
Dalam kehidupan ini, sering kali kita menyaksikan ketidakadilan terhadap mereka yang lemah dan tidak berdaya. Perempuan (al-banāt), anak yatim, fakir miskin, dan kaum difabel kerap menjadi objek eksploitasi, diperjualbelikan, dipermainkan, atau ditindas oleh mereka yang lebih kuat. Tidak sedikit pula orang yang memanfaatkan kelemahan orang lain untuk keuntungan pribadi, seperti pengusaha yang menipu rakyat kecil dengan praktik curang, atau suami yang menindas istrinya hanya karena ia tak berdaya.
Namun, Islam datang sebagai agama yang menegakkan keadilan dan kasih sayang. Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ telah berulang kali menegaskan kewajiban kita untuk berbuat baik kepada mereka yang lemah. Tanpa iman dan ketakwaan, mustahil manusia bisa bersikap empati, tawadhu, dan adil terhadap sesama.
1. Perhatian Islam terhadap Kaum Lemah
Islam mengajarkan bahwa orang-orang yang lemah harus diperhatikan dan dimuliakan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Carilah aku di tengah orang-orang yang lemah. Sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong karena adanya orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Abu Dawud, No. 2594)
Bahkan, Rasulullah ﷺ secara khusus berpesan agar kita berbuat baik kepada anak yatim dan kaum miskin:
“Barang siapa mengurus anak yatim milik seorang Muslim dalam urusannya, maka dia akan bersamaku di surga seperti ini (beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan).” (HR. Bukhari, No. 5304)
Kesalahan terbesar adalah ketika seseorang justru memanfaatkan ketidakberdayaan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu ia menyulitkan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa yang mengurusi urusan umatku lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka berbuat baiklah kepadanya.” (HR. Muslim, No. 1828)
2. Ketamakan dan Keserakahan sebagai Sumber Kezaliman
Orang-orang yang lemah sering kali menjadi korban kerakusan manusia. Seperti halnya dalam kasus penipuan massal dengan praktik kecurangan, seperti pengoplosan BBM atau bisnis haram lainnya yang menipu rakyat kecil demi keuntungan triliunan rupiah. Padahal, Allah ﷻ sangat membenci orang yang menipu dan mengambil hak orang lain dengan cara yang zalim.
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam takaran dan timbangan), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)
Seorang mukmin yang sejati tidak akan sanggup tidur nyenyak jika menipu satu orang saja, apalagi menipu jutaan orang. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim, No. 101)
Betapa berat hisab bagi orang-orang yang menggunakan kelemahan manusia sebagai alat untuk meraih keuntungan duniawi.
3. Bersyukur dan Ridha atas Rezeki Allah
Manusia sering kali tidak puas dengan apa yang dimilikinya, padahal Allah ﷻ sudah menentukan kadar rezeki masing-masing. Orang yang tidak ridha dengan ketetapan Allah, seberapa pun hartanya, akan selalu merasa kurang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (merasa cukup dan puas).” (HR. Bukhari, No. 6446)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Siapa yang tidak puas dengan sedikit, maka ia tidak akan pernah puas dengan banyak.”
Contohnya saat berbuka puasa. Seberapa banyak pun makanan yang tersaji di meja, hanya sedikit yang bisa kita makan. Begitulah dunia, tampak banyak tetapi tidak akan pernah cukup jika tidak disyukuri.
4. Berpihak kepada Orang Lemah, Bukan kepada Kaum Elit
Salah satu contoh dalam sejarah Islam adalah kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika menghadapi Abu Sufyan.
Dalam sebuah peristiwa, Abu Sufyan mendatangi para sahabat yang tergolong lemah. Mereka merasa Abu Sufyan dan kaumnya belum merasakan cukup balasan atas kezaliman yang telah mereka lakukan terhadap kaum Muslimin. Mereka berkata, “Pedang-pedang ini belum berfungsi dengan baik terhadap musuh-musuh Alloh“
Mendengar hal ini, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu membela Abu Sufyan dan menegur kaum mukmin yang lemah. Namun, Rasulullah ﷺ justru menegur Abu Bakar dan bersabda:
“Wahai Abu Bakar, jika engkau membuat mereka marah, maka engkau telah membuat Allah murka kepadamu.” (HR. Muslim, No. 2504)
Abu Bakar segera meminta maaf kepada mereka, dan mereka pun memaafkannya.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa dalam kehidupan sosial, kita tidak boleh membela kaum elit yang sering menzalimi. Bahkan diam lebih baik daripada membela mereka. Islam mengajarkan kita untuk berpihak kepada orang-orang tertindas, bukan kepada mereka yang berkuasa tetapi zalim.
Kesimpulan: Peduli kepada yang Lemah adalah Ciri Orang Bertakwa
Islam menegaskan bahwa tanda keimanan seseorang terletak pada kepeduliannya terhadap orang-orang lemah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menolong suatu kaum, kecuali karena orang-orang lemah di antara mereka, karena doa mereka, ibadah mereka, dan ketulusan mereka.” (HR. An-Nasa’i, No. 3178)
Karena itu, mari kita jaga hati dan perbuatan kita agar tidak terjerumus dalam kezaliman. Jangan pernah memanfaatkan kelemahan orang lain untuk kepentingan pribadi, dan selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Dengan demikian, kita akan meraih kekayaan jiwa dan ridha Allah ﷻ di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Ashar, 5 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
