, itu hanyalah kesenangan semu, atau dalam istilah Al-Qur’an disebut mataa’ul ghurur—kenikmatan yang menipu. Maka, ketika kita menyaksikan penderitaan kaum muslimin di Gaza, jangan terburu-buru mengatakan mereka tidak bahagia. Justru sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang merasakan kebahagiaan batin dan kelezatan iman yang tidak bisa dicapai oleh para mutrafiin—orang-orang yang bergelimang dunia namun lalai dari Allah.
1. Bahagia Dunia Itu Majas
Bahagia dunia bagi seorang mukmin tidak diukur dari kelapangan materi, tapi dari dekatnya dengan Allah. Allah berfirman:
“Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”
(QS. Thaha: 124)
Sebaliknya, kebahagiaan yang sesungguhnya justru bersemayam dalam hati para pejuang dan penghafal Al-Qur’an yang tampak sengsara secara lahir, namun hatinya tenteram karena berada dalam jalan Allah. Maka, bila engkau merasa sengsara dalam jalan ilmu, dalam murojaah yang berat, dalam melayani umat yang melelahkan—yakinlah bahwa sengsara itu hanyalah majas.
2. Gaza dan Asqolan: Tanah Para Pejuang
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa nama kuno dari Gaza adalah Asqolan. Imam Syafi’i sendiri lahir di Gaza, namun terkadang menyebut dirinya dari Asqolan.
“Permulaan perkara ini (Islam) adalah kenabian dan rahmat, lalu khilafah dan rahmat, lalu kerajaan dan rahmat, kemudian kerajaan yang menggigit, lalu kerajaan yang memaksa, kemudian kembali menjadi khilafah di atas manhaj kenabian.”
(Kemudian beliau diam).
(Lalu ditanya tentang ribath—berjaga di perbatasan—beliau menjawab:)
“Sebaik-baik tempat ribath kalian adalah ‘Asqalan.”Diriwayatkan oleh Al-Tabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir.
Karena itulah, banyak ulama terdahulu menetap di Asqolan, setidaknya selama enam bulan, demi mendapatkan keberkahan dan keutamaan tempat itu. Di balik penderitaan mereka hari ini, yakinlah—banyak dari mereka adalah calon ahli surga tanpa hisab.
3. Idul Fitri: Momentum yang Tidak Berhenti di Titik
Kalimat “Minal ‘Aidin wal Faizin” hendaknya tidak dimaknai sebagai titik, melainkan koma—sebuah ajakan untuk melanjutkan amal sholeh pasca-Ramadhan. Hari raya disebut Iedun Mubarak karena merupakan hasil tarbiyah Ramadhan yang berdampak selama seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3).
Ramadhan melahirkan insan ‘aidin (orang yang kembali) dan faizin (orang yang menang). Namun kemenangan itu harus dibuktikan dengan tiga karakter lanjutan:
- Taibin – selalu kembali kepada Allah dengan taubat yang berulang. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Baqarah: 222)
- Awwah – pribadi yang lembut, sensitif terhadap dosa, dan banyak berdoa. “Sesungguhnya Ibrahim benar-benar seorang yang awwah dan penyantun.” (QS. At-Taubah: 114)
- Munib – mereka yang kembali secara total kepada Allah. “Kembali kepada Tuhan-nya dengan hati yang tunduk (munib).” (QS. Qaf: 33)
Ketika seorang ‘aidin naik tingkat menjadi munib, ia bagaikan seseorang yang setiap hari melihat surga di hadapannya. Itulah makna ayat:
“Dan surga didekatkan (uzlifat) kepada orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Asy-Syu’ara: 90)
4. Waspadai Musibah Syawal
Sungguh memprihatinkan bila semangat ibadah yang membara saat Ramadhan menguap saat memasuki Syawal. Inilah yang disebut musibatud-din—bencana agama. Mereka yang dulu rajin qiyam, tilawah, dan jamaah kini hilang semua karena “sibuk” di Syawal. Na’udzubillah.
Apakah Syawal yang seharusnya menjadi momentum full charge malah membuat kita “lowbatt” iman?
5. Aidin Harus Muflihun
Dalam Al-Qur’an, kemenangan (al-fauz/faizin) selalu diiringi dengan amal-amal global, sedangkan keberuntungan (muflihun) selalu dikaitkan dengan amal spesifik seperti:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna…”
(QS. Al-Mu’minun: 1–3)
Jadi, faizin itu seperti judul “kiat sukses”, sedangkan muflihun adalah aksi nyata dari kiat tersebut. Hingga puncaknya, semua amal akan mengarah pada:
6. Jihad: Induk Segala Amal
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah…”
(QS. At-Taubah: 111)
Jihad adalah puncak dari semua ajaran Islam. Dalam banyak peristiwa, jihad besar Rasulullah terjadi di bulan Syawal—seperti Perang Uhud dan Hamra’ul Asad. Maka, Syawal adalah bulan energi besar, bukan waktu jeda dari ibadah.
Ironisnya, kata “jihad” hari ini seolah tabu dan berisiko. Padahal inilah panggilan mulia yang harus dikembalikan ke tempatnya yang luhur.
Penutup:
Mari jadikan Idul Fitri bukan titik berhenti, tapi koma menuju amalan-amalan lanjutan. Bukan sekadar saling memaafkan, tapi saling mendorong untuk istiqamah dalam iman, amal, dan perjuangan membela agama Allah. Faizin itu bukan akhir, tapi awal dari proses menjadi muflihun, hingga Allah sampaikan kita ke maqam jihad dan syahid, atau mati dalam keadaan memperjuangkannya.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, 9 April 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #halalbihalal
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
