Sudah Sholat?

Apa satu pertanyaan yang paling Anda benci untuk diajukan? Jelaskan.

Dan maaf, jika pertanyaan itu menyakitkan.

Pertanyaan itu sederhana, hanya dua kata. Tapi saya tahu, tidak semua orang dapat menerimanya dengan mudah.

Saya pernah ragu sebelum mengucapkannya. Takut dianggap menggurui. Takut disalahpahami. Takut justru membuat seseorang menjauh, padahal niat saya hanya satu: mengingatkan dengan kasih sayang.

Tapi bagaimana mungkin saya diam, sementara saya tahu sholat adalah tiang agama? Bagaimana mungkin saya berpura-pura tak peduli, padahal saya mencintai saudara saya di jalan Allah?

Saya bukan orang yang paling sholeh. Saya pun masih belajar, masih berusaha memperbaiki diri. Namun, bukankah saling mengingatkan dalam kebaikan adalah tanda cinta?

Ketika saya bertanya, “Sudah sholat?” bukan berarti saya merasa lebih baik. Bukan berarti saya ingin menilai seseorang. Saya hanya takut… takut jika kita terlalu sibuk dengan dunia, hingga melupakan sebuah acara besar kita, acara berjumpa dengan Allah, berdiri entah berapa lama hanya untuk menjawab pertanyaan ini.

Saya tahu, mungkin ada yang merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ini. Mungkin ada yang tersinggung, merasa dihakimi, atau bahkan menganggap saya sok suci. Tapi lebih baik saya menanggung risikonya daripada membiarkan saudara saya berjalan tanpa peringatan.

Saya tidak ingin pertanyaan ini terasa seperti tuduhan. Saya ingin ia menjadi ungkapan kasih, sebagaimana seorang ibu yang dengan lembut membangunkan anaknya untuk sholat Subuh. Saya ingin ia menjadi jembatan, bukan dinding.

Namun yang lebih saya takutkan dari semua itu adalah… bagaimana jika pertanyaan ini tidak bisa kita jawab kelak di Padang Mahsyar?

Di hari itu, tidak akan ada pertanyaan lain sebelum sholat ditanyakan. Tidak ada interogasi tentang pekerjaan kita, jabatan kita, atau seberapa sukses kita di dunia. Hanya sholat yang akan diperiksa pertama kali. Jika sholat kita terjawab dengan baik, alhamdulillah, segala urusan lain akan menjadi lebih mudah. Tapi jika tidak…?

Bayangkan saat itu, di tengah jutaan manusia yang menunggu hisab, kita ditanya, “Bagaimana sholatmu?”
Dan kita hanya bisa terdiam.
Tidak ada alasan yang bisa kita buat. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Maka, ketika saya bertanya, “Sudah sholat?” ketahuilah bahwa itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah bentuk kepedulian. Itu adalah doa, agar kita sama-sama diingatkan. Itu adalah cara saya menunjukkan bahwa saya ingin kita bersama-sama menuju ridho Allah.

Dan maaf, jika pertanyaan ini terlalu menyakitkan.

====================

Hisyam Khoirul Azzam

Waktu sahur, 6 Maret 2025


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar