Hakikat Ucapan

Allah Ta’ala berfirman:

{ إِنَّهُۥ یَعۡلَمُ ٱلۡجَهۡرَ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ وَیَعۡلَمُ مَا تَكۡتُمُونَ }
“Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan yang terang-terangan dan mengetahui pula apa yang kamu sembunyikan.”
(QS. Al-Anbiya’: 110)

Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun ucapan manusia yang luput dari pengetahuan Allah. Baik yang diucapkan secara terang-terangan maupun yang masih tersembunyi di dalam hati, semuanya diketahui oleh-Nya. Ini menunjukkan bahwa lisan adalah amanah yang harus digunakan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Ucapan Baik atau Diam

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47)

Hadis ini memberikan pedoman bagi setiap Muslim dalam menggunakan lisannya. Pilihannya hanya dua: berkata yang baik atau diam. Kata-kata yang baik mencakup dzikir, doa, nasihat, dakwah, serta kata-kata yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, ucapan yang sia-sia, menyakitkan, atau penuh dosa harus ditinggalkan.

Menyeru kepada Kebaikan

Salah satu bentuk ucapan yang baik adalah dakwah—mengajak orang lain kepada kebaikan, terlepas dari apakah ajakan itu diterima atau ditolak. Allah berfirman:

{ ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِیلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُۚ }
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Orang tua yang terus-menerus mengingatkan anaknya untuk sholat, meskipun anaknya menolak, adalah contoh nyata dari prinsip ini. Tidak ada kata menyerah dalam berkata baik. Sebab, tugas seorang Muslim hanyalah menyampaikan, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah berhenti berdakwah meskipun sering mendapatkan penolakan.

Banyak Dzikir

Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah berdzikir kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah selalu menggandengkan dzikir dengan kata “banyak”, misalnya dalam firman-Nya:

{ وَٱلذَّٰكِرِینَ ٱللَّهَ كَثِیرࣰا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةࣰ وَأَجۡرًا عَظِیمࣰا }
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)

Berdzikir bukan sekadar mengucapkan lafaz-lafaz tertentu, tetapi juga mencakup membaca dan menghafal Al-Qur’an. Seorang penghafal Al-Qur’an harus memahami bahwa mengulangi hafalannya bukan sekadar untuk wisuda atau penghargaan duniawi, tetapi sebagai bentuk memperbanyak ucapan baik dan ibadah yang mengakar dalam jiwa hingga akhir hayat.

Bentuk Perkataan Terbaik

Membaca dan menghafal Al-Qur’an adalah aktivitas lisan yang paling mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.”
(HR. Bukhari No. 4937 dan Muslim No. 798)

Oleh karena itu, menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an bukan hanya bertujuan untuk bisa diwisuda, melainkan sebagai bagian dari memperbanyak perkataan baik yang dicintai Allah. Wisuda bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan seumur hidup yang harus terus dijaga hingga ajal menjemput.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga lisan dengan berkata baik, berdakwah, dan terus berinteraksi dengan Al-Qur’an. آمين.

======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 17 Februari 2025
Catatan inspirasi dari kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar