Istighfar adalah bentuk permohonan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang merupakan ibadah agung sekaligus tanda penghambaan manusia kepada Rabb-nya. Istighfar memiliki banyak keutamaan, baik sebagai penghapus dosa maupun pembuka pintu keberkahan. Mari kita bahas dua kondisi istighfar: pertama, sebagai bentuk taubat atas kesalahan, dan kedua, sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah.
1. Istighfar karena Melakukan Kesalahan
Kondisi ini adalah yang paling umum dikenal. Ketika seorang hamba menyadari telah melakukan dosa atau kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak, ia dianjurkan untuk segera beristighfar dan bertaubat. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Dalil Al-Qur’an
Allah berfirman:
“Dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Muzammil: 20)
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar adalah sarana penting untuk mendapatkan ampunan Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi, no. 2499)
Dengan istighfar, seorang hamba mengakui kesalahannya, menyesali perbuatannya, dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi.
Contoh Praktis:
Kisah Nabi Adam ‘alaihis salam adalah teladan istighfar karena kesalahan. Ketika beliau melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah dari pohon terlarang, beliau segera beristighfar:
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf: 23)
2. Istighfar sebagai Ekspresi Rasa Syukur
Selain sebagai bentuk taubat, istighfar juga dapat dilakukan sebagai wujud syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya. Istighfar ini menunjukkan kerendahan hati hamba yang merasa bahwa ia belum mampu menyempurnakan ibadah dan ketaatan kepada Allah.
Dalil Al-Qur’an
Allah memuji orang-orang yang beristighfar dalam keadaan penuh ketaatan:
“Dan orang-orang yang beristighfar di waktu sahur.”
(QS. Ali ‘Imran: 17)
Ayat ini merujuk pada orang-orang yang istiqamah dalam ibadah malam. Meskipun mereka telah menghabiskan malam dalam ketaatan, mereka tetap beristighfar, menyadari bahwa ibadah mereka belum tentu sempurna di hadapan Allah.
Dalil Hadis
Rasulullah ﷺ sendiri, meskipun telah dijamin surga, tetap memperbanyak istighfar sebagai bentuk rasa syukur. Beliau bersabda:
“Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”
(HR. Bukhari, no. 6307)
Ini menunjukkan bahwa istighfar adalah bagian penting dari rasa syukur kepada Allah atas segala karunia-Nya, baik yang disadari maupun tidak.
Kesimpulan
Istighfar adalah ibadah yang tidak hanya dilakukan saat seseorang merasa bersalah, tetapi juga saat seseorang ingin menyempurnakan rasa syukurnya kepada Allah. Kedua kondisi ini saling melengkapi:
- Istighfar karena dosa menunjukkan pengakuan akan kelemahan diri dan kebutuhan akan rahmat Allah.
- Istighfar sebagai syukur menunjukkan kesadaran akan nikmat Allah yang begitu besar, yang tidak akan pernah mampu dibalas secara sempurna.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa beristighfar dalam segala kondisi, baik sebagai bentuk taubat maupun wujud rasa syukur. Wallahu a’lam bish-shawab.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 23 Januari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
