Qurbaanan: Mendekatkan Diri kepada Allah

Orang yang benar-benar ingin memahami kebaikan tidak akan mendengar sambil lalai. Mereka tidak mendengar kajian sambil melakukan hal lain seperti memasak atau bermain ponsel. Sebab, mendengar dengan sungguh-sungguh adalah tanda keseriusan dalam menuntut ilmu.

Muqaddimah

Kaum ‘Ad adalah salah satu kaum yang eksis pada zamannya, kuat secara fisik, dan memiliki peradaban yang maju. Namun, karena mereka kufur kepada Allah, semua kehebatan itu menjadi tidak bernilai dan akhirnya Allah membinasakan mereka. Sebagaimana firman-Nya:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ ۝ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ ۝
“Adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat kencang, yang Allah timpakan kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka kamu melihat mereka bergelimpangan seperti batang pohon kurma yang tumbang.” (QS. Al-Haqqah: 6-7)

Kaum ‘Ad yang begitu kuat saja bisa Allah hancurkan, apalagi kaum Quraisy yang tidak sekuat mereka. Hal ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang menolak kebenaran.

Sesembahan yang Tidak Bisa Menolong

Ketika azab datang, berhala yang mereka sembah tidak dapat menolong mereka. Mereka telah mengorbankan banyak hal demi sesembahan yang tidak berdaya. Sebagaimana firman Allah:

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ ٱللَّهِ ءَالِهَةًۭ لِّيَكُونُوا۟ لَهُمْ عِزًّۭا ۝ كَلَّا ۖ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّۭا ۝
“Dan mereka mengambil sesembahan selain Allah agar sesembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak! Sesembahan itu kelak akan mengingkari penyembahan mereka dan justru akan menjadi musuh bagi mereka.” (QS. Maryam: 81-82)

Orang kafir bahkan berqurban kepada sesembahan mereka, ada yang mempersembahkan lalat, ada yang menghabiskan uang setiap hari untuk membeli sesaji, berharap keselamatan dari sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat. Jika mereka bisa sabar dalam kebatilan, maka kita yang beriman kepada Allah seharusnya lebih bersabar dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Tilawah yang Bernilai Qurbaanan

Salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah adalah melalui tilawah Al-Qur’an. Tetapi, tilawah yang benar adalah tilawah yang mendekatkan hati kepada Allah, bukan sekadar membaca tanpa makna. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ ۝
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)

Maka, jika seseorang membaca Al-Qur’an dengan perlahan dan memahami maknanya, itu lebih bernilai daripada sekadar mengkhatamkan tanpa kedekatan dengan Allah. Bagi yang telah menghafal, hendaknya murajaah bukan hanya sekadar mempertahankan hafalan, tetapi sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.

Qurbaanan dalam Berbagai Bentuk

Segala bentuk ketaatan adalah pendekatan diri kepada Allah. Tidak hanya dalam ibadah ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga dalam melayani umat. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍۢ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ ۚ هُوَ خَيْرًۭا وَأَعْظَمَ أَجْرًۭا ۚ
“Dan apa saja kebaikan yang kamu lakukan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah sebagai balasan yang lebih baik dan lebih besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Ketika seseorang menolak kebaikan, maka akan berlaku sunnatullah istibdal, Allah akan menggantikannya dengan kaum lain yang mau menerima kebaikan itu. Sebagaimana dalam Al-Qur’an:

وَإِن تَتَوَلَّوْا۟ يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓا۟ أَمْثَٰلَكُمْ ۝
“Dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikanmu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad: 38)

Mendengar dengan Sungguh-Sungguh

Salah satu ciri orang yang mendapat hidayah adalah kesungguhannya dalam mendengar kebaikan. Allah berfirman:

وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًۭا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ ۝
“Dan (ingatlah) ketika Kami menghadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata (kepada sesama mereka), ‘Diamlah (untuk mendengarkan)!’ Ketika telah selesai (dibacakan), mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)

Orang yang benar-benar ingin memahami kebaikan tidak akan mendengar sambil lalai. Mereka tidak mendengar kajian sambil melakukan hal lain seperti memasak atau bermain ponsel. Sebab, mendengar dengan sungguh-sungguh adalah tanda keseriusan dalam menuntut ilmu.

Kesimpulan:

  1. Qurbaanan adalah segala bentuk ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Tilawah yang bernilai qurbaanan adalah tilawah yang membawa kedekatan dengan Allah, bukan sekadar membaca.
  3. Segala bentuk kebaikan, termasuk melayani umat, adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah.
  4. Mendengar ilmu harus dilakukan dengan kesungguhan, karena itu adalah tanda seseorang serius dalam menuntut ilmu.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. Allahumma amin.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 5 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar