
Alquran bukan sekadar kitab yang dibaca sesekali, melainkan ruh yang menghidupkan hati dan pergerakan dakwah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Alquran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi sahabatnya.”
(HR. Muslim No. 804)
Hadits ini menekankan bahwa Alquran harus menjadi sahabat kita, bukan sekadar bacaan sementara. Pegiat Alquran sejati adalah mereka yang memahami dan menjadikan Alquran sebagai bagian dari cara berpikirnya (fikrah). Salah satu ciri sederhana adalah ketika mendengar nama surat seperti Asy-Syura, langsung terbayang letaknya dalam mushaf, atau ketika ada ayat disebutkan, ia langsung bisa membedakan apakah itu ayat atau hadits.
Sebagaimana busana muslimah adalah busana yang mencerminkan identitas Islam, bukan sekadar pakaian yang disebut “baju muslim,” demikian pula pegiat Alquran harus mencerminkan kehidupan yang qurani. Selaras dengan perjuangannya dalam istiqomah membaca dan menghafal, ia juga akan memahami sunnah, siroh, bahkan menjadikan Alquran sebagai dustur (pedoman) dalam hidupnya.
Wahdatul Fikrah dalam Alquran
Alquran mengajarkan kesatuan pemahaman (wahdatul fikrah) dalam segala aspek kehidupan. Tidak ada ibadah yang terpisah dari misi besar Islam. Setiap ibadah harus melahirkan fikrah jihad dan perjuangan di jalan Allah. Perhatikan bagaimana Allah mengaitkan satu ibadah dengan jihad dalam ayat-ayat berikut:
1. Puasa dan Jihad
Allah mewajibkan puasa agar manusia bertakwa:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa…”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Namun, takwa yang dihasilkan dari ibadah ini tidak berhenti pada aspek spiritual semata. Selesai membahas bab puasa, Allah langsung membahas jihad di jalan-Nya:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah: 190)
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar ibadah pribadi, tetapi juga membangun kesiapan mental dan spiritual untuk berjihad membela agama Allah.
2. Haji dan Jihad
Allah memerintahkan manusia untuk menunaikan ibadah haji:
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 27)
Namun, ibadah ini tidak berdiri sendiri. Lagi-lagi setelah menjelaskan bab Haji, Allah menegaskan bahwa orang-orang beriman harus siap berjuang di jalan-Nya:
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka.”
(QS. Al-Hajj: 39)
Dari sini kita melihat bahwa ibadah dalam Islam bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi bagian dari perjuangan besar menegakkan agama Allah.
Menjadi Pegiat Alquran dengan Fikrah yang Menyeluruh
Seorang pegiat Alquran, walaupun kemampuannya masih terbatas, misalnya baru bisa mengajar tahsin atau menerima setoran hafalan, tetap harus memiliki fikrah Alquran yang menyeluruh—fikrah beribadah yang melahirkan semangat jihad. Setiap ibadah harus melahirkan kesiapan untuk berkorban di jalan Allah, baik dengan ilmu, tenaga, harta, maupun dakwah.
Kaderisasi dalam dakwah ini tidak boleh melemah. Generasi 90-an menunjukkan semangat nekat dalam membina, tanpa mencari alasan. Kini, sebagian pembina mengeluh susahnya membina dengan dalih menghadapi tantangan Gen-Z, seolah-olah tantangan baru lebih sulit dari sebelumnya, seolah-olah generasi 90-an tidak pernah menemui masalah. Padahal, semangat islahul ummah (perbaikan umat) adalah niat dasar membina, adalah landasan utama mengkader.
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang menghidupkan kalian…”
(QS. Al-Anfal: 24)
Alquran adalah ruh yang menghidupkan dakwah ini. Tanpa Alquran, pergerakan akan mati, kehilangan energi, dan akhirnya melemah. Oleh karena itu, pembina harus sadar bahwa Alquran adalah solusi bagi problem kaderisasi ini.
Kesungguhan dalam dakwah akan diuji, dan banyak yang tidak istiqomah serta gugur di tengah jalan. Ini telah terjadi sejak zaman dahulu. Namun, pegiat Alquran sejati akan terus berjalan di atas jalan ini dengan keyakinan bahwa Allah sedang memproses mereka menuju ustadziyatul alam—kepemimpinan Islam di dunia.
Sebagaimana Allah berfirman di akhir surat Al-Fath:
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang di antara mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya…”
(QS. Al-Fath: 29)
Semoga kita semua termasuk dalam barisan ini, barisan pegiat Alquran yang benar-benar menjadikan Alquran sebagai ruh dalam kehidupan dan perjuangan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Dzuhur, 7 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
