Antara tunduk patuh dan kemuliaan


1. Semua yang Disembah Selain Allah adalah Makhluk yang Lemah

Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 194:
“Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (hamba) seperti kamu. Maka serulah mereka, lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Ayat ini menegaskan bahwa segala yang disembah selain Allah, baik itu patung, manusia, atau makhluk lain, adalah sama-sama hamba Allah. Mereka tidak memiliki kekuatan apa pun, bahkan untuk menolong diri sendiri. Misalnya, Fir’aun, Lata, Uzza, atau Nabi Isa `alaihis-salam, semuanya adalah makhluk yang tidak lepas dari kebutuhan dasar seperti makan dan minum. Mereka tidak layak disembah, karena mereka sendiri membutuhkan Allah.

2. Perumpamaan Kelemahan Tuhan-Tuhan Palsu

Allah menyampaikan perumpamaan dalam QS. Al-Hajj: 73:
“Wahai manusia! Telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk membuatnya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan mampu merebutnya kembali darinya. Sangat lemahlah yang menyembah dan yang disembah itu.”

Ayat ini mengajak manusia untuk menggunakan akal sehat. Tuhan-tuhan yang mereka sembah, meskipun bekerja sama, tidak akan pernah bisa menciptakan makhluk sekecil lalat. Bahkan, mereka tidak bisa mengusir lalat yang mengambil sesajen yang dipersembahkan kepada mereka. Ini menunjukkan betapa lemahnya makhluk-makhluk yang dianggap sebagai tuhan tersebut.

3. Perumpamaan Kesesatan dalam QS. Az-Zumar: 29

Allah menggambarkan kesesatan dalam QS. Az-Zumar: 29:
“Allah membuat suatu perumpamaan: seseorang (budak) yang dimiliki oleh banyak tuan yang berselisih dan seorang (budak) yang hanya dimiliki oleh satu orang saja. Adakah kedua orang itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Makna ayat ini adalah perumpamaan seorang yang beribadah kepada banyak tuhan seperti budak yang dimiliki banyak majikan, yang selalu bertentangan satu sama lain. Hal ini membuatnya bingung dan tidak tahu harus mengikuti siapa. Sebaliknya, seorang yang hanya mengabdi kepada Allah, ia hidup dengan tenang karena hanya tunduk pada satu perintah, yaitu Allah.

4. Hikmah Peristiwa Perang Hunain

Dalam Perang Hunain, Rasulullah ﷺ memberikan harta rampasan perang kepada para muallaf (orang-orang yang baru masuk Islam) untuk menguatkan iman mereka. Sedangkan kaum Anshar yang telah kokoh imannya tidak mendapatkan bagian. Kaum Anshar sempat merasa kecewa, namun Rasulullah ﷺ menasihati mereka dengan khutbah yang penuh hikmah.

Beliau bersabda:
“Wahai kaum Anshar, tidakkah kalian rela jika orang-orang ini pergi dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah?”
Mendengar hal itu, kaum Anshar menangis dan menyadari bahwa mendapatkan Rasulullah di sisi mereka adalah nikmat yang jauh lebih besar dibandingkan harta duniawi.

Itulah contoh orang-orang yang sudah baik sujudnya kepada Alloh.

5. Ketundukan Makhluk kepada Allah

Semua makhluk di alam semesta, baik secara sukarela maupun terpaksa, tunduk kepada Allah. Hal ini dijelaskan dalam QS. An-Nahl: 48-49:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah, bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan bersujud kepada Allah, sedangkan mereka merendah diri? Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang ada di langit dan segala makhluk yang melata di bumi serta para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.”

Makna ayat ini adalah bayang-bayang dari setiap benda pun menunjukkan ketundukan kepada Allah. Bahkan, seluruh organ tubuh manusia seperti jantung, paru-paru, dan ginjal, yang bekerja tanpa diperintah, adalah bukti ketundukan kepada Allah.

6. Tafsir Mimpi tentang Awan dan Madu

Salah satu mimpi yang diceritakan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah ﷺ adalah tentang awan yang menurunkan madu. Rasulullah ﷺ menafsirkannya sebagai simbol Al-Qur’an. Orang yang menampung banyak madu adalah mereka yang banyak mengakses dan mengamalkan Al-Qur’an. Sedangkan yang sedikit atau tidak mendapat madu adalah mereka yang tidak peduli dengan Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mereka yang mengikuti ajaran Islam akan mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat.

7. Sujud: Ketundukan dan Kepatuhan kepada Allah

Sujud memiliki dua makna: secara bahasa berarti tunduk, dan secara istilah berarti beribadah kepada Allah, termasuk mendirikan shalat. Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang bersujud, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Tidaklah seorang hamba bersujud sekali saja kepada Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya satu tingkat dan menghapuskan satu dosa darinya.” (HR. Muslim)


Kesimpulan

  1. Syirik adalah perbuatan sia-sia karena makhluk yang disembah selain Allah tidak memiliki kekuatan apa pun.
  2. Semua makhluk, baik secara sukarela maupun terpaksa, tunduk kepada Allah.
  3. Orang yang ikhlas bersujud dan mengabdikan diri kepada Allah akan diangkat derajatnya.
  4. Mengamalkan Al-Qur’an adalah jalan menuju kemuliaan dunia dan akhirat.

Semoga kita semua senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah, menjauhi syirik, dan terus memperbaiki iman serta amal.

======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Isya, Selasa 28 Januari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar