Sholat mulu, dicari emak, kena fitnah, bonus karomah!

Muqaddimah

Kisah Juraij adalah salah satu kisah yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita, terutama dalam hal ketaatan kepada Allah, menghadapi fitnah, serta memahami prioritas dalam beribadah. Kisah ini diriwayatkan dalam hadits shahih dan mengandung hikmah mendalam bagi para ahli ibadah serta orang-orang yang berdakwah di jalan Allah.

Kisah Juraij: Ahli Ibadah yang Difitnah

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang Juraij, seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang membangun tempat khusus (soumah) untuk beribadah. Suatu hari, ibunya datang dan memanggilnya ketika ia sedang shalat. Juraij ragu, apakah ia harus melanjutkan shalat atau memenuhi panggilan ibunya. Ia memilih melanjutkan shalat, dan ibunya pun pergi. Hal ini berulang selama tiga hari, hingga akhirnya ibunya marah dan berdoa,

“Ya Allah, jangan Engkau matikan dia sebelum dia bertemu dengan para pelacur!”

Doa seorang ibu yang marah ini pun dikabulkan.

Juraij yang dikenal sebagai ahli ibadah mulai menjadi terkenal, dan dalam kondisi ini, fitnah datang. Seorang wanita pezina yang gagal merayunya akhirnya berzina dengan seorang penggembala kambing. Setelah melahirkan, wanita ini mengaku bahwa bayi itu adalah anak Juraij. Masyarakat marah, menghancurkan tempat ibadahnya, dan memukulinya.

Juraij yang tidak tahu-menahu tentang fitnah ini bertanya mengapa ia diperlakukan demikian. Ketika dijelaskan bahwa ia dituduh berzina, ia meminta bayi itu dibawa kepadanya. Setelah berwudhu dan shalat, ia bertanya kepada bayi tersebut, “Siapa ayahmu?” Dengan izin Allah, bayi itu menjawab, “Ayahku adalah penggembala kambing.”

Masyarakat pun sadar bahwa mereka telah berbuat zalim. Mereka ingin mengganti tempat ibadah Juraij dengan emas, tetapi Juraij menolak dan meminta agar dikembalikan seperti semula.

Pelajaran Penting dari Kisah Juraij

1. Prioritas dalam Beribadah: Mengutamakan Orang Tua

Hadits ini mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada ibadah sunnah. Dalam Islam, jika seorang anak sedang shalat sunnah lalu dipanggil oleh orang tuanya, maka ia wajib menjawab panggilan itu. Dalam shalat wajib, ia diperbolehkan mempercepatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
رِضَى اللَّهِ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua.”
(HR. Tirmidzi, no. 1899, dinilai hasan)

Juraij mengabaikan panggilan ibunya karena ia mengira ibadahnya lebih utama. Namun, dalam syariat Islam, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang lebih besar dibandingkan ibadah sunnah. Jika situasi ini terjadi pada kita, maka wajib mendahulukan orang tua.

2. Hati-Hati dengan Doa Orang Tua

Doa orang tua, baik yang positif maupun negatif, sangat mustajab. Dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
“Tiga doa yang pasti dikabulkan tanpa keraguan: doa orang yang terzalimi, doa orang yang bepergian, dan doa orang tua kepada anaknya.”
(HR. Abu Dawud, no. 1536, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Orang tua harus bijak dalam marahnya. Jangan sampai mengeluarkan doa buruk terhadap anak, karena bisa menjadi kenyataan. Sebaliknya, biasakan mendoakan kebaikan.

3. Fitnah bagi Orang Shalih adalah Keniscayaan

Juraij difitnah karena ketakwaannya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar ujian yang akan dihadapinya. Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)

Dalam sejarah Islam, para ulama dan ahli ibadah sering difitnah. Di banyak tempat, seorang muslim yang istiqamah bisa mengalami diskriminasi, bahkan dipecat dari pekerjaannya. Namun, ujian yang datang karena ketakwaan akan bernilai tinggi di sisi Allah.

4. Karomah bagi Orang yang Ikhlas dalam Ibadah

Juraij mendapatkan karomah dari Allah, yakni dapat berbicara dengan bayi. Karomah ini diberikan kepada orang-orang shalih yang ikhlas dalam ibadahnya. Para ulama mengatakan bahwa keikhlasan dalam beramal adalah kunci pertolongan Allah. Jika seseorang berdakwah dengan keikhlasan, Allah akan membelanya, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
“Sesungguhnya Kami pasti menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari ketika para saksi berdiri (hari kiamat).”
(QS. Ghafir: 51)

5. Keteguhan dalam Menghadapi Ujian

Juraij tetap bersabar dan tidak membalas kezaliman masyarakat. Ia hanya meminta agar tempat ibadahnya dikembalikan seperti semula, tanpa meminta ganti rugi berlebihan. Ini menunjukkan ketawadhuan dan kefaqihan dalam menyikapi fitnah.

Kesimpulan

Kisah Juraij mengajarkan bahwa ibadah yang istiqamah akan mengangkat derajat seseorang, tetapi juga akan mendatangkan ujian. Seorang muslim harus memahami prioritas dalam ibadah, yaitu mendahulukan hak orang tua daripada ibadah sunnah.

Selain itu, kisah ini menjadi pelajaran bagi orang tua agar tidak mudah melontarkan doa buruk terhadap anak-anaknya. Di sisi lain, bagi orang yang berdakwah dan beribadah dengan ikhlas, mereka harus siap menghadapi ujian dan fitnah. Namun, jika tetap istiqamah, Allah pasti akan membela mereka sebagaimana Dia membela Juraij.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang istiqamah dalam ibadah, bijak dalam berbakti kepada orang tua, dan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Aamiiin…

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, 26 Februari 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar