Ketika Jihad dan Ilmu berpelukan

Inspirasi : Sunan Kalisari

Fiqratul Jihad dan Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam

Dalam ajaran Islam, rukun iman merupakan fondasi keyakinan yang harus dimiliki setiap Muslim. Namun, Imam Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa jihad fi sabilillah adalah ruh dari implementasi keimanan tersebut. Jihad di jalan Allah bukan sekadar perjuangan fisik atau qital (perang), tetapi juga meliputi jihad melawan hawa nafsu, proses belajar-mengajar, dan berjuang untuk kebenaran. Meski demikian, jihad qital tetap memiliki kedudukan khusus sebagai bagian dari fiqrah jihad yang seharusnya hidup dalam setiap jiwa Muslim.

Jihad dan Perjuangan Umat

Umat Islam seharusnya bangkit ketika ada saudara seiman yang tertindas. Hal ini didasarkan pada prinsip persaudaraan Islam yang melampaui batas etnis dan geografis. Namun, sering kali ada kelompok besar yang menghalangi terwujudnya pembelaan tersebut. Meski demikian, setiap Muslim masih memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang mampu mereka lakukan, baik dengan doa, muqata’ah (pemboikotan), atau bentuk dukungan lain. Palestina, misalnya, menjadi simbol perjuangan yang tak terpisahkan dari fiqrah jihad. Berkat adanya tokoh-tokoh yang menjaga ruh jihad, seperti Syekh Ahmad Yasin, semangat perjuangan tetap hidup.

Meskipun kita merasa kecil dibandingkan tokoh-tokoh besar seperti Syekh Ahmad Yasin, kita bisa mengikuti jejak mereka sesuai kemampuan kita. Jihad memiliki tingkatan yang sesuai dengan kapasitas setiap individu. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk takut berjihad di jalan Allah.

Menuntut Ilmu sebagai Bukti Keimanan

Menuntut ilmu adalah salah satu bentuk jihad. Al-Qur’an berbicara banyak tentang jihad, dan salah satu jihad yang bisa dilakukan adalah mencari ilmu. Syekh Hasan Al-Banna menyatakan bahwa apa pun niat kita untuk berjihad, maka itu adalah jihad, termasuk dalam upaya meningkatkan kualitas ilmu.

Namun, dalam menuntut ilmu, penting untuk memahami bahwa tujuan utamanya adalah mencari ridha Allah, bukan sekadar formalitas akademik atau mendapatkan gelar. KH. Abdul Aziz AR. menekankan bahwa ilmu yang diperoleh dengan niat ikhlas akan membawa keberkahan. Ilmu seperti ini, meskipun sedikit, memiliki kebermanfaatan yang luas bagi masyarakat.

Rocky Gerung juga menegaskan bahwa berilmu bukanlah tentang ijazah. Selama seseorang berpikir dan terus belajar, maka ia adalah orang yang berilmu. Keistiqamahan dalam menuntut ilmu menunjukkan bukti keimanan kepada Allah. Oleh karena itu, menuntut ilmu seharusnya dilakukan dengan adab dan ketulusan, bukan sekadar mengejar pengakuan formal.

Tatsbit dan Keutamaan Jihad

Allah memberikan motivasi kepada umat Islam agar tidak kehilangan fiqrah jihad dan ruh jihad. Salah satu bentuk motivasi tersebut adalah janji keutamaan bagi mereka yang berjihad. Orang-orang yang berjihad di jalan Allah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang duduk (qaa’idiin). Meski demikian, kedua kelompok ini tetap berada dalam kebaikan di sisi Allah.

Contoh penting adalah turunnya ayat 94 dengan tambahan “ghairu ulidhdharar.” Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang memiliki uzur syar’i, seperti Abdullah bin Ummi-Maktum, tetap dihargai niat dan keinginannya untuk berjihad, meskipun kondisi fisik menghalanginya.

Penutup

Syariat Allah selalu membawa kebaikan bagi siapa saja yang melaksanakannya, meskipun terasa berat. Keteguhan menjalankan syariat adalah bukti keimanan dan mendapatkan ganjaran besar dari Allah. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu menghidupkan fiqrah jihad dalam berbagai bentuk sesuai kemampuan.

Dengan menjaga semangat jihad dan keikhlasan dalam menuntut ilmu, umat Islam akan terus berada di jalan Allah dan mendapatkan keberkahan serta hidayah-Nya. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk terus berjuang di jalan-Nya.

=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 26  Januari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar