Integritas “Tuhan” yang diuji oleh seekor lalat!

Ketika seseorang mengaku sebagai pemimpin, ia harus menunjukkan prestasinya. Jika seorang manusia yang ingin menjadi presiden harus memiliki rekam jejak dan pencapaian yang nyata, maka bagaimana mungkin sesuatu dikatakan sebagai Tuhan tanpa bukti dan kekuasaan yang jelas?

“Siapakah Tuhan yang menciptakan, memiliki, dan mengatur langit serta bumi?”

Hanya Allah yang bisa menjawab tantangan ini. Berhala tidak bisa melindungi dirinya sendiri dan sesajenya dari gangguan seekor lalat, apalagi memberikan pertolongan kepada manusia. Allah berfirman:

“Wahai manusia! Telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak akan dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali. Betapa lemah yang meminta (penyembah) dan yang diminta (berhala)!”
(QS. Al-Hajj: 73)

Keyakinan kepada Allah Sudah Fitrah dalam Diri Manusia

Ada sebagian orang yang mempertanyakan keberadaan Allah karena tidak bisa melihat-Nya atau berbicara langsung dengan-Nya. Namun, mereka yang berkata demikian sebenarnya sedang membohongi diri sendiri. Fitrah manusia sejak lahir sudah diatur (disetting) untuk bertuhan kepada Allah. Tetapi, karena nafsu dan godaan setan, banyak yang mengingkarinya.

Namun, ketika seseorang berada dalam kesulitan besar, fitrah itu akan muncul. Orang yang tidak pernah berdoa sekalipun, saat terjadi bencana seperti kebakaran atau kapal hendak tenggelam, akan secara naluriah memanggil Allah:

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan kembali kepada-Nya, tetapi ketika Dia memberi mereka rasa rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhan mereka.”
(QS. Ar-Rum: 33)

Dakwah sebagai Upaya Mengingatkan yang Lalai

Mereka yang ingkar kepada Allah mungkin melakukannya karena belum mendapatkan peringatan atau karena hati mereka tertutup oleh kesenangan dunia. Oleh karena itu, dakwah menjadi pekerjaan yang sangat penting. Tujuan dakwah adalah agar tidak ada manusia yang bisa berdalih bahwa mereka belum pernah diingatkan tentang kebenaran.

Allah berfirman:

“Dan agar aku (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada kalian dengan (Al-Qur’an) ini dan kepada orang yang sampai (kepada mereka berita)nya. Apakah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah? Katakanlah, ‘Aku tidak (dapat) bersaksi.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).'”
(QS. Al-An’am: 19)

Mengapa Menjadikan Selain Allah sebagai Tempat Bergantung?

Banyak orang yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tempat meminta pertolongan dan bergantung. Namun, selain Allah, tidak ada yang bisa memberikan manfaat atau menolak bahaya. Dalam Al-Qur’an, ada sekitar 17 ayat yang menegaskan bahwa tuhan selain Allah tidak bisa memberikan manfaat maupun bahaya.

Allah berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula mengubahnya.'”
(QS. Al-Isra: 56)

Umar bin Khattab pernah mengingatkan bahwa benda mati tidak bisa memberi manfaat dan bahaya. Ketika ada sahabat yang menaruh senjata di bawah pohon dengan keyakinan bahwa pohon itu memiliki keberkahan, Umar segera mengingatkan mereka bahwa tindakan tersebut menyerupai perbuatan Bani Israil yang meminta berhala untuk diberkahi.

Urutan “Manfaat dan Bahaya” dalam Al-Qur’an

Dalam beberapa ayat, Allah menyebutkan “dampak buruk” (ḍurr) terlebih dahulu sebelum “manfaat” (naf’), tetapi dalam ayat lain urutannya dibalik. Hal ini tergantung pada konteks ayatnya:

  • Jika ayat membahas sesuatu yang memberi kenikmatan, maka “naf’an” (manfaat) disebutkan lebih dulu, seperti hujan dan penciptaan bumi.
  • Jika ayat membahas sesuatu yang membahayakan manusia, maka “ḍurran” (bahaya) disebutkan lebih dulu.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah Tuhan langit dan bumi?’ Katakanlah, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Dia, padahal mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat dan tidak (pula) menolak bahaya bagi diri mereka sendiri?'”
(QS. Ar-Ra’d: 16)

Buta Mata vs. Buta Hati

Allah membandingkan orang yang memiliki cahaya keimanan dengan mereka yang hatinya gelap. Apakah sama orang yang buta dengan yang bisa melihat? Tidak sama!

“Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat? Mengapa kamu tidak memikirkan(nya)?”
(QS. Al-An’am: 50)

Kebutaan dalam Al-Qur’an ada dua jenis:

  1. Buta secara fisik (ḥaqīqī) → Seperti orang yang memang tidak bisa melihat sejak lahir.
  2. Buta secara spiritual (majāzī) → Orang yang hatinya tertutup dari kebenaran dan menolak hidayah.

Orang saleh zaman dahulu, meskipun ada yang buta, tetap bersyukur karena hatinya tidak buta. Sebaliknya, ada orang yang matanya sehat, tetapi hatinya buta terhadap kebenaran.

“Dan barang siapa di dunia ini buta (hati), maka di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya.”
(QS. Al-Isra: 72)

Allah, Tuhan yang Tidak Bisa Ditandingi

Apakah ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah? Apakah ada yang bisa menciptakan sesuatu seperti ciptaan Allah? Mustahil! Bahkan meniru saja tidak bisa.

Allah berfirman:

“Ataukah mereka menganggap ada tuhan-tuhan selain Allah yang menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga ciptaan itu serupa menurut mereka? Katakanlah, ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa.'”
(QS. Ar-Ra’d: 16)

Allah Al-Kahhar: Tuhan yang Memaksa tetapi Tidak Bisa Dipaksa

Dalam Al-Qur’an, Allah menggunakan nama Al-Kahhar (Yang Maha Memaksa) ketika membahas kekuasaan-Nya. Seorang raja yang zalim mungkin bisa memaksa rakyatnya, tetapi ia sendiri bisa dipaksa oleh keadaan atau ajal. Sementara Allah adalah satu-satunya yang bisa memaksa tanpa ada yang bisa memaksa-Nya.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Allah Pencipta segala sesuatu, dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa (Al-Kahhar).'”
(QS. Ar-Ra’d: 16)

Kesimpulan

Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Tidak ada yang bisa menandingi-Nya dalam mencipta, memberi manfaat, atau menolak bahaya. Manusia yang ingkar sebenarnya hanya menipu dirinya sendiri karena dalam hatinya, mereka tahu bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Oleh karena itu, tugas kita adalah menjaga iman dengan berdoa, berdakwah, dan terus mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga Allah menguatkan hati kita dalam keimanan. Aamiin.

======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, Selasa 4 Feb 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar