Fikroh Istajibu

Makna Istajibu dalam Al-Qur’an

Istajibu berasal dari kata استجاب yang berarti “menyambut”, “menanggapi”, atau “menjawab dengan kepatuhan”. Dalam konteks keimanan, istajibu berarti seseorang dengan segera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya dengan keyakinan dan kepatuhan penuh.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu…”
(QS. Al-Anfal: 24)

Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin sejati harus siap menerima dan menjalankan setiap perintah Allah dan Rasul-Nya karena itulah yang akan menghidupkan hati dan ruhnya.

Keutamaan Istajibu dalam Kehidupan Seorang Mukmin

Setiap ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut tentang istajibu selalu disertai dengan janji kebaikan bagi orang yang menerapkannya. Di antara keutamaannya adalah:

  1. Mendapatkan Ampunan dan Keberkahan “…dan Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (ihsan) dengan kebaikan (al-husna).”
    (QS. Yunus: 26) Kata “husna” dalam ayat ini merujuk pada kebaikan dunia dan surga di akhirat bagi mereka yang menerima dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik.
  2. Menjadi Bagian dari Orang-Orang yang Berjihad di Jalan Allah
    Ramadan adalah bulan di mana Allah menuntut hamba-Nya untuk menjadi pribadi yang istajibu, dengan menjalankan ibadah puasa, qiyamul lail, dan memperbanyak amal kebaikan. Seorang yang terlatih dalam istajibu akan lebih siap dalam berjihad di jalan Allah.
  3. Menjadi Golongan yang Selamat dari Fitnah Dunia
    Sebaliknya, mereka yang menolak perintah Allah disebut sebagai lam yastajib (tidak mau menyambut seruan Allah), yang akhirnya terjerumus dalam fitnah dunia. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan (lam yastajib) kepada Allah, jika mereka memiliki segala yang ada di bumi dan sebanyak itu pula untuk menebus diri mereka, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu. Mereka itu mendapat perhitungan yang buruk (su’ul hisab) dan tempat mereka adalah Jahannam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
    (QS. Ar-Ra’d: 18)

Para Sahabat sebagai Teladan Istajibu

Kehidupan para sahabat Rasulullah ﷺ adalah contoh nyata dari istajibu. Mereka segera menerima dan menjalankan perintah Allah tanpa ragu-ragu karena keimanan mereka telah terbangun dengan kuat melalui ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) dan ma’rifatul kaun (mengenal Allah melalui ciptaan-Nya).

Allah memuji generasi sahabat dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nur: 51)

Sikap para sahabat sangat berbeda dengan iblis, yang menolak perintah Allah dengan alasan kesombongan dan hawa nafsu. Kisah iblis yang menolak bersujud kepada Adam menunjukkan bahwa istajibu harus berlandaskan pada kepatuhan mutlak kepada Allah, bukan pada akal dan hawa nafsu belaka.

Fikroh yang Benar sebagai Kunci Istajibu

Untuk bisa istajibu, seseorang harus memiliki fikroh (pola pikir) Islamiah yang benar. Fikroh ini mencakup pemahaman bahwa:

  1. Islam adalah satu-satunya kebenaran, sedangkan kebatilan tidak akan pernah bisa berdamai dengan kebenaran. Allah menegaskan: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Muhammad) sampai kamu mengikuti agama mereka…”
    (QS. Al-Baqarah: 120)
  2. Jangan tertipu dengan wajah manis musuh Islam
    Sebagian kaum muslimin terjebak dalam pemikiran yang salah setelah berinteraksi dengan musuh-musuh Islam. Misalnya, seseorang berangkat umroh lalu ke Al-Aqsha, pulang-pulang malah menganggap Yahudi itu baik, hanya karena mereka tersenyum dan bersikap ramah. Padahal, mereka adalah penjajah yang telah merampas tanah Palestina dan membantai kaum muslimin.
  3. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan…”
    (QS. Al-Baqarah: 208) Islam bukan hanya untuk kehidupan pribadi, tetapi juga untuk mengatur masyarakat dan negara. Karena itu, negara harus ditopang oleh aturan Islam, bukan sistem yang merugikan umat Islam.
  4. Fikroh Islamiah Harus Melahirkan Aksi
    Keyakinan yang benar tentang Islam harus diikuti dengan aksi nyata. Contohnya, ada dua orang yang sama-sama belum menghafal Al-Qur’an. Namun, yang satu mengatakan “Menghafal Al-Qur’an itu tidak ada gunanya”, sementara yang lain mengatakan “Saya ingin menghafal, tapi masih belum mampu”. Meskipun keduanya belum hafal, yang memiliki keinginan untuk menghafal adalah orang yang istajibu, karena dia tetap menerima perintah Allah meskipun belum bisa melaksanakannya dengan sempurna.

Kesimpulan: Istajibu sebagai Jalan Menuju Husna Dunia Akhirat

Sikap istajibu bukan hanya membawa kebaikan dunia, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Sebaliknya, mereka yang lam yastajib akan mendapatkan su’ul hisab dan tempat kembali yang buruk.

Karena itu, mari kita menjadi orang-orang yang segera menerima dan menjalankan ajaran Islam, baik dalam aspek pribadi, rumah tangga, masyarakat, maupun negara.

Sebagaimana Allah berfirman:

“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”
(QS. An-Nisa: 69)

Semoga kita semua tergolong dalam hamba-hamba Allah yang istajibu, yang akan mendapatkan husna (kebaikan dunia dan surga di akhirat). Aamiin.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya,  18 Februari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar