Pegiat Al-Qur’an Sejati: Utrujjah yang Semerbak

Muqodimah

Menjadi seorang pegiat Al-Qur’an itu bukan sekadar aktivitas rutin menghafal dan mengajarkan, tetapi sebuah perjalanan ruhiyah yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidup. Allah berfirman:

“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An’am: 162)

Seorang pegiat Al-Qur’an harus menjadikan mukjizat ini sebagai pedoman hidupnya, dibaca, dihafal, diamalkan hingga menjadi cahaya bagi umat. Dalam perjalanan ini, ada tantangan, ada penolakan, ada ketidaksepakatan. Namun, itu semua bukan alasan untuk menjadi kontra produktif. Sebab, tugas seorang mukmin adalah beramal, sementara tugas memberi hidayah adalah hak prerogatif Allah.

Menjadi Utrujjah: Wangi dan Manis di Jalan Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perumpamaan orang beriman yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah: baunya harum dan rasanya manis. Perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma: rasanya manis tetapi tidak berbau. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti bunga: baunya wangi tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti labu pahit: tidak berbau dan rasanya pahit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang pegiat Al-Qur’an harus menjadi utrujjah, yang memberi manfaat bagi umat dengan aroma keimanan dan rasa manis, Rasulullah ﷺ. Bukan hanya memiliki hafalan, tetapi juga sikap yang lembut, sabar, dan istiqamah dalam dakwah.

Di antara tantangan pegiat Al-Qur’an adalah rasa deg-degan ketika menyetorkan hafalan, hilangnya hafalan saat berhadapan dengan musyrif, atau kondisi mukhoyyam Alquran yang tidak nyaman. Semua itu adalah bagian dari proses fisabilillah, yang melatih kesabaran dan keikhlasan.

Jangan sampai ketika usulan tidak digubris atau tidak dilaksanakan, kita justru merasa lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, hadapilah semua itu dengan rasa syukur. Dakwah adalah medan yang penuh dengan ujian, termasuk celaan dari orang-orang yang tidak suka. Allah telah mengingatkan:

“Sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa perkataan mereka menyedihkan hatimu, tetapi sesungguhnya mereka bukan mendustakan kamu, melainkan orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”
(QS. Al-An’am: 33)

Seorang pegiat Al-Qur’an harus selalu bersyukur dan terus beramal, tanpa bergantung pada penerimaan manusia.

Pentingnya Qiyamullail bagi Pegiat Al-Qur’an

Salah satu latihan utama bagi pegiat Al-Qur’an adalah qiyamullail, sebagaimana diperintahkan dalam Surat Al-Muzammil:

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).”
(QS. Al-Muzammil: 1-2)

Dalam surat ini, Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk melatih diri dengan shalat malam sebelum memulai dakwah kepada umat. Ini menunjukkan bahwa kekuatan spiritual adalah fondasi utama dalam perjuangan.

Dalam hadis disebutkan bahwa setan mengikat manusia saat tidur dengan tiga ikatan:

“Setan mengikat tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan. Jika ia bangun dan berdzikir kepada Allah, maka lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, lepaslah ikatan kedua. Dan jika ia shalat, maka lepaslah semua ikatannya. Sehingga ia menjadi bersemangat dan berjiwa bersih. Jika tidak, ia akan merasa malas dan berjiwa kotor.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang pegiat Al-Qur’an yang meninggalkan qiyamullail akan kehilangan aroma utrujjah-nya. Ia mungkin masih bisa berdakwah, tetapi ruh perjuangannya melemah. Sebaliknya, orang yang menghidupkan qiyamullail akan Allah jaga dalam perjuangannya.

Membangun Komunitas Pegiat Al-Qur’an

Dakwah tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kebersamaan, struktur yang mendukung, dan sistem yang memastikan Al-Qur’an selalu menjadi bagian dari perjuangan. Oleh karena itu, dalam setiap halaqah, struktur organisasi, hingga pergerakan sosial, harus ada yang bertanggung jawab atas Al-Qur’an.

“Sungguh, Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula yang akan menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Tanpa Al-Qur’an, perjuangan hanya akan menjadi gerakan politik atau sosial biasa, yang rawan kehilangan berkah. Allah telah menjamin pertolongan-Nya kepada orang-orang yang berpegang teguh pada kitab-Nya, sebagaimana dalam kisah Nabi Musa:

“Maka Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.”
(QS. Asy-Syu’ara: 63)

Ketika Bani Israil sudah merasa tidak ada jalan keluar dari kejaran Fir’aun, Allah menolong mereka dengan cara yang tidak mereka bayangkan. Demikian pula dalam dakwah, jika kita yakin dengan pertolongan Allah, maka kemenangan pasti akan datang.

Penutup: Menghidupkan Malam, Menghidupkan Perjuangan

Dalam Al-Qur’an, kata “lail” (malam) lebih sering disebut dibanding “nahr” (siang). Ini menunjukkan bahwa malam adalah waktu yang sangat penting untuk membangun kekuatan spiritual. Ibadah malam adalah ibadah yang tersembunyi, dan Allah akan membalasnya dengan kejutan yang tersembunyi pula.

Jika pegiat Al-Qur’an ingin memiliki aroma utrujjah yang semerbak, maka ia harus menghidupkan malamnya. Jangan hanya sibuk dengan aktivitas siang hari, tetapi kosong dari qiyamullail.

Bahagia adalah ketika Allah mengetahui kita dalam keadaan qiyamullail, meskipun minimalis. Sebab, qiyamullail bukan sekadar mengisi mutaba’ah, tetapi menjadi tabungan pertolongan Allah saat waktu terdesak.

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra’: 79)

Semoga kita semua menjadi pegiat Al-Qur’an sejati, yang hidup dan berjuang hanya untuk Allah, memiliki aroma keimanan yang semerbak, dan mendapatkan pertolongan Allah di dunia dan akhirat. Aamiin.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, 7 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar