
Di sepanjang sejarah, Allah telah menurunkan adzab kepada umat yang durhaka, seperti kaum ‘Ad yang menantang Nabi Hud ‘alaihis salam. Bahkan pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, ada juga orang-orang yang menantang disegerakannya adzab. Namun, karena rahmat dan kasih sayang Allah, adzab tidak diturunkan pada masa beliau ﷺ. Meskipun demikian, jika adzab akhirnya turun dan seseorang tetap tidak beriman, maka hukuman Allah akan lebih berat.
Allah berfirman:
“Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ (Bukan! Itu adalah) justru adzab yang kamu minta agar disegerakan, (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih.”
(QS. Al-Ahqaf: 24)
Kekhawatiran Rasulullah ﷺ terhadap Awan Mendung
Suatu ketika, Rasulullah ﷺ merasa khawatir saat melihat awan mendung yang sangat gelap. Beliau tidak serta-merta menganggapnya sebagai hujan berkah, melainkan mengingat peristiwa kaum ‘Ad yang dihancurkan dengan angin topan selama tujuh malam delapan hari tanpa henti.
Allah berfirman:
“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang, yang Allah tundukkan kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka kamu akan melihat kaum itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka adalah batang pohon kurma yang telah lapuk.”
(QS. Al-Haqqah: 6-7)
Dari sini, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita pentingnya menghadirkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika dihadapkan pada situasi yang mirip dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Sikap ini disebut سريع الاستشهاد (cepat dalam menyebut ayat Al-Qur’an sebagai pelajaran hidup).
Adzab Allah Itu Bisa Datang Kapan Saja
Adzab Allah bisa datang kapan saja dan dalam bentuk apa saja. Banyak manusia lalai dan merasa aman dalam kemaksiatan, padahal adzab bisa datang saat mereka tidur atau di tengah kesibukan mereka.
Allah berfirman:
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami pada malam hari di waktu mereka sedang tidur? Ataukah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami pada waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain?”
(QS. Al-A’raf: 97-98)
Lebih mengerikan lagi, ketika adzab turun, ia tidak hanya menimpa orang-orang durhaka, tetapi juga bisa menimpa orang-orang yang beriman jika mereka tidak berusaha menghindarinya. Oleh karena itu, bergaul dengan orang-orang shalih dan aktif dalam kebaikan adalah salah satu cara untuk menghindari adzab Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika suatu kaum melihat kemungkaran tetapi mereka tidak mencegahnya, maka Allah akan menimpakan adzab kepada mereka secara menyeluruh.”
(HR. Abu Dawud, No. 4338, Hasan)
Pelajaran dari Kaum ‘Ad: Bahaya Kesombongan
Kaum ‘Ad memiliki keunggulan duniawi yang luar biasa: kekuatan fisik, bangunan yang megah, dan peradaban yang maju. Namun, karena mereka tidak mengembalikan keunggulan itu kepada Allah, mereka terjerumus dalam kesombongan (istikbar).
Allah berfirman:
“Dan adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?’ Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih kuat dari mereka?”
(QS. Fussilat: 15)
Akhirnya, Allah mengirimkan angin Shorshor—angin kencang yang sangat dingin dan tidak bisa dihadapi oleh manusia.
Panca Indra: Pintu Hidayah yang Harus Dijaga
Allah memberikan manusia tiga alat utama untuk memahami kebenaran dan mendapatkan hidayah:
- Pendengaran (سَمْعٌ / sam‘un)
- Penglihatan (أَبْصَارٌ / abshar)
- Hati yang memahami (أَفْئِدَةٌ / af’idah)
Allah berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl: 78)
Namun, hidayah bisa dicabut jika manusia tidak menggunakannya dengan benar. Oleh karena itu, kita harus selalu takut kehilangan nikmat ini dan berusaha menjaganya dengan:
- Menggunakan pendengaran untuk mendengarkan Al-Qur’an dan ilmu yang bermanfaat.
- Menggunakan penglihatan untuk merenungkan ciptaan Allah dan menjauhi maksiat.
- Menggunakan hati untuk memahami kebenaran dan menghindari penyakit hati seperti sombong dan dengki.
Kesimpulan
- Menantang adzab adalah kebodohan besar, seperti yang dilakukan kaum ‘Ad.
- Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk selalu menghadirkan ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
- Adzab bisa datang kapan saja dan bisa menimpa siapa saja, termasuk orang beriman yang tidak berusaha menjauhinya.
- Bersama dengan orang-orang shalih adalah salah satu cara menyelamatkan diri dari adzab.
- Kesombongan karena keunggulan duniawi adalah sebab kebinasaan, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad.
- Pendengaran, penglihatan, dan hati adalah kunci hidayah, dan kita harus menjaganya agar tetap berfungsi dengan baik.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang selalu takut kepada-Nya, menjaga diri dari adzab-Nya, dan senantiasa mendekat kepada-Nya dengan amal shalih. Aamiin.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 26 Februari 2025
Catatan inspirasi dari nguping kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
