Hidayah dan Usaha

Dr. Abdullah Abdul Majid Az Zindani (Pakar Ijaz Quran, dekan Univ Al Iman) saat silaturahmi ke Markaz Alquran Indonesia, 21 Februari 2025.

Muqodimah

Surah Al-Fatihah merupakan ayat yang paling sering dibaca setiap hari oleh kaum Muslimin, terutama dalam shalat. Surah ini bukan sekadar bacaan, tetapi sebuah doa dan panduan hidup yang mencerminkan esensi hubungan antara manusia dengan Allah. Jika dianalogikan dengan sebuah proposal, Al-Fatihah adalah bagian pengantar yang canggih dan menarik, yang mengajarkan bagaimana cara memuji Allah sebelum mengajukan permohonan.

Struktur Al-Fatihah sebagai Doa

Allah mengajarkan kita untuk memulai dengan pujian kepada-Nya sebelum mengajukan permintaan. Dalam Al-Fatihah, kita memuji Allah dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna:

  1. Ar-Rahman dan Ar-Rahim – Menggambarkan kasih sayang Allah yang luas.
  2. Maliki yaumid-din – Mengingatkan bahwa Allah adalah penguasa Hari Pembalasan.

Setelah pujian ini, barulah kita mengajukan permohonan terpenting: Ihdina siratal mustaqim (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Ini adalah permohonan yang diulang-ulang dalam setiap rakaat shalat, dan mustahil Allah melupakan doa hamba-Nya yang dipanjatkan terus-menerus.

Al-Qur’an sebagai Jawaban atas Doa

Allah tidak membiarkan doa kita tanpa jawaban. Setelah permohonan dalam Al-Fatihah, Allah memberikan petunjuk dalam Al-Baqarah:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Al-Qur’an adalah jawaban atas permintaan kita untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Namun, agar petunjuk ini berfungsi, kita harus berusaha memahami dan mengamalkannya.

Hidayah dalam Kehidupan Sehari-hari

Hidayah bukan hanya sekadar teori, tetapi harus diikuti dengan usaha. Seperti seseorang yang ingin berhaji, ia tidak bisa hanya duduk diam dan berdoa tanpa melakukan persiapan seperti membuat paspor, mengumpulkan biaya, dan mempelajari manasik haji. Bagaimana dia bisa protes doa nya tidak terkabul, saya sudah bedoa kenapa belum sampai Mekah? Padahal sekedar berdiri dari tempat doa nya saja tidak dia lakukan. Begitu pula dengan hidayah, Allah akan menolong hamba-Nya yang berusaha mencarinya:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari petunjuk Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Ketika seseorang telah melakukan ikhtiar, Allah akan mempermudah jalannya, sebagaimana sering terjadi dalam kehidupan: seseorang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu dipertemukan dengan guru yang tepat, atau seseorang yang ingin berhaji mendapatkan kemudahan finansial yang tidak terduga.

Al-Qur’an sebagai Panduan dalam Seluruh Aspek Kehidupan

Al-Qur’an bukan hanya membimbing individu, tetapi juga memberikan panduan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bernegara, bermasyarakat, hingga kehidupan setelah kematian. Dalam hal aqidah, kita harus merujuk kepada Al-Qur’an untuk memahami keberadaan dan keesaan Allah.

Allah mendorong manusia untuk berpikir dan merenungi alam semesta sebagai dalil aqli:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Semua ciptaan ini membuktikan keberadaan Sang Pencipta. Seperti halnya AC yang tidak mungkin ada tanpa pabrik yang membuatnya, demikian pula alam semesta ini tidak mungkin muncul tanpa Pencipta.

Keimanan yang Sempurna

Keimanan yang benar tidak cukup hanya dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam amal perbuatan:

  1. Hati.
  2. Lisan.
  3. Jasad.

Keimanan yang hanya di lisan tanpa amal adalah keimanan yang lemah, sebagaimana iman orang-orang Arab Badui yang hanya sebatas ucapan tanpa keyakinan mendalam.

“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 14)

Al-Qur’an sebagai Mukjizat Abadi

Mukjizat para nabi sebelumnya, seperti tongkat Nabi Musa, telah menjadi sejarah, tetapi Al-Qur’an tetap ada sebagai mukjizat yang terus hidup. Salah satu keajaiban terbesar Al-Qur’an adalah kemukjizatan ilmiahnya, yang terus dibuktikan oleh perkembangan sains.

Dengan kemajuan teknologi, kita semakin mudah mengakses kajian ilmiah tentang Al-Qur’an. Maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk sulit mempelajari mujizat Alquran zaman ini.

Saat keyakinan terhadap mukjizat Al-Qur’an sudah begitu mendalam, ia akan memberikan keteguhan bagi manusia. Contohnya, penduduk Gaza yang tetap teguh menghadapi ujian karena selalu kembali kepada Al-Qur’an.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Kesimpulan

Al-Fatihah bukan hanya doa, tetapi juga landasan dalam memahami Al-Qur’an. Permohonan ihdinas siratal mustaqim dijawab oleh Allah dengan memberikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Namun, petunjuk ini harus diikuti dengan memaksimalkan usaha mengejarnya, semoga hidayah bisa dengan mudah kita dapatkan.

Sebagai mukjizat abadi, Al-Qur’an harus terus dipelajari, dipahami, dan diamalkan agar kita dapat meraih hidayah yang membawa keberuntungan dunia dan akhirat. Semoga kita semua menjadi penghafal dan pengamal Al-Qur’an yang baik, dan Allah mengabulkan doa-doa kita. Aamiin.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Ashar, 21 Februari 2025
Catatan inspirasi kajian Dr. Abdullah Abdul Majid Az Zindani, kajian berbahasa Arab diterjemahkan langsung oleh KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar