Inspirasi Kajian Al-A’raf Ayat 73
Ayat ini mengisahkan tentang diutusnya Nabi Shaleh kepada kaum Tsamud, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka, Shaleh. Ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sungguh telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda untukmu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang (karena itu) akan menyebabkanmu ditimpa azab yang pedih.'” (QS Al-A’raf: 73)
Makna “Akhaahum”
Kata “akhaahum” (saudara mereka) menunjukkan bahwa Nabi Shaleh berasal dari suku, marga, atau lingkungan yang sama dengan kaum Tsamud. Hal ini memudahkan proses dakwah karena beliau memahami bahasa, tradisi, dan kultur mereka. Seorang dai harus meneladani hal ini dengan memahami kondisi masyarakat yang didakwahi agar pesan dakwah lebih diterima.
Namun, tidak semua nabi menggunakan panggilan ini. Sebagai contoh, Nabi Isa tidak disebut dengan “akhaahum” bagi Bani Israil karena beliau lahir tanpa ayah, sehingga tidak dianggap sebagai bagian dari satu marga atau keturunan tertentu dalam tradisi mereka. Oleh karena itu, Nabi Isa tidak pernah menggunakan istilah “ya qoumi” (wahai kaumku) dalam dakwahnya.
Peninggalan Kaum Tsamud dan Kaum Ad
Kaum Tsamud yang tinggal di wilayah Hijr (sekarang Yordania) dikenal dengan kemampuan mereka membangun rumah dari gunung batu. Namun, Allah membinasakan mereka karena kesombongan dan kedurhakaan mereka kepada-Nya. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya menjadikan peninggalan sejarah sebagai pelajaran, terutama dalam hal keimanan kepada Allah.
Adab Mengunjungi Situs Peninggalan Orang Kafir:
- Jangan merasa takjub atau bahagia melihat kemegahan mereka, karena itu adalah bukti kehancuran akibat kedurhakaan.
- Perbanyak dzikir dan tadabbur, bahkan jika memungkinkan menangis sebagai bentuk peringatan atas dosa dan kebinasaan mereka.
- Jangan membawa atau mengambil apa pun dari tempat tersebut, karena itu dapat menghilangkan adab dan hikmah dari kunjungan.
Gaya Hidup Kaum Ad dan Tsamud
Kaum Ad dikenal sebagai kaum yang diberikan banyak kenikmatan oleh Allah, namun mereka sombong dan menentang Allah. Mereka dibinasakan sebagai peringatan bahwa gaya hidup yang melampaui batas, penuh kesombongan, dan mengabaikan Allah akan membawa kehancuran. Hal ini ditegaskan dalam QS An-Najm, di mana Allah mengingatkan kehancuran kaum yang diberi kenikmatan tetapi kufur kepada-Nya.
Inti Dakwah Para Nabi
Tema utama dakwah seluruh nabi adalah mengajak manusia untuk mendekat kepada Allah. Mereka menanamkan tauhid sebagai pondasi kehidupan. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu menjadikan ilmu sebagai jalan untuk kembali kepada Allah.
“Lisaana Sidhqin Fil-Aakhirin”
Peninggalan bernilai adalah yang mengandung pelajaran dan manfaat bagi generasi selanjutnya. Jangan seperti orang-orang yang membangun Borobudur atau bangunan lain yang hanya megah, namun tidak membawa manfaat bagi keimanan atau keberkahan mereka.
Kesimpulan
Kisah Nabi Shaleh dan kaum Tsamud adalah pelajaran penting tentang tauhid, adab, dan mengambil hikmah dari sejarah. Seorang dai harus memahami masyarakat yang didakwahi, memperbaiki niat, dan menjadikan semua upaya kembali kepada Allah. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini untuk memperkuat iman dan amal kita.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, Selasa 28 Januari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
