Wisuda Ketaqwaan

Sebuah Refleksi Pasca Ramadhan

Sebulan penuh kita telah melalui karantina ruhani yang luar biasa. Setiap siang menahan lapar dan dahaga, setiap malam bersujud lebih lama. Tidak ada yang mengawasi selain Allah, tetapi kita tetap istiqomah. Setetes air pun tak berani kita teguk sebelum waktunya, sepiring makanan di tempat tersembunyi pun tak kita sentuh. Kita menahan amarah, kita bangun lebih awal, kita tinggalkan keluarga demi i’tikaf di rumah-Nya, semua demi satu tujuan: meraih taqwa.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Taqwa itulah yang menjadi buah dari karantina Ramadhan. Namun, sekarang masa karantina itu telah usai. Kini, kita memasuki hari-hari wisuda ketaqwaan. Inilah momen di mana ujian sejati dimulai:

  • Saat tidak ada lagi yang mengajak tarawih berjamaah, akankah kita tetap berdiri di sepertiga malam?
  • Saat tak ada lagi sahur dan berbuka, akankah kita tetap menegakkan puasa sunnah?
  • Saat setan kembali dilepaskan, akankah kita tetap mampu menjaga hati dan amalan kita?

Jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, lalai dari shalat malam, berat untuk sekadar witir satu rakaat, enggan berpuasa meski hanya sehari sebulan, lalu di mana letak ketaqwaan yang kita usahakan sebulan penuh? Apakah ibadah kita selama Ramadhan hanya formalitas atau benar-benar tertanam dalam hati?

Gurunda sering mengingatkan santri-santrinya untuk tetap qiyamullail di malam 1 Syawal, dengan jumlah rakaat yang sama, dengan jumlah juz yang sama. Sebagai DP (down payment) keistiqamahan kita setelah Ramadhan. Sebab, yang lebih berat dari beribadah adalah menjaga keistiqamahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, beruntunglah orang-orang yang lulus dari madrasah Ramadhan dengan membawa ketaqwaan. Mereka tidak hanya menjadi ahli ibadah selama 30 hari, tetapi selamanya. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai titik balik, bukan sekadar persinggahan sementara. Sebab, Allah adalah Rabb di bulan Ramadhan dan juga di bulan-bulan setelahnya.

Mari kita buktikan bahwa kita benar-benar telah mencapai derajat taqwa. Jangan biarkan kemenangan Ramadhan hanya menjadi euforia sesaat. Sebab, Allah tidak menilai bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita mengakhiri.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang istiqomah hingga akhir hayat.

“Ya Allah, tetapkanlah kami dalam hidayah-Mu, istiqomahkanlah kami dalam taat kepada-Mu, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.”

Sudah saya buatkan refleksi pasca Ramadhan dengan bahasa yang lebih mengharukan dan dilengkapi dalil. Silakan dicek, apakah ada yang perlu disesuaikan atau ditambahkan?

.: Hisyam Khoirul Azzam :.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar