Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa hidayah adalah nikmat agung yang hanya diberikan kepada hamba-hamba yang ikhlas dalam mencari kebenaran. Namun, ada dua hal utama yang disebutkan dalam Surah Al-Ahqaf yang menjadi penghalang seseorang dari hidayah. Kedua hal ini mencerminkan penyakit hati dan perilaku yang menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.
1. Mengolok-olok Hidayah dan Al-Qur’an
Salah satu ciri utama orang yang terhalang dari hidayah adalah sikap meremehkan atau mengolok-olok Al-Qur’an, yang merupakan sumber utama hidayah. Dalam Surah Al-Ahqaf ayat 7-8, Allah menyebutkan bahwa orang-orang kafir menuduh Al-Qur’an sebagai sihir atau kebohongan yang dibuat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, orang-orang yang kafir berkata kepada yang benar (Al-Qur’an) ketika datang kepadanya, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (QS. Al-Ahqaf: 7)
Tidak hanya itu, mereka juga merendahkan orang-orang yang menerima hidayah, seperti Bilal bin Rabah dan para sahabat lainnya, dengan mengolok-olok status sosial mereka sebagai orang miskin atau kaum rendahan. Sikap ini menunjukkan kesombongan hati yang menjadi penghalang seseorang untuk menerima kebenaran.
Allah mengingatkan bahwa orang-orang yang mencela ayat-ayat-Nya dan menolak kebenaran dengan kesombongan akan dijauhkan dari petunjuk. Hal ini sejalan dengan firman-Nya:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku.” (QS. Al-A’raf: 146)
2. Berilmu tetapi Tidak Istiqamah
Penghalang kedua yang disebutkan adalah ketidakkonsistenan dalam memegang hidayah meskipun seseorang memiliki ilmu. Contoh yang tragis adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang ahli Al-Qur’an yang memiliki ilmu agama, namun tersesat akibat tidak mampu menjaga istiqamah. Hatinya terfitnah oleh hawa nafsu hingga tega membunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, salah satu Khulafaur Rasyidin yang mulia.
Sikap tidak istiqamah ini menunjukkan lemahnya hubungan dengan Allah. Allah berfirman:
“Maka tetaplah istiqamah (di jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud: 112)
Orang yang tidak istiqamah mudah terjerumus dalam fitnah dunia, baik itu harta, kedudukan, atau bahkan cinta yang berlebihan terhadap makhluk. Jika seseorang tidak menjaga hubungan dengan Allah melalui istiqamah, maka Allah tidak akan menolongnya di saat fitnah melanda.
Penutup
Kedua hal ini, yakni mengolok-olok hidayah dan tidak istiqamah, adalah penghalang utama seseorang untuk mendapatkan hidayah Allah. Kunci untuk terhindar dari keduanya adalah menjaga hati dari kesombongan dan selalu berusaha istiqamah dalam keimanan. Hidayah hanya diberikan kepada mereka yang tunduk kepada kebenaran dan bersungguh-sungguh mencari ridha Allah.
Sebagai solusi agar tetap istiqomah dan terhindar dari penghalang hidayah, Allah mengajarkan kita untuk senantiasa memohon perlindungan dan petunjuk-Nya. Salah satu doa yang sangat dianjurkan adalah doa berikut:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytanaa wahab lanaa min ladunka rahmatan, innaka Antal-Wahhaab.
Artinya:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi kami petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkau-lah Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)
Doa ini adalah bentuk pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia dan permohonan agar Allah menjaga hati kita tetap teguh di atas jalan-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa istiqamah dalam keimanan dan menjauhkan kita dari sikap yang menghalangi hidayah. Wallahu a’lam.
=======================
Hisyam Khoirul Azzam
Bada Subuh, 22 Januari 2025
Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
