Pengembara Ilmu


Awal Perjalanan

Bang Alim adalah pemuda yang haus ilmu. Sejak kecil, ia sudah tertarik dengan berbagai pelajaran, mulai dari ilmu agama hingga ilmu dunia. Setiap kali ada majelis ilmu, ia selalu hadir di barisan depan. Ia berguru kepada banyak ulama, membaca kitab-kitab besar, dan menghafal banyak dalil.

Pada satu titik, Alim merasa dirinya telah memahami banyak hal. Ia mulai berdebat dengan teman-temannya, menunjukkan bahwa ia lebih tahu. Ia merasa telah mencapai derajat orang berilmu.

Namun, suatu hari, seorang gurunya berkata, “Alim, ilmu itu seperti lautan. Jangan cepat merasa telah sampai ke dasarnya.”

Alim hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia yakin bahwa dirinya sudah jauh lebih unggul dibandingkan banyak orang di sekitarnya.


Kenyataan yang Menampar

Dalam perjalanannya mencari ilmu, Alim bertemu dengan seorang ulama besar yang mengajarinya tafsir Al-Qur’an secara mendalam. Saat mempelajari ayat:

“Dan sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami mendatangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)

Ulama itu bertanya, “Alim, seberapa banyak ilmu yang kau ketahui dibandingkan dengan ilmu Allah?”

Alim terdiam. Ia mulai merenung. Ilmu yang ia banggakan ternyata hanyalah setetes air dibandingkan lautan ilmu Allah.

Semakin dalam ia belajar, semakin ia merasa bodoh. Ada begitu banyak cabang ilmu yang belum ia sentuh. Ia mulai memahami bahwa kebodohan sejati bukanlah tidak tahu, tetapi merasa telah tahu segalanya.


Cahaya Kesadaran

Alim terus mendalami ilmu. Orang-orang semakin menganggapnya sebagai ulama muda, padahal ia merasa semakin kecil di hadapan ilmu Allah.

Suatu malam, ia merenung di bawah langit penuh bintang. Ia teringat kisah Nabi Musa yang berguru kepada Khidir, bagaimana bahkan seorang nabi pun harus terus belajar.

Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Ya Allah, aku bukan siapa-siapa. Jika bukan karena petunjuk-Mu, aku tak akan tahu apa pun.”

Malam itu, ia bersujud lama sekali. Hatinya dipenuhi rasa syukur dan ketundukan.


Ilmu Sejati

Dalam perjalanan ilmunya, Alim menemukan bahwa ilmu sejati bukanlah sekadar banyaknya hafalan atau luasnya wawasan. Ilmu sejati adalah ilmu yang membimbing seseorang kepada ketundukan kepada Allah.

Ia teringat perkataan Imam Malik:

“Ilmu itu bukan tentang banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati.”

Maka, Alim mengubah tujuannya. Ia tidak lagi mengejar ilmu demi kebanggaan, tetapi demi mendekat kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.


Hikmah

Kisah perjalanan Bang Alim ini terinspirasi dari perjalanan banyak ulama besar, terutama Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Imam Al-Ghazali pernah merasa diri berilmu, tetapi kemudian menyadari bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang menuntun seseorang untuk semakin takut kepada Allah.

Juga dari Imam Syafi’i yang berkata:

“Setiap kali aku bertambah ilmu, semakin aku sadar bahwa aku tidak tahu.”

Dan tentu saja, dari firman Allah:

“Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

Bang Alim pun menyadari, bahwa perjalanan ilmu tidak akan pernah berakhir. Ia akan terus belajar, bukan untuk menjadi yang paling tahu, tetapi agar semakin mengenal Allah, Sang Maha Alim.


======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, Ahad 16 Februari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar