
1. Memenuhi Janji Allah dan Tidak Melanggar Perjanjian
Allah berfirman:
“الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَۙ”
“(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak membatalkan perjanjian.” (QS. Ar-Ra’d: 20)
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu sifat orang beriman adalah menepati janji mereka kepada Allah. Janji ini mencakup baiat kepada Rasulullah ﷺ, seperti yang terjadi pada masa sahabat. Mereka saling bertanya apakah sudah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka membaiat beliau untuk tetap beriman sepanjang hidup dan menjalankan syariat Allah.
Baiat dalam Islam bukan sekadar seremonial, tetapi komitmen kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang yang memenuhi janji ini senantiasa berpegang teguh pada prinsip wala’ (loyalitas) kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin (QS. Al-Ma’idah: 55). Salah satu bentuk wala’ yang kecil tetapi bernilai adalah berinfak untuk jamaah dan menjaga kerahasiaannya.
Diriwayatkan dalam hadits, ada seorang sahabat yang pernah melanggar rahasia jamaah dan kemudian mengikat dirinya di tiang masjid sebagai bentuk taubatnya. Rasulullah ﷺ tidak menyebutnya sebagai pengkhianat, dan Allah pun mengampuninya. Ini menunjukkan bahwa memenuhi janji kepada Allah adalah bagian dari ketakwaan yang harus dijaga dengan penuh keistiqamahan.
2. Menyambung Silaturahmi dan Takut kepada Hisab yang Buruk
Allah berfirman:
“وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِۗ”
“Orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan (seperti silaturahmi), takut kepada Tuhannya, dan takut (pula) pada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d: 21)
Silaturahmi adalah perintah Allah yang harus dijaga, baik dengan saudara kandung, orang tua, maupun pasangan. Dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak termasuk orang yang menyambung silaturahmi jika ia hanya membalas kunjungan, tetapi penyambung silaturahmi adalah yang tetap menyambung meskipun diputus.” (HR. Bukhari)
Orang yang menyambung silaturahmi meskipun pihak lain yang bersalah adalah orang yang paling mulia. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki rasa takut kepada Allah dan hisab yang berat di hari kiamat.
Dalam ayat ini, Allah menggunakan dua kata untuk takut: يَخْشَوْنَ (yakhsyauna) dan يَخَافُوْنَ (yakhafuna).
- “Yakhsya” berarti takut karena mengenal Allah dengan baik, memahami kebesaran-Nya, dan banyak menerima nikmat-Nya.
- “Yakhaf” berarti takut karena banyaknya dosa yang diperbuat.
Pemilihan kata ini menunjukkan bahwa orang yang beriman harus memiliki rasa takut kepada Allah dalam dua dimensi: karena pengenalan akan keagungan-Nya dan karena kesadaran akan kesalahannya sendiri.
3. Bersabar, Menegakkan Salat, dan Berinfak
Allah berfirman:
“وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ”
“Orang-orang yang bersabar demi mencari keridaan Tuhan mereka, mendirikan salat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, dan membalas keburukan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Ra’d: 22)
Kesabaran adalah kunci utama meraih ridha Allah. Kesabaran ini berlaku dalam berbagai aspek kehidupan:
- Suami bersabar dengan istrinya, begitu pula sebaliknya.
- Orang tua bersabar dalam mendidik anak-anaknya.
- Umat Islam bersabar dalam berjamaah, meskipun ada kekurangan di dalamnya.
Kesabaran juga diwujudkan dalam menegakkan salat dan berinfak. Salat adalah ujian keteguhan, sedangkan infak membutuhkan kesabaran karena sifatnya yang menguras harta. Oleh karena itu, Allah menyebutkan bahwa orang beriman menginfakkan hartanya baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Di akhir ayat ini, Allah menyebutkan prinsip penting dalam kehidupan beriman: وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ (membalas keburukan dengan kebaikan).
Ketika seseorang melakukan amal shalih, namun kemudian bermaksiat, hal ini akan menurunkan semangat amalnya. Oleh karena itu, seorang mukmin harus terus berjuang untuk membalas keburukan dirinya dengan memperbanyak amal shalih.
4. Balasan Sabar: Surga dan Syafaat Keluarga
Allah berfirman:
“جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ”
“(Yaitu) surga-surga ‘Adn. Mereka memasukinya bersama orang saleh dari leluhur, pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan mereka, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu.” (QS. Ar-Ra’d: 23)
Balasan dari kesabaran adalah surga, dan salah satu kenikmatan surga adalah berkumpulnya keluarga yang sama-sama beriman. Dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang beriman yang memiliki amal lebih tinggi di surga dapat memberikan syafaat kepada keluarganya yang derajatnya lebih rendah.” (HR. Ahmad)
Ini menunjukkan bahwa kehidupan keluarga di dunia bukan hanya sebatas hubungan fisik, tetapi memiliki dampak di akhirat. Mereka saling memberi syafaat dan menyempurnakan amal satu sama lain.
Dalam surga, malaikat akan menyambut penghuni surga dari segala penjuru dan mengucapkan salam penghormatan karena kesabaran mereka. Hal ini menunjukkan bahwa modal utama menuju surga adalah kesabaran.
Bahkan, bidadari surga (hurun ‘iin) sangat menghormati wanita dunia yang masuk surga, karena mereka masuk surga melalui perjuangan dan prestasi, sedangkan bidadari masuk surga karena ketetapan Allah.
Kesimpulan
Karakter orang beriman yang disebutkan dalam ayat-ayat ini adalah:
- Memenuhi janji kepada Allah.
- Menyambung silaturahmi dan takut kepada hisab.
- Bersabar, mendirikan salat, dan berinfak.
- Mendapatkan balasan surga bersama keluarga mereka.
Semoga kita termasuk dalam golongan ini. Amin.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, 25 Februari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
