Gengsi dalam Menerima Al-Qur’an

Allah berfirman:

وَقَالُوا۟ لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ ٱلْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang tokoh besar dari salah satu dua negeri (Makkah atau Thaif)?'” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Ayat ini menjelaskan salah satu alasan penolakan manusia terhadap Al-Qur’an, yaitu faktor gengsi. Kaum Quraisy merasa bahwa jika Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah, seharusnya ia diturunkan kepada tokoh besar yang memiliki kedudukan tinggi dan kekayaan melimpah. Mereka menyebut dua figur yang lebih pantas, menurut standar dunia mereka, yaitu Al-Walid bin Al-Mughirah dari Makkah dan Urwah bin Mas‘ud Ats-Tsaqafi dari Thaif.

Standar Dunia Menghalangi Hidayah

Kaum Quraisy menilai seseorang berdasarkan status sosial, kekayaan, dan garis keturunan. Padahal, dalam menerima Al-Qur’an, standar yang seharusnya digunakan adalah iman dan penghambaan kepada Allah. Siapa pun yang benar-benar ingin beribadah kepada Allah, maka dia akan menikmati Al-Qur’an.

Sebaliknya, jika seseorang mengukur kebenaran bukan dengan iman, tetapi dengan melihat siapa yang menyampaikan, maka dia akan terhalang dari hidayah. Allah berfirman:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍۢ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Rahmat Allah bagi Pencari Ilmu

Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa rahmat-Nya adalah yang terbaik, bukan kekayaan atau status sosial. Al-Qur’an adalah rahmat yang dibagikan kepada siapa pun yang dikehendaki Allah. Siapa yang intensif berinteraksi dengan Al-Qur’an, dialah yang paling banyak mendapatkan rahmat-Nya.

Namun, ada satu penghalang besar dalam menerima ilmu, yaitu menilai siapa yang menyampaikan, bukan apa yang disampaikan. Kesalahan ini dilakukan oleh kaum Quraisy, yang menolak Al-Qur’an bukan karena isi ajarannya, tetapi karena yang menerima wahyu adalah Muhammad ﷺ, yang menurut mereka hanyalah seorang anak yatim dan bukan tokoh bangsawan.

Dalam Islam, kebenaran harus diterima berdasarkan dalilnya, bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Bahkan, Rasulullah ﷺ sendiri membenarkan ucapan setan ketika ia menyampaikan kebenaran. Dalam hadits disebutkan:

قَالَ: صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ
“Ia telah berkata benar kepadamu, padahal ia adalah pendusta.” (HR. Bukhari No. 2311, tentang kisah setan yang mengajarkan ayat kursi kepada Abu Hurairah)

Kesimpulan

  1. Sebagian manusia menolak Al-Qur’an karena faktor gengsi, bukan karena kurangnya bukti kebenaran.
  2. Jika seseorang menilai Al-Qur’an bukan dengan iman, tetapi dengan standar duniawi, maka ia akan terhalang dari hidayah.
  3. Rahmat Allah diberikan kepada siapa saja yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, bukan berdasarkan status sosial atau kekayaan.
  4. Dalam mencari ilmu, jangan melihat siapa yang berbicara, tetapi lihatlah isi yang disampaikan.

Semoga Allah membimbing kita untuk selalu menerima kebenaran tanpa terhalang oleh hawa nafsu dan standar dunia. Wallahu a‘lam bish-shawab.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya,  27 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #itikaf


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar