
Salah satu bentuk istijabah (respon yang baik) terhadap Allah adalah belajar dan berkomitmen terhadap Al-Qur’an. Orang yang enggan belajar Al-Qur’an diibaratkan seperti orang yang buta, tidak mampu melihat jalan yang benar. Sebab, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia:
اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ
“Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)
Orang yang mempelajari, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Namun, menghafal saja tidak cukup. Komitmen terhadap Al-Qur’an harus disertai dengan amal shalih, adab, dan akhlak yang baik.
1. Syafaat bagi Orang yang Beriman dan Keluarganya
Allah menjanjikan bahwa anggota keluarga bisa saling memberikan syafaat selama mereka beriman, walaupun tingkat keimanan mereka berbeda:
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ
“Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang yang shalih dari nenek moyang, istri-istri, dan keturunan mereka, sedangkan para malaikat masuk ke tempat mereka dari setiap pintu.” (QS. Ar-Ra’d: 23)
Namun, orang yang beriman tidak boleh saling mengandalkan syafaat keluarganya. Mereka harus saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Terlebih, syuhada dapat memberi syafaat kepada 70 anggota keluarganya, dan penghafal Al-Qur’an yang sholih tentu juga dapat memberi syafaat keluarganya jika ia menjaga hafalannya dengan baik dan mengamalkannya.
2. Komitmen dalam Menghafal dan Mengamalkan Al-Qur’an
Bagaimana bisa penghafal yang sholih tidak bisa memberi syafaat?, Menghafal Al-Qur’an adalah amalan yang istimewa. Prosesnya membutuhkan kesabaran dalam menghafal, mengulang (muraja’ah), dan mengamalkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah para ahli Al-Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad)
Namun, seorang penghafal Al-Qur’an juga bisa tergugat di hadapan masyarakat jika ia tidak mentadaburi tidak mengamalkan apa yang dihafalnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-Qur’an bisa menjadi hujjah bagimu atau justru menjadi hujjah yang memberatkanmu.” (HR. Muslim)
Maka, jangan sampai ada hafizh yang:
- Tidak shalat berjamaah
- Dzalim kepada istrinya
- Tidak menjaga akhlaknya
Jika sampai seperti ini, hendaknya ia segera bertaubat dan memperbaiki komitmennya dengan Al-Qur’an.
3. Mitsaq: Komitmen dalam Ketaatan
Allah berfirman:
الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَۙ
“Orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian.” (QS. Ar-Ra’d: 20)
Mitsaq adalah bentuk perjanjian yang kuat dengan Allah. Contoh:
- Seseorang berniat khatam Al-Qur’an 5 kali di bulan Ramadhan dan berusaha merealisasikannya, meskipun hasilnya tidak mencapai target.
Contoh kebalikannya:
- Seorang yang berjanji untuk bersedekah ketika kaya, tetapi setelah kaya justru bakhil. Jika seseorang melanggar janjinya, itu bisa menjadi tanda kemunafikan.
Allah Maha Mengetahui isi hati. Jika kita ingin berbuat baik, jangan ragu untuk memulai meskipun kecil, karena Allah akan menolong hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
4. Keutamaan Silaturahmi dan Bahayanya jika Diputus
Silaturahmi adalah bagian dari perintah Allah yang harus disambungkan:
وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, takut kepada Tuhan mereka, dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d: 21)
Orang yang tidak mau menyambung silaturahmi termasuk perusak bumi. Jika masyarakat tidak lagi menjaga silaturahmi, mereka akan hidup dalam permusuhan dan perpecahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, sesibuk apa pun, seorang anak harus tetap berusaha menyambung hubungan dengan orang tuanya. Bahkan jika perlu berhutang demi menjaga hubungan dengan orang tua atau keluarga dekat, asalkan ada niat mengembalikan, itu lebih baik daripada memutus silaturahmi.
5. Kecurangan dan Kerusakan di Muka Bumi
Kecurangan sekecil apa pun bisa menyebabkan kehancuran. Allah sangat murka terhadap orang-orang yang berlaku curang dalam timbangan:
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ
“Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam timbangan.” (QS. Al-Mutaffifin: 1)
Apalagi jika kecurangan tersebut dalam jumlah besar. Banyaknya korupsi dan ketidakadilan dalam timbangan adalah sebab utama rusaknya suatu bangsa.
Begitu pula dalam berkomitmen terhadap Al-Qur’an. Jika seseorang menghafal tetapi tidak mengamalkannya, maka ia termasuk dalam kategori orang yang merusak janji dengan Allah:
وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِؕ اُولٰۤىٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ
“Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (QS. Ar-Ra’d: 25)
Kesimpulan
- Belajar dan mengamalkan Al-Qur’an adalah bagian dari istijabah kepada Allah.
- Keluarga yang beriman dapat saling memberikan syafaat, tetapi tetap harus berlomba dalam kebaikan.
- Menghafal Al-Qur’an harus disertai dengan akhlak dan amal shalih.
- Menjaga silaturahmi adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan.
- Kecurangan, baik dalam muamalah maupun dalam komitmen terhadap agama, akan membawa kehancuran di dunia dan akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang berkomitmen terhadap Al-Qur’an dan istijabah terhadap perintah-Nya. Aamiin.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Ashar, 4 Maret 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
