
Terinspirasi dari kisah Nyata!
Prolog
Cinta seorang ibu tidak pernah lekang oleh waktu, tidak pudar oleh luka, dan tidak gentar oleh dosa.
Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu bernama Umi Khadijah terus memeluk harapan di tengah gelapnya perjalanan hidup anaknya, Ahsan.
Dalam sujud panjang qiyam dan doa yang lirih, ia percaya bahwa keajaiban hanya masalah waktu.
Bab 1: Malam yang Tak Bertepi
Hidup Umi Khadijah berubah drastis sejak Ahsan beranjak dewasa. Anak laki-lakinya yang dulu ceria kini berubah menjadi sosok asing. Setiap malam, Ahsan pergi tanpa pamit, kembali menjelang subuh, wajah semrawut seringkali menyelimutinya.
“Sudah makan, Nak?” tanya Umi lembut suatu malam, saat Ahsan membuka pintu rumah dengan mata merah.
Ahsan hanya mengangguk malas. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung masuk ke kamarnya. Umi hanya memandang punggungnya dengan senyuman khawatir. Setelah memastikan pintu kamar anaknya tertutup, ia kembali ke ruang tengah, membentangkan sajadah, dan menengadahkan tangan berlinangan air mata.
“Ya Allah, Engkau Maha Membolak-balikkan hati. Jangan biarkan anakku terjerumus lebih jauh. Hanya Engkau yang bisa mengetuk hatinya, ya Allah,” bisiknya di antara isak tangis yang semakin tak tertahan.
Bab 2: Kasih Tanpa Syarat
Tetangga sering bertanya dengan nada heran, “Khadijah, kenapa kamu nggak pernah marah sama Ahsan? Dia sudah terlalu jauh!”
Umi Khadijah hanya tersenyum, “Dia anak saya. Kalau bukan saya yang menyayanginya, siapa lagi? Saya yakin, Allah punya rencana baik untuknya.”
Keyakinan Umi tidak pernah goyah meski banyak yang menyebutnya sabarnya kelewatan, bahkan bodoh. Baginya, Ahsan adalah amanah dari Allah, dan tugasnya sebagai ibu “madrosatul ula” adalah mendoakan serta mendidiknya, bukan menghakimi.
Di sisi lain, Ahsan semakin terpuruk. Dunia malam yang awalnya terasa menggoda kini menjadi beban. Teman-temannya mulai menjauh dan hidupnya penuh cemooh. Ia mulai merasa lelah, tapi tak tahu bagaimana keluar dari kegelapan itu.
Bab 3: Malam yang Menyentuh Hati
Suatu malam, Ahsan pulang lebih awal dari biasanya. Ia membuka pintu perlahan dan melihat sosok Umi Khadijah tertidur di ruang tengah. Di sampingnya, sebuah Al-Qur’an terbuka dan air mata mengering di pipinya.
Ahsan terpaku. Ia tidak pernah benar-benar menyadari bagaimana ibunya selalu mendoakannya dalam Tahajud panjangnya, bahkan saat ia terus menyakiti hati perempuan yang telah melahirkannya.
Tanpa sengaja, matanya tertuju pada sebuah buku kecil di dekat sajadah. Itu adalah buku catatan doa Umi. Dengan tangan gemetar, ia membukanya dan membaca isi halaman pertama:
“Ya Allah, lindungi anakku Ahsan. Jadikan dia hamba-Mu yang bertakwa. Ampuni aku jika aku belum menjadi ibu yang baik untuknya.”
Ahsan merasakan sesuatu yang lama hilang:
P E N Y E S A L A N!
Bab 4: Awal yang Baru
Keesokan harinya, Ahsan memutuskan untuk tidak pergi keluar malam. Pagi itu menjadi pertama kalinya Ahsan sholat subuh, pertama kali juga berjamaah di masjid. Wajah Umi terkejut melihat Ahsan memakai sarung dan peci almarhum ayahnya, Ahsan berkata pelan, “Ummi, bolehkah aku memulai dari awal?”
Mata Umi berkaca-kaca. “Tentu, Nak. Terimakasih ya Allah…
Epilog
Bertahun-tahun kemudian, Ahsan telah berubah total. Ia mendirikan komunitas hijrah untuk anak-anak jalanan, berharap bisa membantu mereka menemukan jalan terang lebih awal.
Di dalam dompetnya, tersimpan sebuah foto tua. Foto itu adalah gambar Umi Khadijah, satu-satunya yang ia bawa ke mana pun ia pergi.
Ketika Umi bertanya suatu hari, “Kenapa masih menyimpan foto ini, Nak?”
Ahsan menjawab sambil tersenyum, “Karena Umi satu-satunya orang yang percaya dan menyayangi aku, bahkan saat aku tidak layak untuk disayangi.”
Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal batas. Dalam doa dan kasih sayangnya, selalu ada harapan untuk keajaiban.
=======================
“Nama, latar tempat, dan alur cerita telah disesuaikan, namun inti dan makna dari kisah ini tetap dipertahankan.”
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 27 Januari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
