
Allah Ta’ala berfirman:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
“Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka (orang-orang kafir) bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit.” (QS. Ar-Ra’d: 26)
Dunia: Ujian yang Sering Menipu
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa kelapangan dan kesempitan rezeki adalah kehendak-Nya. Tapi yang menjadi masalah, banyak orang justru lebih bangga dan bahagia dengan dunia.
Perhatikan kata “فَرِحُوا” (farihu) dalam ayat ini. Dalam Al-Qur’an, kata ini bisa bermakna:
- Bahagia dalam arti bersyukur → Ini positif.
- Bangga dalam arti terjebak dalam kesenangan dunia → Ini negatif.
Yang Allah kritik dalam ayat ini adalah orang-orang yang terlalu menikmati dunia hingga lupa akhirat. Padahal, dibandingkan dengan akhirat, dunia ini hanya kesenangan yang sementara (مَتَاعٌ).
Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan perbandingan dunia dan akhirat:
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, lalu perhatikan berapa banyak air yang menempel pada jarinya.” (HR. Muslim)
Dunia ini seperti air di ujung jari. Hanya sedikit dan cepat mengering.
Kenapa Banyak Orang Tergelincir dalam Ujian Harta?
Allah sudah mengingatkan dalam ayat sebelumnya (QS. Ar-Ra’d: 25), bahwa di antara ciri orang yang dilaknat adalah:
- Melanggar janji Allah.
- Memutus tali silaturahmi.
- Membuat kerusakan di bumi.
Dan sering kali, semua itu ujung-ujungnya adalah harta!
Ada yang menipu demi uang.
Ada yang merusak hubungan keluarga karena warisan.
Ada yang berbuat zalim karena mengejar jabatan.
Padahal, harta bukan segalanya. Lihat bagaimana Allah memperlakukan dua tipe manusia:
- Orang kaya yang selamat → seperti Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin Affan. Mereka banyak bersedekah dan tetap dekat dengan Allah.
- Orang miskin yang selamat → seperti Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang miskin dan buta, tetapi tetap teguh dalam keimanan.
Sebaliknya, ada juga orang kaya yang binasa seperti Qarun, yang sombong dengan hartanya dan akhirnya ditenggelamkan Allah ke dalam bumi (QS. Al-Qashash: 76-81).
Dan ada pula orang miskin yang tetap bermaksiat, terjerumus dalam narkoba, prostitusi, atau kejahatan lainnya.
Jadi, ujian hidup bukan terletak pada kaya atau miskin, tapi pada bagaimana kita menyikapinya.
Ilmu dan Keyakinan dalam Menyikapi Rezeki
Ada dua hal yang harus kita pegang saat menghadapi ujian harta:
- Ilmul Yaqin → Kita harus memahami bagaimana Al-Qur’an dan sunnah menjelaskan tentang harta.
- Ainul Yaqin → Kita harus melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang kaya dan miskin berperilaku.
Misalnya, perhatikan orang-orang yang sederhana tetapi istiqamah dalam ibadah:
- Ada yang hanya punya dua baju, bergantian pakai dan dijemur, tapi sholatnya rajin.
- Ada yang makan sebutir telur dibagi empat, tapi hafalan Qur’annya kuat.
Mereka ini tidak rugi di sisi Allah!
Sebaliknya, ada yang kaya tapi justru sibuk bermaksiat. Ada yang hartanya miliaran, tapi dipakai untuk suap, menipu, atau korupsi. Na’udzubillah.
Allah sudah memberikan prinsip dalam QS. Az-Zumar: 52:
“Tidakkah mereka tahu bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman.”
Maka, jangan jadikan banyaknya harta sebagai kebanggaan, dan jangan jadikan sedikitnya harta sebagai hinaan.
Tiga Pola Ayat tentang Rezeki dalam Al-Qur’an
Jika kita teliti, ada tiga pola ayat tentang rezeki:
- “يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ”
- Allah melapangkan dan menyempitkan bagi hamba-hamba-Nya.
- Ada tambahan “min ibaadihi”, menegaskan bahwa ini berlaku khusus bagi orang beriman.
- “يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ”
- Tanpa tambahan “min ibaadihi”, menunjukkan bahwa ini berlaku umum, baik untuk orang beriman maupun kafir.
- “يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ لَهُ”
- Ada tambahan “lahu”, menekankan bahwa setiap individu mendapat takdir rezeki yang spesifik.
Maka, rezeki bukan hanya uang, tetapi juga:
✅ Sehat → bisa makan, minum, beribadah.
✅ Ilmu → bisa memahami agama dengan baik.
✅ Kesempatan beramal → bisa sholat berjamaah, tilawah, dan berdakwah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا
“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad hanya sekadar cukup untuk hidup.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kenapa? Karena kecukupan lebih baik daripada berlebihan yang melalaikan.
Kesimpulan: Sikap yang Benar terhadap Rezeki
- Jangan menilai kemuliaan seseorang dari hartanya. Allah sudah menegur dalam QS. Al-Fajr: 15-17, bahwa banyak atau sedikitnya rezeki bukan ukuran penghormatan Allah.
- Gunakan harta untuk kebaikan. Jika Allah beri kelapangan, perbanyak infaq dan zakat. Jika Allah beri kesempitan, tetap bersyukur dan bersabar.
- Jangan sampai dunia melalaikan kita dari akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang di pagi hari merasa aman di rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)
Maka, jangan tertipu oleh dunia! Dunia ini hanya sementara. Yang utama adalah bagaimana kita menggunakannya untuk jalan menuju surga.
Wallahu a’lam.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Ashar, 12 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
#hisyamkhoirulazzam #kalisantripabelan
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
