Surat Nuh adalah salah satu surah yang dinamai sesuai dengan nama nabi, menandakan peran penting Nabi Nuh dalam sejarah kenabian. Fokus utama surat ini adalah ishlaahunnaas (perbaikan manusia). Siapa pun yang berperan dalam memperbaiki umat termasuk dalam golongan ahsaanunnaas (sebaik-baiknya manusia), sebagaimana disebutkan dalam ayat: Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaas (QS. Ali Imran: 110).
Surat ini tidak menitikberatkan pada kisah kehancuran umat Nabi Nuh, melainkan pada amaliyah ishlaahunnaas, yaitu gerakan aktif memperbaiki umat. Dalam surat ini, Allah hanya menyebut penghancuran kaum Nabi Nuh secara singkat (QS. Nuh: 25), tetapi lebih menyoroti upaya dakwah panjang yang dilakukan Nabi Nuh meskipun menghadapi berbagai penolakan.
Motivasi untuk Ishlaahunnaas
Surat Nuh mengajarkan bahwa keterlibatan dalam ishlaahunnaas adalah tanggung jawab setiap muslim. Bahkan dalam kondisi apa pun, baik berhasil maupun tidak, sedikit atau banyak pengikutnya, kita tetap harus berperan. Keberadaan kita dalam jamaah menjadi pelengkap atas kekurangan individu, sebagaimana pohon kecil yang tumbuh besar dan bercabang, semakin kokoh bila dirawat bersama.
Segala kekurangan kita dapat teratasi dengan kehidupan berjamaah, sebagaimana firman Allah:
“Kazar’in akhraja syath’ahu fa-azarahu fa-istaghladha fa-istawa ‘ala suuqihi” (QS. Al-Fath: 29).
Kesabaran dalam Dakwah
Kesabaran menjadi kunci dalam menjalankan dakwah. Allah memerintahkan “Fashbir shabran jamiilan” (QS. Al-Ma’arij: 5). Kesabaran ini diperlukan karena dakwah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan keteguhan dan visi yang jelas terhadap tujuan akhir. Orang beriman melihat tujuan dakwah sebagai sesuatu yang dekat (wanaraahu qariiba), meskipun kenyataannya membutuhkan waktu lama.
Tarbiyah dan Jiwa Dakwah
Tarbiyah atau pendidikan keimanan menjaga jiwa para da’i dari kelalaian (ghaflah), sehingga mereka tetap optimis meski menghadapi banyak tantangan. Semangat Nabi Nuh dalam berdakwah adalah contoh nyata bagaimana ruhaniyyah (spiritualitas) menjadi pendorong utama meskipun umatnya menolak dengan terang-terangan.
Allah berfirman tentang Nabi Nuh:
“Dan tidak beriman bersama Nuh kecuali sedikit”. (QS. Hud: 40)
Namun, Nabi Nuh tetap berdakwah tanpa henti karena ruhaniyyah yang kokoh. Semangat ini relevan bagi para da’i, bahwa keberhasilan bukan diukur dari jumlah pengikut, melainkan dari keteguhan dan keikhlasan dalam menjalankan tugas.
Menjaga Keikhlasan dalam Dakwah
Dakwah tidak boleh menjadi sarana mencari imbalan duniawi (irtizak). Nabi Nuh menegaskan dalam dakwahnya:
“Aku tidak meminta imbalan apa pun kepada kalian; imbalanku hanyalah dari Allah.” (QS. Hud: 29)
Bagi para da’i, rezeki yang diperoleh dalam dakwah harus menjadi sarana untuk memperluas manfaat dakwah, bukan tujuan akhir. Keikhlasan ini menjauhkan mereka dari sifat materialistis dan menjaga hubungan dengan Allah.
Kesimpulan
Surat Nuh mengajarkan kita bahwa:
- Dakwah adalah tanggung jawab bersama. Setiap muslim harus terlibat dalam ishlaahunnaas meski hanya sedikit kontribusinya.
- Kesabaran adalah kunci. Panjangnya perjalanan dakwah memerlukan kesabaran yang indah (shabran jamiilan).
- Keikhlasan menjaga kualitas dakwah. Hanya Allah yang menjadi tujuan, bukan imbalan duniawi.
- Tarbiyah memperkuat ruhaniyyah. Tarbiyah membentuk jiwa yang tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan dakwah.
Semoga kita senantiasa menjadi bagian dari gerakan ishlaahunnaas dan terinspirasi oleh perjuangan Nabi Nuh dalam menyebarkan kebaikan. Wanarahu qariiba, kita melihat tujuan akhir sebagai sesuatu yang dekat, yaitu ridha Allah dan surga-Nya.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 24 Januari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
