Mendidihkan Air Ruh Al-Qur’an

Mihrab Masjid Raya Habiburahman menjadi saksi bisu sebuah percakapan ilmu selepas kajian Subuh, 25 Ramadhan 1446 H. Dalam suasana yang penuh keberkahan, Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur Ra’uf, Lc. Al-Hafidz berbincang dengan Ust. Sucipto, Alhafidz, sementara admin KaliSantri.com mendengarkan dengan saksama, sembari memijat Gurunda dengan niat agar apa yang dicatat dalam hati menjadi bagian dari kontribusi dakwah.

Saat itu, admin penasaran dengan kehadiran ruh Al-Qur’an dalam setiap bacaan Gurunda, terlebih ketika beliau menjadi imam qiyamul lail. Apa yang membuat bacaan beliau begitu hidup, seakan Al-Qur’an benar-benar berbicara kepada para makmum? Dengan wajah penuh hikmah, Gurunda pun mengenang peristiwa 18 tahun yang lalu, saat beliau masih menimba ilmu di LIPIA.

Kala itu, setiap kali waktu shalat tiba, para masyaikh di LIPIA selalu meminta beliau menjadi imam. Suatu ketika, beliau membaca surah Qāf dalam shalat, dan tanpa disangka, para masyaikh menangis tersedu-sedu. Namun, Gurunda sendiri tidak merasakan hal yang sama. Beliau bertanya dalam hati, “Apa yang membuat mereka begitu tersentuh? Apa yang mereka rasakan dari ayat-ayat ini?”

Rasa penasaran itu semakin kuat, hingga akhirnya beliau memberanikan diri bertanya kepada salah satu masyaikh. Sang masyaikh hanya tersenyum dan berkata, “Air yang direbus tidak akan langsung mendidih, ia memerlukan proses. Antum bersabarlah, nanti kalau sudah mendidih, antum akan memahaminya sendiri.”

Sejak saat itu, Gurunda berikhtiar mencari cara untuk “mendidihkan air” dalam jiwanya. Salah satu jalannya adalah dengan semakin mengintensifkan muroja’ah. Ketika beliau diminta menjadi imam qiyamul lail dengan target membaca empat juz dalam semalam, persiapannya dimulai sejak pagi, sekitar pukul 09.00. Meskipun hafalan sudah lancar, beliau tetap berusaha menghidupkan Al-Qur’an dalam dirinya dengan banyak berinteraksi dengannya sepanjang hari.

Gurunda pernah menasihati, “Hafalan itu setelah lancar, adalah lanyah.” Kalimat ini seakan menjadi ijazah bagi para santrinya: agar menjadikan seluruh Al-Qur’an seperti Al-Fatihah—melekat dalam hati, mengalir di lisan, dan hidup dalam jiwa. Sehingga, ketika menjadi imam atau melayani umat, mereka dapat menghadirkan ruh Al-Qur’an dalam setiap ayat yang dibacakan.

Namun, yang menjadi keprihatinan beliau saat ini adalah maraknya para imam masjid yang tidak bersabar dalam “tirakat” muroja’ah, lebih memilih membaca Al-Qur’an dengan bin-nazhar (melihat mushaf, bahkan di HP) saat memimpin shalat. Mereka seakan melewatkan proses “mendidihkan air,” padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan:

“Akan ada suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, tetapi bacaan mereka tidak melewati tenggorokan mereka. …”
(HR. Bukhari, no. 7432; Muslim, no. 1064)

Bacaan Al-Qur’an yang hanya sampai di kerongkongan adalah bacaan yang tidak meresap ke dalam hati, tidak membekas dalam jiwa, dan tidak menghadirkan pengaruh dalam amal perbuatan. Inilah yang dikhawatirkan: bacaan yang hanya di bibir tanpa ruh, tanpa tadabbur, tanpa kedalaman makna.

Maka, siapa pun yang ingin menghadirkan ruh Al-Qur’an dalam shalat dan kehidupannya, harus bersabar dalam prosesnya—bukan hanya menghafal, tapi juga mentadabburi, mengulang-ulang, dan meresapkan maknanya ke dalam jiwa. Sebab, ruh itu akan hadir bagi mereka yang benar-benar berusaha menyalakan api hingga airnya mendidih.

Wallāhu a’lam.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 25 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan #itikaf


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar