
Pentingnya Al-Baqarah dan Ali Imran
Baru saja kita diminta membaca bersama-sama Surat Al-Baqarah, jangan menganggapnya sebagai kebetulan. Anggaplah ini sebagai isyarat dari Allah bahwa kita harus semakin akrab dengan Al-Baqarah ini. Syukur-syukur jika kita sudah benar-benar mendalaminya. Lebih bagus lagi jika dilanjutkan dengan surat pasanganya, Ali Imron, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah oleh kalian dua surah yang bercahaya (Az-Zahrawain), yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti dua awan atau seperti dua kelompok burung yang menaungi pembacanya” (HR. Muslim, no. 804).
Jika harus memilih, maka yang lebih utama untuk dihafal dan difahami adalah Al-Baqarah terlebih dahulu, di dalamnya terdapat banyak hukumah dan pedoman kehidupan secara lengkap. Ali Imran tetap penting, tetapi bisa diikuti dengan sebagian dulu.
Konsep Amal yang Berpasangan (Zaujaini)
Dalam Islam, banyak amalan yang memiliki pasangan atau kembaran, dan jika dilakukan secara berpasangan, maka akan lebih sempurna. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang berinfaq dua macam (zaujaini) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil di surga…” (HR. Bukhari, no. 3666; Muslim, no. 1027).
Beberapa contoh amalan yang berpasangan dalam Islam:
- Infak → Terang-terangan & sembunyi-sembunyi (QS. Al-Baqarah: 271)
- Puasa → Qiyamullail (QS. Al-Muzzammil: 2-4)
- Tilawah Al-Qur’an → Siyam (QS. Al-Baqarah: 185)
- Shalat Fardhu → Rawatib (HR. Muslim, no. 728)
- Haji → Umrah (HR. Tirmidzi, no. 810)
- Jihad → Berbakti kepada orang tua (HR. Bukhari, no. 3004)
- Al-Qur’an → Hadits (QS. Al-Hasyr: 7)
Baru bisa mengerjakan salah satu dari pasangan ini tentu tetap berpahala, tetapi menyempurnakan dengan kembarannya akan lebih utama dan lebih mudah diterima oleh Allah.
Konsep Infak dan Tabungan dalam Islam
Dalam Islam, ada keseimbangan antara menabung dan berinfak. Menyimpan harta boleh, tetapi harus tetap berinfaq agar tidak dianggap sebagai menimbun. Allah berfirman:
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan (Al-Afwa)’…” (QS. Al-Baqarah: 219).
Maksud dari Al-Afwa adalah ketika kebutuhan sudah terpenuhi dan masih ada kelebihan saldo, maka kelebihan itu lebih baik diinfakkan. Para sahabat memiliki pandangan berbeda mengenai menginfaqkan tabungan:
- Abu Bakar Ash-Shiddiq: Sering menjadikan saldo nol setiap berinfaq.
- Umar bin Khattab: Menyisakan setengah untuk kebutuhan.
Ulama juga berbeda pendapat dalam praktiknya, tetapi semuanya berusaha mengamalkan ilmu, bukan meninggalkan amal.
Barokah dalam Al-Qur’an dan Lailatul Qadr
Al-Qur’an disebut sebagai kitab yang penuh keberkahan (kitabun mubarak), karena dampaknya luar biasa meskipun amalan kita kecil. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat…” (HR. Tirmidzi, no. 2910).
Demikian pula dengan Lailatul Qadr, yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Ibadah 10 Jam, nilainya lebih baik dari 80 tahun, ibarat investasi 100.000 hasilnya 3 Milyar, subhanallah, maka jangan sampai kita menyia-nyiakan malam ini hanya dengan tidur tanpa niat mengejar keutamaannya.
Menghafal dan Memahami Al-Baqarah
Setiap Muslim sebenarnya memiliki bakat untuk menghafal Al-Baqarah, hanya saja sering kali kurang percaya diri. Padahal sudah punya DP 5 ayat awal + ayat kursi + 2 ayat terakhir+ayat puasa, lumayan sudah berkurang hampir 10 ayat dari 286. Sisanya yang 270an lagi kan tinggal diakrabkan seperti DP yang sudah di punya, sederhananya menghafal adalah hasil dari kebiasaan membaca. Ingat, hafal itu bonus, tujuan ber-Al-Qur’an kita adalah agar bisa lebih dekat dengan Allah, investasi besar untuk keselamatan Akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim, no. 804).
Selain itu, penghafal Al-Baqarah juga akan memiliki perlindungan dari sihir (anti batholah), sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa membaca dua ayat terakhir dari Al-Baqarah pada malam hari, maka itu sudah mencukupinya.” (HR. Bukhari, no. 5009; Muslim, no. 807).
Para sahabat dahulu tidak semua hafal, tetapi mereka akrab dengan surat ini hingga mereka tahu di mana letak ayat tertentu ketika disebutkan.
Makna di Balik Nama Al-Baqarah
Uniknya, kenapa surat ini dinamai Al-Baqarah (Sapi). Ini bisa kita fahami bahwa Al-baqarah mengajarkan tentang karakter orang yang lambat dalam menerima perintah Allah, sebagaimana kisah Bani Israil yang bertele-tele ketika diperintahkan menyembelih sapi (QS. Al-Baqarah: 67-74). Sikap mereka ini menjadi peringatan agar kita jangan sampai menunda-nunda dalam melaksanakan perintah Allah.
Semoga Allah memudahkan kita untuk semakin akrab dengan Al-Qur’an, khususnya Al-Baqarah dan Ali Imran, sehingga hidup kita semakin penuh dengan keberkahan. Aamiin.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Murokaz LTQ Markaz, 8 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
