Saat semua benar-benar Mulai dari “NOL”

“Setiap kali kita mendengar kata “mulai dari nol“, semoga hati kita langsung teringat pada “mulai dari nol” yang sesungguhnya—saat kita bangkit di hari kiamat, tanpa harta, tanpa status, hanya amal yang menemani. Semoga…

{ یَوۡمَ نَطۡوِی ٱلسَّمَاۤءَ كَطَیِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡكُتُبِۚ كَمَا بَدَأۡنَاۤ أَوَّلَ خَلۡقࣲ نُّعِیدُهُۥۚ وَعۡدًا عَلَیۡنَاۤۚ إِنَّا كُنَّا فَـٰعِلِینَ }
[Surat Al-Anbiya’: 104]

Allah akan melipat langit dan membuka kembali catatan-catatan amal manusia. Ketika catatan amal itu telah ditutup, berakhirlah masa beramal di dunia. Darul amal (tempat beramal) akan berpindah ke darul jaza (tempat balasan). Setiap manusia akan menerima balasan sesuai amalnya, sebagaimana firman Allah:

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Pada hari itu, manusia akan hidup kembali dari nol, seperti saat pertama kali diciptakan—lemah, tak berdaya, tanpa pakaian, tanpa alas kaki, bahkan tanpa sunat. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah ﷺ:

“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum disunat.”
(HR. Bukhari no. 3349, Muslim no. 2860)

Kelompok pertama yang akan diberi pakaian adalah para nabi, dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendapat pakaian pertama kali. Dalam hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, apakah dalam kondisi seperti itu manusia akan saling memperhatikan? Rasulullah menjawab:

“Wahai Aisyah, perkara pada hari itu jauh lebih dahsyat sehingga mereka tidak sempat memperhatikan orang lain.”
(HR. Bukhari no. 6527, Muslim no. 2859)

Cerita sedikit, bayangkan gentingnya…

Suatu hari, sekelompok ibu-ibu sedang tidur, tiba-tiba seekor ular jatuh dari atap. Mereka langsung berlari terbirit-birit keluar rumah tanpa sempat memikirkan pakaian yang mereka kenakan. Setelah sampai di luar, barulah mereka sadar dengan kondisi mereka. Tanpa jilbab apalagi makeup. Bodo amat! pada saat itu, yang terpenting adalah keselamatan dari ular. Bisa dibayangkan ya bagaimana gawatnya komunitas emak-emak yang kejatuhan ular itu… Tentu kondisi hari kiamat jauh lebih mengerikan dari sekadar ancaman ular. itulah kenapa perkara pada hari itu jauh lebih dahsyat, sehingga mereka tidak sempat memperhatikan orang lain.”

Menghadap Allah Sendirian

Setiap manusia akan menghadap Allah sendirian, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sungguh, kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kamu pertama kali.”
(QS. Al-An’am: 94)

Yang akan menemani seseorang saat itu bukanlah harta, keluarga, atau jabatan, melainkan amal sholehnya. Inilah janji Allah yang pasti akan direalisasikan. Oleh karena itu, setiap mukmin harus memiliki keyakinan teguh terhadap hari kiamat, sebagaimana keyakinannya terhadap matahari yang pasti terbit dan tenggelam setiap hari.

Maka, penting bagi manusia untuk mengisi hidupnya dengan kebaikan dan amal sholeh, karena akhir kehidupan di dunia akan seperti ini.

Pewarisan Bumi untuk Orang Sholeh

Setiap wahyu yang Allah turunkan dalam bentuk kitab dan lembaran adalah petunjuk bagi manusia. Allah telah menegaskan bahwa bumi ini diperuntukkan bagi orang-orang sholeh:

“Dan sungguh, telah Kami tuliskan dalam Zabur setelah (tertulis) dalam Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang sholeh.”
(QS. Al-Anbiya: 105)

Jika penduduk bumi tidak mau menjadi sholeh, maka Allah akan menunda pewarisan bumi kepada mereka. Maka, marilah kita menjadi orang sholeh dan mendorong orang lain untuk sholeh agar bumi ini dimiliki oleh pemilik aslinya, yaitu orang-orang yang taat kepada Allah.

Sebagaimana dalam sejarah, sekuat apapun Firaun berusaha mempertahankan kekuasaannya, akhirnya Allah lenyapkan ia agar bumi dikuasai oleh orang-orang sholeh. Bagi orang beriman, ini adalah keyakinan tanpa ragu.

Al-Qur’an: Harus Sampai ke Semua Manusia

{ إِنَّ فِی هَـٰذَا لَبَلَـٰغࣰا لِّقَوۡمٍ عَـٰبِدِینَ }
[Surat Al-Anbiya’: 106]

Allah menyebut Al-Qur’an dengan kata “hadza” (ini) dalam beberapa ayat, tanpa menyebut langsung namanya. Hal ini bertujuan untuk menguji hati manusia, apakah mereka sadar bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur’an atau tidak.

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam.”
(QS. Asy-Syu’ara: 192)

Kata “balagh” dalam tafsir sering dimaknai sebagai “ilmu yang harus sampai”. Maka, tugas umat Islam adalah memastikan bahwa Al-Qur’an sebagai informasi dan hidayah harus sampai kepada semua manusia, baik yang sudah sadar maupun yang belum.

Jauh dari Al-Qur’an berarti jauh dari Allah. Jika seorang suami jauh dari istrinya, seorang anak jauh dari ibunya, atau seorang pasien jauh dari dokternya saja terasa tidak nyaman, maka bagaimana jika manusia jauh dari Penciptanya?

Fokus Menjadi Orang Sholeh dan Menambah Orang Sholeh

Tugas utama setiap muslim bukan hanya memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga menambah jumlah orang sholeh di dunia. Ini adalah kerja dakwah dan kerja rekrutmen dalam Islam. Fokuslah pada upaya menambah jumlah orang sholeh, agar bumi ini tidak dikuasai oleh orang-orang toleh (menyimpang).

Bahkan, bertemu dengan istri pun harus menjadi agenda menambah orang sholeh, dengan mendidik anak agar tumbuh menjadi hamba Allah yang bertakwa. Orang tua harus optimis bahwa anak-anak mereka akan menjadi sholeh, sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam yang tetap berdoa dan berusaha meskipun anaknya menolak hidayah.

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu benar, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’”
(QS. Hud: 45)

Maka, tidak ada kata putus asa dalam mendidik anak agar sholeh. Teruslah berikhtiar, berdoa, dan berdakwah. Agar Alquran ini sampai kepada orang-orang yang ‘abidin…

Kesimpulan

  1. Hari kiamat adalah kepastian di mana manusia akan dihidupkan kembali dalam kondisi tanpa pakaian dan hanya amal sholeh yang akan menyertai mereka.
  2. Bumi ini diperuntukkan bagi orang-orang sholeh dan akan diwariskan kepada mereka sesuai ketetapan Allah.
  3. Al-Qur’an harus sampai kepada semua manusia karena itulah sumber ilmu dan hidayah yang menyelamatkan.
  4. Menjadi sholeh dan menambah orang sholeh adalah tugas utama umat Islam agar bumi ini tidak dikuasai oleh orang-orang yang menyimpang.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang sholeh dan memberi kita kekuatan untuk terus mendakwahkan kebaikan. Aamiin.

======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, Senin 3 Februari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar