
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit.”
(QS. Ar-Ra’d: 26)
Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menukil beberapa hadits yang menggambarkan betapa kecilnya dunia dibandingkan akhirat. Salah satu perumpamaan yang sering disebutkan adalah dunia ini ibarat setetes air yang jatuh dari jari ke laut, sedangkan akhirat adalah lautan luas yang tak bertepi.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ pernah melewati pasar dan melihat bangkai anak kambing yang cacat. Beliau menawarkan kepada para sahabat, “Siapa yang mau membelinya dengan satu dirham?” Para sahabat menolak, bahkan jika diberikan secara gratis pun mereka tidak mau. Rasulullah ﷺ pun bersabda:
“Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah dibandingkan bangkai ini di mata kalian.”
(HR. Muslim, no. 2957)
Lantas bagaimana dengan para sahabat yang kaya raya seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya? Bukankah mereka sibuk dengan dunia? Kekayaan dalam Islam bukanlah masalah, yang bermasalah adalah kecintaan terhadap dunia yang melalaikan akhirat. Kekayaan ibarat popularitas, ada orang yang tanpa usaha keras bisa menjadi terkenal atau kaya, dan ada yang berusaha keras tetap tidak dikenal atau tetap tidak kaya. Demikianlah dunia, ada yang mendapatkannya dengan mudah, ada yang susah payah mencarinya.
Empat Pintu Rezeki
Orang beriman diperintahkan untuk mencari dunia melalui tiga dari empat pintu rezeki, yaitu:
- Rezeki yang diusahakan – hasil dari kerja keras, usaha, dan ikhtiar manusia.
- Rezeki yang dihadirkan karena takwa – sebagaimana firman Allah: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Thalaq: 2-3) - Rezeki yang diberikan karena rasa syukur – sebagaimana janji Allah: “Jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) bagi kalian.”
(QS. Ibrahim: 7) - Rezeki yang dijatahkan – seperti bayi gagak yang didatangi induknya karena baunya, begitu juga manusia mendapat rezeki yang sudah ditetapkan sejak dalam kandungan.
Namun, banyak manusia yang hanya percaya pada dua pintu, yaitu rezeki yang dijatahkan dan diusahakan. Mereka tidak percaya bahwa takwa dan syukur bisa mendatangkan rezeki. Akibatnya, mereka sering menuntut Allah dan bertanya-tanya, “Benar nggak kalau saya shalat hutang saya lunas? Kalau saya taqwa jadi kaya?” Bahkan dalam politik, ada yang berkata, “Benar nggak kalau dekat dengan Al-Qur’an pasti menang pilkada?”
Inilah mentalitas orang yang menilai segala sesuatu berdasarkan dunia. Mereka lebih memilih kaya meskipun tidak sholeh daripada sholeh tapi miskin. Dalam pendidikan pun, sangat disayangkan jika yang disosialisasikan tentang kesuksesan itu adalah diukur dari kekayaan dan jabatan, bukan dari ketakwaan dan kebaikan akhlak.
Hati yang Tenang dengan Dzikir
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Sebagian orang menyempitkan makna ayat ini, seolah-olah dzikir hanya sekadar bacaan lisan yang membuat hati tenang. Padahal, makna ṭuma’nnīnah (ketenangan) dalam ayat ini adalah ketundukan kepada Allah. Seorang mukmin yang hatinya tenang akan:
- Tenang dalam menjalankan shalat, puasa, dan ibadah lainnya.
- Tenang menerima segala ketentuan Allah, baik miskin maupun kaya.
- Tenang dalam berinfak, karena yakin rezeki datang dari Allah.
- Tenang saat mendapat musibah, karena tahu bahwa ujian adalah bagian dari kasih sayang Allah.
Allah berfirman:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”
(QS. At-Taghabun: 11)
Orang yang benar-benar mencapai ṭuma’nnīnah akan menikmati ibadah dan tidak merasa berat menjalaninya. Jika seseorang shalat atau membaca Al-Qur’an tetapi masih gelisah, berarti hatinya belum benar-benar tenang. Solusinya adalah memperbanyak dzikir ringan seperti istighfar, hingga akhirnya hatinya benar-benar tenang dan tunduk kepada Allah.
Keteladanan dari Gaza dan Ibnu Taimiyah
Sebagai contoh nyata, lihatlah penduduk Gaza. Secara lahiriah, mereka dalam kondisi sulit, tetapi mereka tetap bahagia karena memiliki ketenangan hati dalam beribadah dan keyakinan kepada Allah.
Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Mengapa setiap pagi engkau membaca Al-Fatihah berulang-ulang hingga terbit fajar?” Ia menjawab, “Aku sedang dalam kesulitan, dan Al-Fatihah adalah satu-satunya surat yang Allah langsung jawab dalam setiap ayatnya. Aku berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan berharap pertolongan Allah.”
Dunia hanyalah tempat persinggahan. Jangan sampai hati kita terpaut padanya hingga melupakan akhirat. Kejar dunia dengan cara yang benar, tanpa menjadikannya tujuan utama. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang tenang hatinya dalam mengingat-Nya dan menjadikan dunia sebagai ladang amal menuju akhirat.
Wallahu A’lam.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Ashar, 18 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan

Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
