Ilmu yang Menyuburkan Hati

———–

Di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, hiduplah seorang kakek bijaksana bersama cucu laki-lakinya yang masih belia. Setiap hari, sang kakek meminta cucunya untuk mengambil air dari sungai menggunakan ember tua yang berlubang-lubang.

“Kakek, ember ini sudah rusak. Airnya banyak yang tumpah di jalan. Mengapa kita tidak mengganti ember yang lebih baik?” tanya sang cucu pada hari pertama.

Kakek hanya tersenyum. “Lakukan saja, Nak. Ambil airnya setiap hari dan isi gentong kita.”

Hari berlalu, minggu berganti, hingga bulan pun berlalu. Sang cucu semakin frustrasi. Meskipun ia telah berusaha keras menimba air dari sungai, gentong di rumah mereka tak pernah penuh. Separuh atau bahkan lebih air yang ia bawa selalu terbuang dalam perjalanan.

Hingga suatu hari, ia pun menyerah. Dengan wajah murung, ia menemui kakeknya.

“Kakek, aku lelah. Usaha ini sia-sia. Sudah berbulan-bulan aku mengambil air, tetapi gentong kita tidak pernah penuh. Maafkan aku, aku menyerah…” katanya sedih.

Kakek tersenyum dan menggandeng tangan cucunya. “Mari kita lihat jalan yang setiap hari kamu lalui,” ajaknya.

Sang cucu menuruti ajakan kakeknya. Ia terkejut melihat perubahan yang terjadi. Jalan setapak yang dulu gersang, kini penuh dengan rumput hijau. Bunga-bunga liar bermekaran di tepi jalan, memperindah pemandangan yang dulu tandus.

“Kamu lihat, Nak?” kata kakek dengan lembut. “Ember yang bocor itu mungkin tidak bisa memenuhi gentong kita, tetapi air yang jatuh di sepanjang jalan telah menyuburkan tanah dan menumbuhkan bunga yang indah. Begitu pula dengan ilmu. Tidak semua ilmu yang kamu pelajari akan langsung menghasilkan sesuatu yang besar atau terlihat. Tetapi percayalah, ilmu itu akan memberikan manfaat, meskipun kamu tidak menyadarinya.”

Sang cucu tertegun. Kakeknya melanjutkan, “Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

‘Katakanlah (Muhammad), apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ (QS. Az-Zumar: 9)

Menuntut ilmu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya. Ilmu yang kau pelajari mungkin tidak langsung tampak hasilnya, tetapi ia akan membersihkan hatimu seperti ember tua yang kini bersih. Ilmu juga akan membawa manfaat bagi sekitarmu, seperti air yang menyuburkan jalanan ini.”

Sang cucu menatap kakeknya dengan mata berbinar. Ia kini mengerti, bahwa menuntut ilmu bukan sekadar untuk hasil yang instan, tetapi untuk keberkahan yang lebih luas.

Sejak hari itu, ia tidak lagi mengeluh. Dengan semangat yang baru, ia terus belajar dan menuntut ilmu, karena ia tahu, walaupun ia tidak melihat hasilnya secara langsung, ilmunya akan bermanfaat, baik untuk dirinya maupun orang-orang di sekelilingnya.

Pelajaran dari kisah ini:
Ilmu adalah cahaya, ia membersihkan jiwa dan memberi manfaat kepada orang lain. Jangan pernah lelah menuntut ilmu, karena seperti air dalam ember bocor, meskipun sebagian tumpah, ia tetap membawa kehidupan di sekitarnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Saudaraku, mari teruslah menimba ilmu, karena ilmu adalah sumber keberkahan yang tak pernah habis!

=====================


Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, 11 Februari 2025
Catatan inspirasi kajian bersama Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.

Disclaimer:

Kisah ini merupakan cerita inspiratif yang telah dikembangkan untuk tujuan penyampaian pesan yang lebih bermakna. Meskipun diambil dari konsep atau hikmah tertentu, cerita ini bukanlah kejadian nyata atau riwayat yang bersumber dari referensi historis. Segala pengembangan dalam narasi bertujuan untuk memberikan motivasi, pembelajaran, dan refleksi yang lebih dalam bagi para pembaca.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar