Tarbiyah Lailatul Qadr


Hanya Allah yang menggerakkan langkah kita menuju masjid, memberi kesabaran dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan menguatkan kita dalam ketaatan. Tidak ada ketaatan kecuali karena taufik dari Allah. Sebagaimana firman-Nya:

“Tetapi Allah menjadikan kamu mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Itu semua adalah) karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 7-8)

Ketika jiwa ini tidak berminat kepada kekufuran, baik besar maupun kecil, itu adalah karunia dari Allah. Sebaliknya, jika hati ini benci terhadap keburukan dan tidak menikmati maksiat, itu adalah fadhilatan min Allah—anugerah yang harus kita syukuri.

Lailatul Qadr dan Hubungannya dengan Al-Qur’an

Tidak mungkin ada Lailatul Qadr tanpa turunnya Al-Qur’an. Malam itu mulia karena Allah menurunkan kitab suci-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Karena itulah,kalaupun disembunyikan tanpa ada bocoran 10 hari akhir, tanpa ada info malam ganjil, para ulama dan orang-orang shalih akan tetap mencari malam ini sepanjang tahun. Lailatul Qadr dapat diumpamakan sebagai “ulang tahun” Al-Qur’an secara utuh—tetapi bukan sekadar festival tahunan. Esensi dari Lailatul Qadr adalah agar manusia semakin akrab dengan Al-Qur’an sepanjang tahun, sepanjang hidupnya.

Setelah mendapatkan kesempatan menikmati Lailatul Qadr, niat berikutnya adalah semakin dekat dengan Al-Qur’an. Jika seseorang menganggap malam itu hanya sebagai satu perayaan sesaat, tanpa adanya perubahan dalam interaksi dengan Al-Qur’an, maka ia telah kehilangan hakikat Lailatul Qadr.

Promo Keimanan di Lailatul Qadr

Manusia paling mudah tertarik dengan “promo”. Seharusnya, Lailatul Qadr menjadi momentum untuk menciptakan “promo-promo keimanan” kepada Allah. Satu malam saja, tetapi mampu menghasilkan manusia unggul yang beramal selama 1000 bulan!

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Makna 1000 bulan tidak sebatas 83 tahun secara matematis, tetapi menunjukkan betapa seluruh bulan itu berbobot. Ini adalah rahmat dari Allah, bahwa amal sedikit bisa menghasilkan pahala melimpah.

Tujuh Amalan yang Mengalir Pahalanya

Ada tujuh amalan yang jika dilakukan akan terus mengalir pahalanya, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631)

Tujuh bentuk amal yang terus mengalir:

  1. Mengajarkan ilmu
    • Ilmu yang bermanfaat akan terus dinikmati umat. Zaman keemasan Islam banyak melahirkan ulama yang ahli dalam sains, fiqh, dan berbagai disiplin ilmu.
  2. Menjaga lingkungan
    • Contohnya, menjaga sungai tetap bersih dan melestarikan lingkungan agar bermanfaat bagi generasi mendatang.
  3. Menggali sumur
    • Hadits menyebutkan bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu membeli sumur Raumah untuk umat Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menggali sumur (untuk kepentingan umum), maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang meminum airnya.” (HR. Bukhari)
  4. Menanam pohon
    • Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari, no. 2320)
  5. Wakaf mushaf
    • Mewakafkan mushaf Al-Qur’an agar terus dibaca dan dimanfaatkan oleh orang lain.
  6. Mendidik anak shalih
    • Anak shalih yang terus mendoakan kedua orang tuanya menjadi pahala yang tidak terputus.
  7. Membangun masjid
    • Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Bukhari, no. 450)
    • Bahkan jika hanya mampu berkontribusi satu sak semen, itu tetap bernilai di sisi Allah.

Inilah esensi Lailatul Qadr: amal sedikit, tetapi hasilnya melimpah.

Keutamaan Hari Jumat: Momentum Seperti Lailatul Qadr

Hari Jumat juga memiliki keutamaan besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mandi pada hari Jumat, berangkat pagi-pagi, berjalan kaki (tidak berkendara), duduk di shaf pertama, mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian, maka dia akan mendapatkan pahala seperti berpuasa dan melakukan qiyamullail sepanjang tahun.” (HR. Abu Dawud, no. 345)

Hadits ini bukan berarti seseorang tidak perlu berpuasa atau qiyamullail, tetapi menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah. Kita tetap harus melakukan ibadah pokok, namun Allah memberikan bonus pahala yang melimpah bagi yang mengamalkan sunnah.

Juwayriyyah dan Dzikir Panjang

Dari Juwayriyyah binti Al-Harith, istri Nabi ﷺ, disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah meninggalkannya dalam keadaan berdzikir, lalu kembali beberapa jam kemudian dan mendapati beliau masih dalam keadaan yang sama. Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan dzikir yang lebih singkat namun berpahala besar:

“Subhanallah wa bihamdih, ‘adada khalqih, wa ridhā nafsih, wa zinata ‘arsyih, wa midāda kalimātih.”
(Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, sebanyak jumlah makhluk-Nya, sejauh ridha-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.)
(HR. Muslim, no. 2726)

Begitulah tarbiyah dari Lailatul Qadr: mengajarkan kita bagaimana sedikit amal bisa bernilai besar di sisi Allah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang tepat.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadr dan menjadikannya sebagai momentum untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an sepanjang tahun. Amin.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 27 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #itikaf


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar